DESAIN LAYOUT STASIUN KERETA API DAN
INTEGRASINYA DENGAN BANDAR UDARA
Kasus Stasiun Kereta Api Bandara, Kabupaten Kulon Pr...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 1
LATAR BELAKANG
Pembangunan salah...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
2 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
Data Primer:
1. Survey standar p...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 3
Tahapan Penelitian
1. Perumusan ...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
4 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
Kebutuhan Stasiun Sesuai Klasifi...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 5
1.500.000 penumpang/ tahun denga...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
6 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
Dari survey wawancara dicari tah...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 7
Ruangan
Luas Ruangan
(m2
)
UPT K...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
8 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
Karakteristik Jumlah Persentase
...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 9
tersebut. Tabel dibawah menyajik...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
10 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
Zona Jumlah
Responden
Present
a...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 11
PUSTRAL UGM merencanakan stasiu...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
12 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
Selanjutnya lift disini disedia...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 13
Penempatan informasi didasarkan...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
14 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
Gambar 7 Detail Layout Lantai 1...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 15
tersebut ditempatkan di lokasi ...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
16 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
stasiun terlebih dahulu. Dari 5...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 17
Lampiran 1 perbandingan standar...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
18 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
Kriteria Standar Pelayanan (Kel...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 19
Lampiran 2 hasil studi fasilita...
SEMINAR PAPER Oktober 2015
20 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada
Kriteria Network Rail Amtrak Vi...
Oktober 2015 SEMINAR PAPER
Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 21
Kriteria Network Rail Amtrak Vi...
NASKAH SEMINAR
TUGAS AKHIR
DESAIN LAYOUT STASIUN KERETA API DAN INTEGRASINYA DENGAN
BANDAR UDARA
Kasus Stasiun Kereta Api ...
Naskah Seminar Final
of 24

Naskah Seminar Final

Published on: Mar 3, 2016
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Naskah Seminar Final

  • 1. DESAIN LAYOUT STASIUN KERETA API DAN INTEGRASINYA DENGAN BANDAR UDARA Kasus Stasiun Kereta Api Bandara, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta A’roof Tito Anggoro Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Jl. Grafika No. 2 Yogyakarta Telp : (0274) 545675-76 aroof_tito@yahoo.com Danang Parikesit Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Jl. Grafika No. 2 Yogyakarta Telp : (0274) 545675-76 parikesit.danang@gmail.com Abstract Yogyakarta Provincial Government plans to build an airport located in Temon, Kulon Progo. However, because of the airport location which is quite far fromthe city center in Yogyakarta, railway lines and stations will be built as well as a connector to the airport area. Therefore, the purpose of this research is to get an area and the layout of the railway station which integrated with the airport. Through this research will also be determined the appropriate passenger service system and efficient passenger movement to support the movement of passengers fromthe airport to the station and vice versa, and also the proper application of the wayfinding system. To produce a layout design this model of train station, the conducted methods are : classifying station to describe the type of station,plan services and functions of the station, conducted a study