YAKUZA,
BUKAN HANYA SEKADAR KRIMINAL!
Di suatu pagi yang cerah, ketika sinar mentari menyusup di sela-sela jendela, seoran...
Titik : “Salam kenal juga ya Hikaru. Nama saya Titik.
Hikaru: “Hai! Yoroshiku.”…
Anis : (melihat dua bandulan tas Hikaru y...
Hikaru: (menggeleng) "Memangnya ada berita apa?"
Titik : "Ng ... gimana ya ngasih taunya .... Duh, lo aja deh yang ngasih ...
mengalir dari pelupuk mata) “Wakarimashita. Arigatou ....” (memeluk Anis dan Titik secara
bergantian sebelum akhirnya perg...
of 4

Naskah Drama Musikal - Yakuza, Bukan Hanya Sekadar Kriminal

This drama presented for "Lomba Drama Musikal Terpendek di Dunia By ENJUKU". Credits: Script Writer -- Latonia Manik Badra & Anis Maryani Hikaru -- Latonia Manik Badra Song Writer -- Anis Maryani Acoustic Player -- Titik Wijayanti Narrator -- Aliyah Nurfina Operator/Sensei -- Saskia Disa Savitri
Published on: Mar 3, 2016
Published in: Entertainment & Humor      
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Naskah Drama Musikal - Yakuza, Bukan Hanya Sekadar Kriminal

  • 1. YAKUZA, BUKAN HANYA SEKADAR KRIMINAL! Di suatu pagi yang cerah, ketika sinar mentari menyusup di sela-sela jendela, seorang mahasiswi terlihat gelisah. Namun atas alasan suatu kejadian, kegelisahan itu pun dengan cepat berubah menjadi suatu kegembiraan. Apakah gerangan yang membuatnya demikian? Anis : (mendekati kursinya dengan terburu-buru, panik) "Duh ... gila gila gila! Gue belom ngerjain PR sama sekali!" Titik : (duduk di kursinya dengan bingung) "Hah? Itu kan udah dari seminggu yang lalu." Anis : "Please gue gak ngerti ...! Oke mana sini punya lo. Ajarin gue." Titik : “Ck, ngerepotin aja.” (Saat Titik hendak mengeluarkan PR-nya, mereka dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka) Dosen: "Ohayou gozaimasu." Anis&Titik: (terkesiap) "O-ohayou." Anis : (menepuk dahinya, menggumam) Duh, mati gue .... Dosen: "Minnasan, kyou wa kaigi ga arimasukara, sensei tidak bisa mengajar kalian dulu.” Anis : (berseru dalamhati) Yes! Dosen: "Demo ne ... hari ini kita kedatangam seorang mahasiswi pertukaran pelajar." (Memanggil mahasiswi tsb yang semula berada di luar kelas) "Hikaru, kocchi." Anis&Titik: (saling pandang) Siapa ya? Hikaru: "Shitsureishimasu. Hajimemashite. Etto ... salamkenal. Nama saya Hikaru. Yoroshiku." Anis&Titik: (saling pandang dengan senang) Wah ... orang jepang! Dosen: "Nah, ini dia Hikaru, mahasiswi dari Jepang. Sebenarnya dia ini bisa Bahasa Indonesia lho. Tapi ... ya ... meskipun belum terlalu lancar sih. Sensei titip dia ya. Buat dia nyaman disini, oke?" Anis : (menggerakkan tangannya seperti posisi hormat) "Ryoukai!" Dosen: “Sa ... Hikaru, asoko ni suwatte kudasai.” Hikaru: “Hai!” (Sensei pun meninggalkan kelas, lantas Hikaru duduk di kursi yang sudah disediakan. Anis dan Titik pun mendekatinya, bermaksud untuk berkekenalan) Anis : “Ne, ne, Hikari ... eh, nama lo bener Hikari kan?” Hikaru: “Etto ... Hikaru desu. Hi-ka-ru, ru desu.”… Titik : “Tuh kan tadi dia bilangnya Hikaru, bukan hikari!” Anis : “E? Gomenasai! Hi-ka-ru-chan ... hajimemashite, watashi wa Anis desu. Yoroshiku."
