m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 1/5HOME BERITA TERBARU TENTANG KAMI FAQ ...
m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 2/5Nasionalisme Menghancurkan KhilafahAp...
m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 3/5yaitu: Lembah Eufrat dan Tigris, Laut...
m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 4/5Khilafah; (2) Mengasingkan keluarga U...
m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 5/5Mail (required, but not published)Web...
of 5

Nasionalisme penyebab utama kehancuran Khilafah

Published on: Mar 3, 2016
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Nasionalisme penyebab utama kehancuran Khilafah

  • 1. m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 1/5HOME BERITA TERBARU TENTANG KAMI FAQ DEKSTOPNasionalisme: Penyebab Utama Kehancuran KhilafahAugust 1st, 2007 by solihanUmat Islam memang disebut Allah Swt. sebagai khayru ummah (umatterbaik) yang diturunkan di tengah manusia. Namun, secara faktual siapa puntahu, umat Islam saat ini—di bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial maupun budaya—bukanlahumat terbaik. Banyak faktor penyebabnya, namun salah satunya yang paling menonjol adalah karenaperpecahan. Penyebab utamanya adalah nasionalisme. Maksudnya, 1,4 miliar umat Islam saat ini hidupterpecah di 57 negara bangsa (nation-state) yang berdiri atas dasar paham nasionalisme.Kondisi ini tentu saja membuat umat menjadi sangat lemah. Selain tidak mampu menjaga ’izz al-Islâmwa al-Muslimîn, mereka juga gagal membendung setiap pengaruh buruk yang datang dari luar, diantaranya:1. Makin kokohnya penjajahan dalam berbagai bentuknya, baik di lapangan ekonomi (melaluipemberian utang utang luar negeri dan sebagainya), di bidang politik (melalui pahamsekularisme, demokrasi, HAM dan sebagainya), maupun di bidang budaya (melalui budayaBarat yang permisif) dan sebagainya.2. Terjadinya pertikaian antar negeri Muslim akibat perbedaan kepentingan dan politik devide etimpera. Misalnya antara Iran–Irak, Indonesia-Malaysia, atau antara Irak dan Kuwait.3. Lemahnya kekuatan umat dalam menghadapi musuh. Nasionalisme membuat negeri-negeriMuslim sulit bersatu sehingga tidak mampu menghadapi musuh. Penyerbuan AS atas Irakberlangsung begitu saja tanpa sedikitpun bisa dicegah oleh negeri-negari Muslim.Apa itu Nasionalisme?Nasionalisme menurut Hans Kohn diartikan sebagai “keadaan pada individu yang dalam pikirannyamerasa bahwa pengabdian paling tinggi adalah untuk bangsa dan tanah air”. Nasionalismesesungguhnya ide absurd, tidak mengandung suatu pengertian yang pasti, yang muncul dari hawa nafsuegoisme jahiliah semata.VIDEO FOTO KEGIATAN
  • 2. m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 2/5Nasionalisme Menghancurkan KhilafahApa hubungan antara nasionalisme dan kehancuran Khilafah? Menurut Ahmad Zain dan Najah MA,paham nasionalisme diyakini merupakan penyebab utama runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Mengutippakar sejarah Mahmud Syakir dalam buku Târîkh Islâm Dawlah Utsmaniyah, Najah menyebutkanbahwa sarana untuk menghancurkan kekuatan pemerintahan Islam di Turki waktu itu adalah denganmenghidupkan paham nasionalisme.Mungkin hal yang terpenting adalah kelompok yang bergerak untuk menyebarkan paham nasionalisme,mereka tidak mempunyai gerakan yang berarti untuk meruntuhkan Daulah Islamiyah kecuali dengan“menyebarkan paham nasionalisme”. Oleh karena itu, mereka bekerja keras untuk mencapai tujuantersebut. Ternyata paham nasionalisme tersebut merupakan unsur terpenting di dalam melemahkankekuatan Daulah Islamiyah, karena umat Islam, dengan nasionalisme, akan tercerai-berai, salingberselisih; masing-masing ingin bergabung dengan suku dan kelompoknya, ingin melepaskan diri darikekuasaan Daulah. Cukuplah dengan gerakan untuk memisahkan diri tersebut akan terkotak-kotaklahkekuatan umat. Dengan demikian, Daulah akan melemah dan terputus jaringannya dan akhirnyaambruk…Begitulah yang