of the origin destination matrix in the space of the station, determine the area and placement of the various rooms in the station, and arrange circulation and wayfinding systems to support the movement of the passengers. With prediction of passengers reached 532 passengers / hour, required land requirement is 10.921 m2 with the configuration of the station consisted of two floors, the first floor as the train departure area and the second floor as the train arrival area. Keywords: Airport, Station, Integrate, Classification, Facilities, Area, Wayfinding. Intisari Pemerintah Provinsi Yogyakarta berencana membangun sebuah Bandar Udara yang berlokasi di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Namun karena lokasi bandar udara yang cukup jauh dari pusat kota di Yogyakarta maka akan dibangun juga jalur kereta api dan stasiun sebagai penghubung kawasan bandar udara. Untuk itu tujuan daripenelitian ini adalah mendapatkan luasan serta layout stasiun kereta api yang berintegrasi dengan bandara. Melalui penelitian ini juga akan ditentukan sistem pelayanan penumpang yang baik serta pergerakan penumpang yang efisien untuk mendukung perpindahan penumpang dari bandara menuju stasiun dan sebaliknya serta penerapan sistem wayfinding yang sesuai. Untuk menghasilkan desain layout stasiun kereta api yang berintegrasi dengan bandara ini, metode yang dilakukan antara lain : melakukan klasifikas i stasiun untuk mendeskripsikan jenis stasiun, merencanakan pelayanan dan fungsi stasiun, melakukan studi matriks asal tujuan di ruang stasiun, menentukan luasan serta penempatan berbagai ruangan di stasiun, dan menyusun sistemsirkulasi dan wayfinding untuk mensupport pergerakan penumpang kereta. Dengan prediksi penumpang mencapai 532 penumpang/ jam, diperlukan kebutuhan lahan sebesar 10.921 m2 dengan konfigurasi stasiun memiliki dua lantai, lantai satu sebagai kawasan keberangkatan kereta api dan lantai d ua sebagaikawasan kedatangan kereta api. Kata Kunci: Bandara, Stasiun, Integrasi, Klasifikasi, Fasilitas, Luasan, Wayfinding
  • 2. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 1 LATAR BELAKANG Pembangunan salah satu terminal moda transportasi yang juga vital di Provinsi Yogyakarta yaitu bandar udara yang berlokasi di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo merupakan dampak dari kondisi bandara eksisting yang ada saat ini yaitu bandara Adi Sucipto sudah tidak memenuhi lagi untuk menampung pergerakan para pengguna jasa penerbangan. Hal ini dapat kita lihat terjadi over capacity dari sisi bangunan fasilitas penunjang darat maupun fasilitas penunjang udara. Keadaan bandara yang kurang tertata, para calon penumpang yang tidak mendapat ruang tunggu yang layak, terjadinya kemacetan di jalan akses menuju bandara serta hal lainnya mengganggu kenyamanan penumpang. Maka dari itu dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KP 1164 Tahun 2013, Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ditetapkan lokasi bandara baru di Palihan, Temon, Kabupaten Kulon Progo. Lokasi persisnya bandara ini ada di koordinat 7o54’39,20” Lintang Selatan dan 110o4’21,11” Bujur Timur. Masalah yang terjadi dari pembangunan bandar udara tersebut adalah lokasi bandar udara yang cukup jauh dari pusat kota di Yogyakarta. Setidaknya membutuhkan waktu 1 Jam untuk mencapai Ibu Kota Provinsi Yogyakarta tersebut yang berjarak hingga sekitar 45 Km menurut data dari google maps. Meneruskan hal ini maka pihak terkait merencanakan pembangunan jalur kereta api baru menuju kawasan bandar udara yang berlokasi di Kecamatan Temon. Nantinya kereta ini akan menjadi penghubung dari Kecamatan Temon sebagai lokasi bandar udara dengan Kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Provinsi sebagai salah satu pilihan moda utama bagi penumpang yang akan memasuki Provinsi Yogyakarta. Rencana dimulai dengan pembangunan jalur rel kereta api baru yang menyambung dari stasiun Wates ke arah bandar udara di Kecamatan Temon dan pembangunan stasiun baru sebagai tempat naik turun penumpang kereta api. Pembangunan stasiun kereta api ini didesain untuk mencapai mutu pelayanan dan operasi terbaik. Konsep bangunan modern dengan kelengkapan fasilitas utama dan