  • 2. Titik : “Salam kenal juga ya Hikaru. Nama saya Titik. Hikaru: “Hai! Yoroshiku.”… Anis : (melihat dua bandulan tas Hikaru yang bertuliskan dan berlambangkan Yakuza) “Yakuza?” (menatap Hikaru) “Lo ngefans sama Yakuza?” Hikaru: “H-hai ....” (mendengar jawabannya, Anis dan Titik tertawa) “Memangnya kenapa ...?” Titik : “Kok lo bisa sih ngefans sama Yakuza? Mereka kan penjahat.” Anis : “Yah ... meskipun penampilannya keren sih.” Hikaru: (mengelum bibirnya) “Iie. Mereka tidak seperti yang kalian pikir. Kalian tidak tahu sisi positif Yakuza ....” Anis : “Masa sih, organisasi kriminal kayak gitu punya sisi positif ...?” (melihat Hikaru yang nampak sedih, ia pun merasa bersalah) “Hi-hikaru ....” Titik : “Aduh, maaf ya ... kita ... kita gak maksud buat ngejelek-jelekkin kayak gitu kok—” Hikaru: “Daijoubu. Kalian hanya tidak mengerti ....” (membuang mukanya ke sisi lain) (Anis dan Titik saling berpandangan. Mereka merasa bersalah, mereka ingin menghibur Hikaru. Mereka pun menyanyikan sebuah lagu persahabatan untuk Hikaru. Dan Hikaru, gadis Jepang itu akhirnya tidak merasakan sedih lagi. Sesekali ia mengikuti gerakan kedua temannya) Anis : “Hikaru ....” Anis&Titik: (saling merangkul) “Do you wanna be our bestfriend?” Hikaru: (terharu) “Minna ....” (mengepalkan kedua telapak tangannya, lalu mengangguk) “Un!” Titik : “Kalo begitu kamu jangan sedih lagi dong.” (Anis dan Titik masing-masing merangkul sebelah bahu Hikaru, menuntunnya pergi keluar kelas) Akhirnya Hikaru pun memiliki teman-teman yang menyayanginya. Mereka menjadi sahabat baik, mereka selalu menghabiskan waktu istirahat bersama, saling mengajari, dan semacamnya. Namun kebahagiaan mereka saat itu ternyata tak bertahan lama, karena beberapa hari kemudian terjadi sebuah bencana di tanah kelahiran Hikaru. Salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Jepang meledak dan menimbulkan radiasi yang cukup berbahaya. Anis dan Titik mengetahui berita tersebut dari sebuah program berita di televisi. Mereka pun bertemu di taman kampus. (Anis dan Titik terlihat gelisah, lalu tiba-tiba Hikaru datang) Hikaru: "Konnichiwa." (Bingung melihat Titik dan Anis yang gelisah) "Nani at-tan-da ...?" Titik : "Lo ... belom ... denger ... berita, Hikaru ...?"
  • 3. Hikaru: (menggeleng) "Memangnya ada berita apa?" Titik : "Ng ... gimana ya ngasih taunya .... Duh, lo aja deh yang ngasih tau, Nis." Anis : "A ... jadi gini, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Jepang ..." (berhenti sebentar sebelum melanjutkan, membuat Hikaru penasaran) "... me-meledak ...." Hikaru: (membulatkan matanya, terkejut) "H-HONTOU NI??"(Titik dan Anis mengangguk dengan ragu) “Kalau begitu saya harus pulang!” (Anis dan Titik menatap Hikaru dengan terkejut) Titik : (menggenggam lengan Hikaru) “Please, jangan. Gue denger disana masih ada radiasi yang cukup berbahaya dari hasil ledakan itu. Mendingan lo ajak keluarga lo ngungsi disini aja.” Hikaru: (melepaskan genggaman Titik, lantas bergerak beberapa langkah perlahan dengan sedih) “Dame. Mungkin saja keluarga saya selamat. Tapi ... negara sedang membutuhkan saya. Saya harus ikut turun tangan mencari anggota keluarga yang hilang ... mengobati siapa pun yang terluka ... dan mengatasi dampak dari ledakan itu ....” Anis : (mendesah) “Hikaru ...” (mendekati Hikaru dan menggenggam pundaknya dengan tak sabaran) “... Hikaru ... kiite kudasai. Lo gak harus ngelakuin semua itu. Disana pasti ada relawan, lembaga apa pun yang bakal ngatasin bencana, nanggulangin bencana. Lo gak denger yang dibilang Titik tadi? Disana ada radiasi yang berbahaya. Trus kalo lo kenapa- kenapa gimana?? Lo harus inget kalo status lo disini tuh sebagai mahasiswa pertukaran pelajar. Jadi lo gak bisa tiba-tiba menghilang gitu aja ...!” Hikaru: (tersenyum kecut, berusaha menahan air matanya agar tidak keluar) “Wakarimashita ... saya tahu .... Tapi itu negara saya, disaat ada musibah atau tidak, itu tetap negara saya. Banyak orang yang sedang menunggu saya, membutuhkan saya. Maka dari itu saya harus pulang! Itulah prinsip Yakuza!” (Anis dan Titik terkejut) Titik : “Ya-ku-za ...?” Hikaru: “Ya .... Saya dulu pernah menjadi bagian dari Yakuza. Tapi jiwa saya masih tetap tergerak untuk melakukan hal semacam ini ....” (menunduk, lalu melanjutkan kalimatnya) “Asal kalian tahu, disaat Jepang terkena musibah yang ekstrim seperti saat ini, Yakuzalah yang berada di barisan terdepan untuk mengatasinya. Mereka berani mati demi keselamatan negara. Sekarang ... sekaranglah saatnya saya menunjukkan pada kalian ... bahwa Yakuza tak hanya seperti apa yang kalian pikirkan ....” Anis : (melepaskan genggamannya dari pundak Hikaru) “Oke ... oke kalo itu mau lo .... Tapi lo harus janji. Lo harus balik lagi kesini dengan selamat.” Hikaru: (menggigit ujung bibirnya, dan genangan air yang sudah tak kuat ia tahan pun
  • 4. mengalir dari pelupuk mata) “Wakarimashita. Arigatou ....” (memeluk Anis dan Titik secara bergantian sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka) “Sayounara ....” Hari itu juga Hikaru pulang ke negaranya. Untuk beberapa hari ia tidak datang ke kampus. Teman- temannya mengkhawatirkannya dan masih tidak percaya bahwa Hikaru adalah seorang Yakuza. Hingga di suatu pagi, kejutan pun terjadi .... (Anis menduduki kursinya, lalu menyanyikan lagu kesedihan. Sementara itu Titik datang terlambat) Titik : "Sorry ya gue telat." (Menatap wajah Anis yang sendu) "Doushite?" Anis : "Gue ... gue masih kepikiran nih sama Hikaru. Gimana ya kabar dia disana?" Titik : "Mmm ... dia udah berapa lama sih disana?" Anis : "Entahlah. Hampir sebulan deh kayaknya." (Disaat seperti itu, tiba-tiba Hikaru datang) Hikaru : “Konnichiwa. Hikaru desu! Soshite ... tadaima modorimashita.”… Anis : (menjatuhkan buku yang semula dipegangnya) “O ... okaerinasai . Hikaru??” (Anis dan Titik menghampiri Hikaru dengan tergesa) “Astaga, lo dateng-dateng kok gak ngasih kabar sih?!” Titik : "Hi-hikaru ...." (memeluk Hikaru) “Syukurlah lo selamat!” Anis : "Gimana keluarga lo disana?" Hikaru: "Totemo genki da!" Titik : (melepaskan pelukannya, lantas menaruh tangannya di kening Hikaru) “Bentar, kadar radiasimu berapa nak?” Anis : (menyikut Titik) “Aish ... lo nanya apaan sih?” (Ketiganya pun tertawa) Titik : "Eh, kita pesta di depan yuk!" Anis : (merangkul kedua temannya) "Hai! Ikuzo!" Akhirnya, Hikaru, Titik, dan Anis kembali berkumpul, dan Hikaru pun menyelesaikan program pertukaran pelajar tersebut. Cerita ini berdasarkan sebuah kisah nyata. Terkadang seseorang memilih untuk mengungsi dan kabur, disaat negaranya mengalami bencana dan membutuhkan tenaga bantuan. Semangat untuk mengutamakan negara inilah yang menurut kami patut dikagumi dari organisasi Yakuza.

Related Documents