terjadi. (Mahmud Syakir, Târîkh Islâm, Al-Maktab Islami, 1991 M, VIII/122).Bermula dari munculnya berbagai propaganda ke arah nasionalisme yang dipelopori oleh PartaiPersatuan dan Pengembangan, mereka memulai gerakannya dengan men-Turki-kan Daulah Utsmaniahdi Turki. Untuk menopang dakwahnya ini, mereka menjadikan serigala (sesembahan bangsa Turkisebelum datangnya Islam) sebagai syiar dari gerakannya tersebut. (Muhammad Muhammad Husain,Ittijâhât Wathaniyah, II.85).Partai yang dipimpin oleh Ahmad Ridha dan berpusat di Paris ini juga berusaha menyebarkan rasapermusuhan terhadap bangsa Arab, di antaranya dengan adanya usaha untuk mencopot KementerianWakaf, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Luar Negeri, yang waktu itu dipegang oleh orang-orang Arab, untuk diganti dengan orang Turki. Mereka juga berusaha membatasi keistimewaan yangdiberikan Utsmaniah hanya kepada bangsa Turki saja. (Muwafiq Bani Marjah, Sulthan Abdul Hamiddan Khilafah Utsmaniah, hlm. 174).Gerakan itu membuat bangsa Arab berang. Akibatnya, dalam waktu singkat bermunculan gerakan“fanatisme Arab” dan dengan cepat menyebar di seluruh wilayah pemerintahan Utsmaniah, seperti diMesir, Syam, Irak, dan Hijaz.Bermula dari pelataran bumi Syam, fanatisme ini berkembang dan membesar ke berbagai negara.Fanatisme ini bertujuan untuk menumbangkan Khilafah Utsmaniah yang dipegang oleh orang Turki.Lebih ironis lagi, fanatisme ini dikendalikan oleh orang-orang Nasrani Libanon, yang telah terbina dalampendidikan Barat. Di antara para tokohnya adalah Faris Namir dan Ibrahim Yasji. Gerakan fanatismeArab ini didorong lebih jauh lagi oleh Negib Azoury, seorang Kristen pegawai pemerintahan Utsmani diPalestina. Ia berhasil menerbitkan buku Le Revell de la Nation Arabe. Di dalam bukunya tersebut, iamengutarakan gagasannya untuk membuat suatu Arab empire yang mempunyai batas-batas alami,
  • 3. m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 3/5yaitu: Lembah Eufrat dan Tigris, Lautan India, Terusan Suez, dan Lautan Tengah. Gagasan ini jelasakan mendorong lebih cepat terciptanya separatisme wilayah Arab dari kekuasaan Turki Utsmani(Azyumardi Azra, Islam dan Negara: Eksperimen dalam Masa Modern).Pada tahun 1914-1918 pecah Perang Dunia I; kesempatan bagi bangsa-bangsa Arab untukmemisahkan diri dari Khilafah Utsmaniah. Mereka ingin mendirikan “Khilafah Arabiyah” sebagaitandingannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Inggris untuk menghancurkan kekuatan Islam.Eropa mengerti betul bahwa perpecahan antara Arab dan Turki mengakibatkan kekuatan Islam lemah,sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Muhammad Abduh:Sesungguhnya bangsa Arab mampu mendepak orang-orang Turki dari kursi Kekhalifahan. Akan tetapi,bangsa Turki tidak rela begitu saja. Apalagi waktu itu bangsa Turki mempunyai kekuatan militer yangtidak dimiliki oleh pihak lain. Dengannya mereka akan menyerang dan membunuh bangsa Arab. Makajika kedua kekuatan itu melemah, Eropalah yang menjadi kuat. Mereka sudah lama menunggu antarapertarungan umat Islam tersebut, kemudian berusaha untuk menguasai kedua bangsa tersebut atausalah satunya yang terlemah. Padahal waktu itu bangsa Arab dan bangsa Turki merupakan bangsayang terkuat di dalam tubuh umat Islam. Oleh karenanya, akibat dari pertarungan kedua bangsa itu, jelasakan kekuatan Islam menjadi lemah sekaligus merupakan jalan pintas meunuju kehancurannya. (Dr.Muhammad Imarah, Al-Jam‘iyah al-Islâmiyyah wa al-Fikrah al-Qawmiyyah, Dar asyu-Syuruq, 1414-1994, hlm. 53, 54).Mengetahui yang demikian, diutuslah “Lorence”, spionis Inggris didikan Yahudi, yang dikemudian haridikenal dengan “Lorence Arab”. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, akhirnya Revolusi Arabberhasil menghantam kekuatan Khilafah Utsmaniah di Turki, tentunya di bawah bimbingan dan arahanLorence Arab ini.Tentara-tentara Arab berkumpul dan bersatu dengan kekuatan-kekuatan asing. Jauh hari sebelumpersekongkolan untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniah itu dilakukan, Inggris telah menjanjikan SyarifHusain, pembesar Makkah waktu itu, bahwa jika Khalifah Utsmaniah jatuh maka Syarif Husain akanmenjadi khalifah pengganti.Namun kenyataannya, setelah rencana itu berhasil dan perang telah usai, Inggris mengingkari janji itu.Dua perwakilan yang diundang Syarif Husain dalam acara penyerahan kekuasaan yang diadakan diJeddah tak hadir. Bahkan pada waktu itu Inggris membuka rahasia yang selama ini disimpan, yakniternyata tiga negara besar (Inggris, Prancis dan Rusia) telah berkolusi untuk membagi wilayah KhilafahUtsmaniah di antara mereka. Pada waktu itu juga, Musthafa Kemal telah berhasil merebut tampukkepemimpinan dari keluarga Utsmaniah. Tampaknya hal itu telah direncanakan jauh sebelumnya, yaituketika ia memimpin gerakan Kamaliyun, yang melakukan aktivitasnya di bawah tanah. Gerakan inimendapat dukungan penuh dari gerakan Masuniah Internasional. (Dr. Jamal Abdul Hadi, Al-Mujtama‘al-Islâmi al-Mu‘âshir, Al-Wafa’, I/59).Puncaknya, pada Konferensi Luzone akhirnya Musthafa Kemal menerima 4 syarat yang diajukan Inggrisuntuk mengakui kekuasaan barunya di Turki. Keempat syarat itu adalah: (1) Menghapus sistem
  • 4. m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 4/5Khilafah; (2) Mengasingkan keluarga Utsmaniah di luar perbatasan; (3) Memproklamirkan berdirinyanegara sekular; (4) Pembekuan hak milik dan harta milik keluarga Utsmaniah. (Mahmud Syakir, Târîkhal-Islâm, VIII/233).Setelah enam abad memimpin dunia, membela kemuliaan Islam dan umatnya, “The Old Sick-Man”akhirnya tumbang. Runtuh bukan karena serangan dari musuh-musuh luar, tetapi di tangan putra-putranya sendiri. Setelah keruntuhan benteng terakhir umat Islam itu, bangsa Arab sadar, bahwamereka telah terkecoh rayuan Inggris dan secara tidak sadar ikut andil di dalam meruntuhkan KhilafahUtsmaniyah. Namun, mereka tidak mampu berbuat apa-apa lagi.Kegagalan mendirikan Khilafah Arabiyah membuat mereka kehilangan nyali untuk mulai bergerak lagi.Mereka telah menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang kehilangan induknya. Kalaupun ada usaha-usaha mereka, yang sempat ditulis sejarah untuk mengembalikan kemuliaan mereka kembali, itu punhanya sebatas surat-menyurat antara Syarif Husain dan Musthafa Kemal. Akan tetapi, apa yangdiharapkan bangsa Arab dari seorang fanatik Turki yang membenci bangsa Arab itu sendiri? Begitulahpermisalan setan ketika ia berkata kepada manusia “Kafirlah!” Tatkala ia telah kafir, tiba-tiba setanberlepas diri.Pada detik-detik keruntuhan Khilafah Utsmaniyah, nun jauh di sana orang-orang Nasrani berpesta-pora.Kesempatan yang mereka tunggu berabad-abad telah tiba; kedengkian dan kesumat selama ini telahtersampaikan. Jenderal Ghordh, pimpinan pasukan Prancis berdiri di depan makam Shalahudin al-Ayyubi seraya berteriak, “Wahai Shalahudin, kami datang kembali.”Dunia Islam diselimuti kabut tebal dan kita tak tahu kapan kabut itu berubah menjadi cahaya terangkembali. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.[Muhammad Ismail Yusanto]Baca juga :1. Rezim Iran Mengadopsi Nasionalisme Persia Bertopeng Islam2. Kehancuran Dunia: Penyebab dan Solusinya (Tafsir Qs Al-Rum[30]: 41)3. Derita Rohingnya, Buah Nasionalisme dan Ketiadaan Khilafah4. Iran Bergerak Menuju Nasionalisme Yang Lebih Besar5. Penerapan Demokrasi Sekuler Penyebab Utama KorupsiTweetTweet 0Posted in Opini | No commentsPrevious post: Khilafah: Prioritas UtamaNext post: Menyikapi Konflik Masa LaluLeave a commentName (required)Like 0
  • 5. m.hizbut-tahrir.or.id/2007/08/01/masionalisme-penyebab-utama-kehancuran-khilafah/ 5/5Mail (required, but not published)Websitehttp://CommentSubmit commentHOME BERITA TERBARU TENTANG KAMI FAQ DEKSTOPKantor Pusat Hizbut Tahrir Indonesia:Crown Palace A25, Jl Prof. Soepomo No. 231, Jakarta Selatan 12390Telp/Fax: (62-21) 83787370 / 83787372, Email: info@hizbut-tahrir.or.id

Related Documents