penunjang yang memberi keamanan, kenyamanan dan keselamatan penumpang menjadi prioritas utama, serta perpindahan antar moda yang baik antara bandar udara dengan stasiun kereta api. Desain layout yang memiliki tujuan sebagai kegiatan naik turun penumpang dan kegiatan penunjang lainnya. Dilengkapi dengan fasilitas utama dan pendukung yang sesuai dan kebutuhan ruang yang cukup untuk pergerakan yang besar. Untuk mendukung sistem perpindahan moda yang nyaman menuju bandara maka dilakukan pengaturan sistem sirkulasi dan pemilihan rute yang sesuai. METODE PENELITIAN Pengumpulan Data dan Referensi Setelah studi sebelumnya diketahui berbagai langkah desain layout yang baik, dilakukan pengumpulan data dan referensi yang mempengaruhi desain layout serta kebutuhan lainnya. Data primer dan sekunder yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
  • 3. SEMINAR PAPER Oktober 2015 2 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada Data Primer: 1. Survey standar pelayanan stasiun Survey dilakukan dengan cara observasi, mengumpulkan keterangan terkait berbagai kelengkapan yang ada di stasiun berdasarkan PM 48 Tahun 2015. 2. Survey pergerakan staff dan pengelola stasiun Survey dilakukan dengan cara wawancara langsung kepada pengguna stasiun. Terdapat tiga pengguna stasiun yang diwawancara disini, yaitu petugas stasiun, pengelola ruang retail dan penumpang stasiun. Hasil dari survey ini adalah mengetahui pola pergerakan pengguna stasiun. 3. Survey pola pergerakan penumpang stasiun bandara Survey dilakukan dengan cara memberikan kuesioner kepada penumpang pesawat yang pernah memakai bandara. Survey dilakukan dengan memilih apakah penumpang yang turun dari stasiun kereta api menuju bandara akan langsung menuju bandara atau akan melakukan aktivitas terlebih dahulu selama di stasiun. Data Sekunder: 1. Prediksi jumlah penumpang bandara baru di Yogyakarta Data prediksi didapat dari Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KP 1164 Tahun 2013 tentang Penetapan Lokasi Bandar Udara Baru Di Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 2. Lokasi dan masterplan bandara baru Yogyakarta. Data Master Plan memberi gambaran rancangan bandar udara kedepannya yang nanti memberi andil dalam desain layout terutama dari sisi sirkulasi serta proses intermoda yang baik. Data ini didapat dari Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KP 1164 Tahun 2013. 3. Spesifikasi kereta api Woojin Merupakan kereta api yang digunakan di Medan ke Kuala Namu. Pengetahuan spesifikasi kereta api bandara Kuala Namu dari sisi panjang kereta dan kapasitas kereta per sekali angkut. Data teknis kereta didapat dari PT Railink yang berkantor di Jakarta Railway Center, Jakarta Pusat. 4. Layout stasiun kereta api Kuala Namu Data layout diperuntukkan kearah pedoman intermoda yang baik antara kereta api dan bandara di Indonesia saat ini Data layout didapat dari PT Railink yang berkantor di Jakarta Railway Center, Jakarta Pusat. 5. Jumlah pengguna kereta api di stasiun Kuala Namu dan pengguna pesawat di bandara Kuala Namu. Dengan komparasi data ini dijadikan asumsi berapa presentasi pengguna kereta bandara di Indonesia saat ini. Data pengguna kereta api dan bandara di Kuala Namu didapat dari PT Railink yang berkantor di Jakarta Railway Center, Jakarta Pusat
  • 4. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 3 Tahapan Penelitian 1. Perumusan Masalah Pada tahapan ini penulis menyusun latar belakang dan perumusan masalah dari tugas akhir ini yang bertema desain layout stasiun bandara udara baru Yogyakarta. 2. Tinjauan Pustaka dan Penelitian Terkait Pada tahap ini penulis mencari sumber dari berbagai literatur yang ada. Mulai dari peraturan serta perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang menyangkut penyusunan tugas akhir, ditambah peraturan dan perundang-undangan dari berbagai negara lain sebagai bahan pertimbangan. 3. Batasan Masalah Pada tahap ini penulis menetapkan pembatasan dalam tugas akhir ini. dengan terus memperkecil penelitian agar lebih fokus dan lebih akurat dalam penyusunannya nanti. 4. Pengumpulan Data Setelah studi sebelumnya penulis mengetahui langkah desain layout serta mengetahui penggunaan data yang mempengaruhi desain layout serta kebutuhan lainnya. Kebutuhan data primer dan sekunder dapat dilihat di sub bab sebelumnya. 5. Merencanakan Fasilitas dan Kebutuhan Ruang Stasiun Setelah semua data terkumpul dilakukan desain layout dengan berbagai sumber yang sudah disebutkan pada bab sebelumnya. Dimulai dari penentuan klasifikasi stasiun, setelah didapat kelas stasiun, dilanjutkan penerapan standar pelayanan di stasiun dan pembagian fungsi ruang stasiun. 6. Pergerakan Pengguna Stasiun Setelah tahu kebutuhan ruang stasiun, dicari tahu persebaran pergerakan pengguna stasiun di dalam ruang stasiun. Dengan mencari tahu bangkitan dan tarikan perjalanan dan menyusun matriks asal tujuan perjalanan. 7. Kapasitas Di Ruang Stasiun Mengetahui data pergerakan penumpang, dapat masuk ke perhitungan luas dan kapasitas stasiun. Dengan didapatnya luasan dan kapasitas, layout bisa dirancang. Sumber yang dipakai adalah referensi dari dalam dan luar Indonesia. 8. Merencanakan Sistem Wayfinding dalam Stasiun Setelah diketahui fasilitas beserta ruangan yang akan ditempatkan dalam stasiun, dilakukan penentuan sirkulasi dan proses intermoda dari pengguna kereta api ke pengguna pesawat dengan wayfinding. Di tahap ini desain dirancang berdasarkan referensi dari Network Rail. 9. Penggambaran Layout, Kesimpulan dan Saran Setelah semua parameter penyusun layout didapatkan, lalu dilakukan penggambaran layout stasiun yang berintegrasi dengan bandara ini. Setelah proses ini selesai, maka selesai pengerjaan tugas akhir ini ditutup dengan gambar desain layout dan kesimpulan. PEMBAHASAN
  • 5. SEMINAR PAPER Oktober 2015 4 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada Kebutuhan Stasiun Sesuai Klasifikasi Stasiun Setelah semua data terkumpul dengan berbagai sumber yang sudah disebutkan sebelumnya. Dimulai dari penerapan kebutuhan stasiun kereta api sesuai standar klasifikasi stasiun dalam PM 33 Tahun 2011. Kelas stasiun diasumsikan dengan kelas besar menurut PT KAI dan PUSTRAL. 1. Fasilitas Operasi Stasiun KA Keberadaan fasilitas operasi stasiun kereta berupa persinyalan, telekomunikasi, dan instalasi listrik merupakan prasarana utama untuk pengoperasian sistem kereta api. Dengan fasilitas operasi yang baik maka tingkat keamanan dan keselamatan stasiun akan lebih baik. 2. Jumlah Jalur di Stasiun Kereta Api Dengan pertimbangan data sementara mengenai jalur kereta api hasil survey awal PT KAI di lokasi pembangunan stasiun bandara menghasilkan diadakannya dua jalur kereta api dari stasiun kedundang. Selain itu studi yang dilakukan di stasiun bandara Kuala Namu yang diketahui sebagai stasiun yang berintegrasi dengan baik dengan bandara, ditemukan penempatan jalur rel berjumlah dua buah. Maka dari itu ditetapkan adanya dua jalur kereta api di stasiun bandara baru Yogyakarta. 3. Fasilitas Penunjang di Stasiun Dengan kelas stasiun besar, stasiun didesain memiliki persentase ruang fasilitas penunjang sebesar 80% dari luasan ruang fasilitas pengunjung. Untuk memberikan kenyamanan selama pengguna jasa menunggu kereta api, ruang penunjang utama seperti restoran dan toko diberikan porsi ruang masing-masing 20%. Sedangkan untuk ruang khusus sebesar 20% dari luasan ruang fasilitas pengunjung. 4. Jumlah Penumpang di Stasiun Menurut data dari KP 1164 Tahun 2013 yang didapat dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, diperkirakan data penumpang yang menggunakan bandara baru Yogyakarta pada tahap I dari Domestik sebesar 9.132.000 penumpang/tahun dan dari Internasional sebesar 868.000 penumpang/tahun. Sedangkan pada saat jam sibuk diperkirakan terdapat 3222 penumpang/jam dari Domestik sedangkan terdapat 632 penumpang/jam dari Internasional. Dengan asumsi yang diambil dari data pengguna kereta api bandara di stasiun Kuala Namu, didapatkan sekitar 15% pengguna jasa pesawat yang menggunakan kereta api dalam waktu dua tahun, Dengan perhitungan sederhana, yaitu mengalikan jumlah pengguna bandara baru Yogyakarta dengan prediksi yang diharapkan akan menggunakan kereta api menuju pusat kota Yogyakarta yaitu berjumlah 15%, dapat diasumsikan jumlah penumpang di stasiun bandara baru Yogyakarta dapat mencapai 1.500.000 penumpang/tahun dan melayani 532 penumpang/jam saat sibuk. 532 penumpang ini diasumsikan dibagi dua dengan asumsi 50% penumpang keberangkatan serta penumpang pergi seperti yang ada pada stasiun Kuala Namu. Menurut Amtrak Station Program and Planning Guide (2013), perkiraan penumpang harian didapat dengan membagi jumlah penumpang tahunan dengan 270. Maka dari itu didapatkan jumlah penumpang harian dengan membagi jumlah penumpang per tahun sejumlah
  • 6. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 5 1.500.000 penumpang/ tahun dengan 270 didapatkan angka penumpang adalah 5.555 penumpang/hari. Gambar 1 Lokasi Stasiun dan Jalurnya Menurut PT KAI Sumber : PT KAI Gambar 2 Spesifikasi Kereta Woojin Dari PT. Railink Sumber : PT Railink 5. Frekuensi lalu lintas Dalam asumsi kali ini digunakan kereta api yang sama seperti yang digunakan di kereta Airport Railway Service (ARS) Kuala Namu – Medan yaitu kereta Woojin yang diproduksi oleh pabrikan asal Korea Selatan, terdiri dari empat kereta berkapasitas total 172 tempat duduk dengan sandaran yang dapat diatur sesuai keinginan penumpang (reclining). Dengan perhitungan sederhana yaitu dengan membagi total pengguna jasa kereta api yaitu sekitar 5.555 penumpang/ hari dengan kapasitas kereta berjumlah 172 tempat duduk, didapatkan idealnya terdapat 32 kali perjalanan kereta api. Evaluasi Pelayanan Stasiun Di Indonesia Dan Rekomendasinya Dengan mengacu pada peraturan yang dikeluarkan Kementrian Perhubungan No 48 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimum Jasa Kereta Api dan Buku Pedoman Standardisasi Stasiun Kereta Api yang dikeluarkan PT KAI sebagai penyelenggara sebagian besar perkeretaapian nasional, dapat dilihat standar pelayanan pengguna jasa kereta api khususnya stasiun kereta api di Indonesia. Dengan melakukan survey standar pelayanan minimum di salah satu stasiun kelas besar di Yogyakarta yaitu Stasiun Tugu, dapat terlihat penerapan SPM di stasiun apakah sudah memenuhi standar yang ditetapkan. Dengan hasil rekap survey yang terdapat pada lampiran 1, Dapat terlihat pada tabel diatas bahwa stasiun kereta api kelas besar seperti stasiun tugu di beberapa aspek pelayanan belum memenuhi standar yang ditetapkan meskipun di beberapa aspek lain lebih baik. Untuk mendapatkan pelayanan stasiun terbaik, dilakukan studi terkait stasiun kereta api yang berada di luar Indonesia. diambil peraturan dan ketentuan dari berbagai Negara yaitu Guide to Station Planning and Design yang dikeluarkan dari salah satu penyelenggara perkeretaapian di Inggris yaitu Network Rail, Station Program And Planning Guidelines yang dikeluarkan oleh penyelenggara perkeretaapian Amtrak dari Amerika Serikat, dan Railway Station Design Standard yang dikeluarkan oleh Victorian Rail Industry Operators Group di Australia. Hasil rekap perbandingan rekomendasi terdapat pada lampiran 2. Pergerakan Pengguna Stasiun
  • 7. SEMINAR PAPER Oktober 2015 6 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada Dari survey wawancara dicari tahu terkait kegiatan yang dilakukan setiap pelaku stasiun. Dengan mengetahui kegiatannya, akan dilakukan analisa terkait kebutuhan dalam membantu kegiatan dapat berjalan dengan baik. Data analisa kegiatan terdapat pada tabel berikut. Tabel 1 Analisa Kegiatan Pengguna Stasiun Fungsi Pelaku Kegiatan Utama Analisa Fungsi Utama Sarana Perjalanan Kereta Api Penumpang Melakukan perpindahan dengan naik/turun antar moda transportasi Membutuhkan signase dan sistem wayfinding yang baik Fungsi Penunjang Administrasi dan Manajemen Kepala, Wakil Kepala Stasiun, Sekertaris Pegawai Administrasi PegawaiKeuangan Mengelola, menerima tamu, mengadakan rapat, melakukan transaksi Sangat kecil kegiatan di luar zona Keselamatan Pegawai Pengawas Perjalanan KA Pegawai Pengawas Peron Mengontrol peron dan mengontrol kereta api Kegiatan di zona peron Pelayanan Penumpang Pegawai Loket Tiket dan Pelayanan Penumpang Memberikan informasi, menerima keluhan, dan menjual tiket Sangat kecil kegiatan di luar zona Operasional Petugas Kebersihan Petugas Keamanan Menjaga di pintu masuk, tiket, dan gerbang tiket. Menjaga kebersihan Akses untuk memasuki semua zona di stasiun. Fungsi Pelengkap Restoran Penumpang Pengelola Makan dan minum Menyiapkan pesanan Jalur logistik yang terpisah dari umum Retail Penumpang Pengelola Menjual barang Membeli barang Jalur logistik yang terpisah dari umum Sumber : Olah Data Kebutuhan Ruang Operasional Dan Penempatannya Dalam Stasiun Dengan hasil survey wawancara yang sudah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya, ditentukan luasan ruangan kegiatan pokok stasiun berdasarkan kelas stasiun yang sudah direncanakan. Seperti yang terdapat pada sub bab sebelumnya bahwa direncanakan stasiun ini adalah stasiun kelas besar. Maka ditentukan luasan ruangan pokok adalah sebagai berikut. Tabel 2 Luasan Ruangan Pokok Ruangan Luas Ruangan (m2 ) Kepala Stasiun 30 Wakil Kepala Stasiun 15 Pengawas Perjalanan Kereta Api 25 Ruangan Luas Ruangan (m2 ) Pengawas Peron 4 Keuangan 20 Serbaguna 100 Peralatan 16
  • 8. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 7 Ruangan Luas Ruangan (m2 ) UPT Kru KA 24 Istirahat Kru KA 30 Petugas Keamanan 15 Petugas Kebersihan 9 Ruangan Luas Ruangan (m2 ) Tunggu Eksekutif 75 Layanan Kesehatan 25 Mushola 49 Sumber : Pedoman Standardisasi Stasiun Kereta Api (2012) Untuk mendapatkan sistem operasional stasiun yang baik, diperlukan penempatan ruangan yang saling bersinergi. berbagai ruangan kegiatan pokok stasiun ditempatkan dengan ketentuan sebagai berikut. 1. Pengelompokan empat ruangan di stasiun yaitu ruang kepala stasiun, ruang wakil kepala stasiun, ruang keuangan dan ruang pengembangan. Keempat ruangan ini ditempatkan terpisah dari ruang penumpang. Ruang ini terhubung langsung dengan ruang tiket dan costumer service 2. Penempatan ruang pengawas peron dan ruang pengawas perjalanan kereta api diletakkan terpisah di dekat peron untuk kemudahan keamanan, dan keselamatan dalam pengaturan perjalanan kereta api. 3. Penempatan ruang kebersihan, keamanan dan kesehatan ditempatkan di dalam ruang tunggu stasiun dekat ruang peron. agar akses dan mobilitas pergerakan lebih mudah. 4. Penempatan ruang UPT kru kereta api dan ruang istirahat kru kereta api ditempatkan di ruang yang jauh dari sirkulasi dikarenakan ruang istirahat kru KA sebisa mungkin diletakkan di tempat yang tenang agar petugas dapat beristirahat dengan tenang. Hasil Kuesioner Pola Pergerakan Penumpang Di Stasiun Kuesioner dibagikan kepada 100 responden pengguna angkutan udara. Survei karakteristik penumpang bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari pengguna angkutan udara secara umum. Pada Tabel dibawah disajikan data karakteristik responden Tabel 3 Karakteristik Responden Pengguna Bandara Karakteristik Jumlah Persentase Jenis kelamin Laki-laki 59 59% Perempuan 41 41% Usia < 20 tahun 6 6% 20 - 30 tahun 55 55% 30 - 40 tahun 17 17% 40 - 50 tahun 18 18% 50 - 60 tahun 4 4% Pekerjaan Pelajar/Mahasiswa 17 17% Guru/Dosen 7 7% Wiraswasta 11 11% PNS/TNI/Polisi 14 14% Pegawai Swasta 40 40% Pensiunan 3 3% Lain-Lain 8 8% Penghasilan per bulan < 1,5 juta 11 11% 1,5 - 2,5 juta 20 20%
  • 9. SEMINAR PAPER Oktober 2015 8 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada Karakteristik Jumlah Persentase 2,5 - 5 juta 39 39% 5 - 10 juta 30 30% > 10 juta 0 0% Pendidikan terakhir SMP 0 0% SMA 32 32% S1 60 60% S2 7 7% S3 1 1% Maksud perjalanan Bisnis/Usaha 13 13% Mengunjungikeluarga 27 27% Liburan 36 36% Dinas/Kantor 16 16% Sekolah/Kuliah 4 4% Lain-lain 4 4% Sumber : Olah Data Survey ini bertujuan untuk mengetahui pergerakan responden di dalam ruang stasiun yang berintegrasi dengan bandar udara. survey ini juga bertujuan untuk mengetahui fasilitas apa saja di dalam stasiun yang menjadi prioritas utama responden selama melakukan pergerakan di dalam stasiun. Sebelumnya dijelaskan dibentuk lima zona dalam ruang stasiun ini yaitu zona satu yang berisi pertokoan serta restoran, zona dua berisi ruang kesehatan dan ruang ibu menyusui, zona tiga yaitu ruang toilet umum, zona empat adalah ruang mushola, dan ruang lima adalah ruang 1. Survey terhadap prioritas pergerakan penumpang Responden diberi pertanyaan apa yang dilakukan responden ketika pertama kali tiba di stasiun bandara. 50 responden atau 50% menyatakan bahwa mereka akan langsung menuju bandara atau check-in counter. Hasil tersebut didapatkan dengan data responden mayoritas dibawah umur 30 tahun. Responden mengatakan bahwa mereka lebih suka langsung menunggu dan check in di bandara daripada harus berlama-lama di ruang stasiun. Sedangkan 50 responden lainnya atau 50% menyatakan bahwa mereka akan menggunakan fasilitas stasiun terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan menuju bandara atau ruang check-in. disini terlihat usia umur diatas 30 tahun mendominasi. Responden mengatakan bahwa mereka akan memakai fasilitas seperti toilet dan restoran karena perjalanan kereta api yang menurut mereka cukup menyita waktu, jadi mereka memilih istirahat sejenak. 2. Survey terhadap pergerakan penumpang di dalam ruang stasiun Pertanyaan ini hanya diberikan kepada responden yang menjawab akan menggunakan fasilitas stasiun sebelum menuju bandara. Dari 50 responden yang menggunakan fasilitas stasiun sebelum menuju bandara, bahwa fasilitas yang pertama kali akan digunakan paling tinggi 17% atau 17 responden akan menggunakan zona tiga, diikuti dengan 13% atau 13 responden menuju zona satu, 11% atau 11 responden akan menuju zona empat, 7% atau 7 responden akan ke zona lima dan paling rendah adalah zona dua dengan hanya 2% atau 2 responden. Zona tiga menjadi pilihan terbesar responden dikarenakan selama menaiki kereta api mereka enggan untuk menggunakan toilet umum di kereta, maka dari itu setelah melakukan perjalanan dengan kereta api mereka langsung menuju zona tiga. Lalu data paling rendah didapatkan oleh zona dua yaitu zona pelayanan kesehatan dan ibu menyusui dikarenakan hanya yang berkebutuhan khusus sajalah yang akan mengunjungi ruang
  • 10. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 9 tersebut. Tabel dibawah menyajikan jumlah responden, presentase persen pergerakannya, dan prediksi jumlah penumpang per hari yang melakukan pergerakan. Tabel 4 Prioritas Pergerakan Penumpang Zona Jumlah respon den Presen tase Jumlah penumpang/ hari Zona 1 13 13% 722 Zona 2 2 2% 111 Zona 3 17 17% 944 Zona 4 11 11% 611 Zona 5 7 7% 389 Langsung Menuju Bandara 50 50% 2778 Total jumlah penumpang/ Hari 5555 Sumber : Olah data Gambar 3 Pie Chart Pergerakan Penumpang Dalam Stasiun Sumber : Olah Data Setelah mendapat data bangkitan dan tarikan perjalanan, dilakukan survey terkait pergerakan penumpang antar zona. Data didapat dengan memberikan pertanyaan prioritas kedua setelah menuju zona fasilitas stasiun yang pertama. Didapatkan hasil berupa tabel pergerakan penumpang antar zona dan matriks asal tujuan sebagai berikut. Tabel 5 Pergerakan Antar Zona Zona Jumlah Responden Present ase Jumlah Penumpang Dari zona 1 menuju Zona 2 1 8% 56 Zona 3 4 31% 222 Zona 4 1 8% 56 Zona 5 2 15% 111 Menuju Bandara 5 38% 278 Dari zona 2 menuju Zona 1 1 50% 56 Zona 3 1 50% 56 Zona 4 0 0% 0 Zona 5 0 0% 0 Menuju Bandara 0 0% 0 Zona Jumlah Responden Present ase Jumlah Penumpang Dari zona 3 menuju Zona 1 3 18% 167 Zona 2 0 0% 0 Zona 4 5 29% 278 Zona 5 3 18% 167 Menuju Bandara 6 35% 333 Dari zona 4 menuju Zona 1 1 9% 56 Zona 2 0 0% 0 Zona 3 5 45% 278 Zona 5 3 27% 167 Menuju Bandara 2 18% 111 50% 13% 2% 17% 11% 7% Prioritas Pergerakan Penumpang Menuju Bandara zona 1 zona 2 zona 3 zona 4 zona 5
  • 11. SEMINAR PAPER Oktober 2015 10 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada Zona Jumlah Responden Present ase Jumlah Penumpang Dari zona 5 menuju Zona 1 0 0% 0 Zona 2 0 0% 0 Zona 3 3 43% 167 Zona 4 1 14% 56 Menuju Bandara 3 43% 167 Tabel 6 Matriks Asal Tujuan Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona 4 Zona 5 Zona 1 56 222 56 111 Zona 2 56 56 0 0 Zona 3 167 0 278 167 Zona 4 56 0 278 167 Zona 5 0 0 167 56 Sumber : Olah Data Dengan data tersebut dapat diciptakan garis keinginan pergerakan penumpang stasiun melakukan perpindahan antar ruang stasiun. Garis keinginan pergerakan antar zona di stasiun dapat dilihat pada gambar dikanan ini. Keterangannnya, “kereta” merupakan asal penumpang yaitu dari kedatangan kereta api bandara atau disini bangkitan perjalanan. Lalu “bandara” adalah bandara baru Yogyakarta sebagai destinasi utama pergerakan atau tarikan utama. zona 1 sampai 5 merupakan zona fasilitas stasiun yang sudah dijelaskan sebelumnya. Yaitu zona 1 adalah restoran dan toko, zona 2 adalah layanan kesehatan dan ibu menyusui, zona 3 adalah toilet umum, zona 4 adalah mushola, dan zona 5 adalah layanan penunjang khusus. Korelasi data pergerakan stasiun dengan desain stasiun 1. Kebutuhan luasan ruang pelayanan stasiun Diketahui presentase penumpang yang menggunakan zona ruang di stasiun. Presentase tersebut akan dikalikan dengan jumlah penumpang kereta api pada jam sibuk maka akan didapatkan prediksi banyaknya pengguna stasiun yang akan menggunakan stasiun tersebut. Jumlah pengunjung stasiun pada suatu zona akan dikalikan dengan level of service untuk mendapatkan luasan ruangan stasiun sesuai dengan kebutuhan dari hasil survey. Level of service tiap zona tidak sama dikarenakan kebutuhan ruang per orang di setiap zona berbeda Kebutuhan luasan sesuai dengan pengguna stasiun dapat dilihat pada tabel berikut. Dipakai data penumpang per jam sibuk sebesar 266 orang. Tabel 7 Hasil Perbandingan Luasan Prediksi Dan Pedoman Zona Presentase Pengguna Ruangan/ orang Level of Service Luasan LoS (m2 ) Luasan (prediksi)(m2 ) Luasan (m2 ) Kesimpulan 1 13% 35 B 2,32 80,8 198 Terlalu Besar 2 2% 5 C 1,39 7,39 25 Terlalu Besar 3 17% 45 D 0,93 42,0 54 Cukup 4 11% 29 C 1,39 40,7 49 Cukup 5 7% 19 D 0,93 17,3 20 Cukup Sumber : Olah Data Dari hasil perbandingan diatas dapat terlihat bahwa zona satu yaitu pertokoan dan restoran mempunyai perbedaan luasan yang cukup besar. Hal itu dikarenakan ternyata dari hasil survey penumpang yang turun dari kereta hanya 13% penumpang yang mengunjungi restoran atau retail. Sedangkan PT KAI dan Gambar 4 Garis Keinginan Sumber : Olah Data
  • 12. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 11 PUSTRAL UGM merencanakan stasiun bandara dengan kelas besar yang berarti mempunyai luasan ruang restoran dan retail mencapai 32% dari seluruh ruang penunjang. Pada desain kali ini dengan pendapat dari PT KAI dan PUSTRAL yang menyatakan bahwa stasiun ini direncanakan berkelas besar dan internasional, tetap digunakan luasan 198 m2 dikarenakan stasiun ini direncanakan mempunyai toko dan restoran yang berbeda dari yang ada di stasiun pada umumnya dan membutuhkan luasan yang besar. Sedangkan untuk ruang toilet umum, didapatkan ternyata kebutuhan luasan dari Pedoman standardisasi stasiun kereta api dengan pemakai toilet dari hasil survey cukup besar, untuk menambah kenyamanan pengguna stasiun yang ingin menuju toilet, lokasi dan jumlah toilet akan ditambahkan. Untuk luasan zona lainnya seperti zona 2, zona 3 dan zona 5 terdapat perbedaan luasan tapi tidak cukup signifikan. Maka ditetapkan untuk luasan mushola akan mengikuti pedoman PT KAI (2012). Sedangkan untuk luasan ruang penunjang lainnya dipakai luasan yang beragam sesuai ketersediaan lahan yang ada. Untuk ruang kesehatan dan ibu menyusui disatukan dan diambil luasan ruangan kesehatan seperti yang terdapat pada stasiun Tugu Yogyakarta 2. Kebutuhan luasan ruang pelayanan stasiun Dari data yang sudah dijabarkan sebelumnya mengenai presentase pemilihan fasilitas yang menjadi prioritas pertama, dapat dilakukan sistem peringkat layanan yang paling dibutuhkan setelah penumpang turun dari stasiun. Peringkatan dapat dilihat pada chart berikut. Gambar 5 Peringkat Prioritas Fasilitas Di Stasiun Sumber : Olah Data Dari hasil survey diketahui fasilitas toilet umum merupakan fasilitas prioritas utama bagi penumpang yang menggunakan fasilitas stasiun sedangkan ruang kesehatan dan ibu menyusui merupakan prioritas terakhir. Maka desain stasiun akan mengikuti presentase diatas dari segi peletakan ruangan. Semakin tinggi presentasenya maka semakin dekat ruang tersebut dengan akses utama penumpang di dalam stasiun dan sebaliknya semakin rendah presentase maka penempatan ruangnya akan mengikuti ketersediaan lahan dan lokasi yang tersisa. Dari hasil garis keinginan diketahui hubungan ruang antar zona. Dengan hasil tersebut dapat dikorelasikan dengan perletakan antara zona satu dan zona lainnya. Semakin besar pergerakannya semakin didekatkan ruangannya dan sebaliknya. Tetapi hal tersebut masih tergantung bentuk ruang yang tersedia. Dapat terlihat pada garis keinginan, pergerakan penumpang menuju zona 3 yaitu toilet cukup dominan dari arah restoran dan mushola. Maka dari itu penempatan ruang tersebut sebisa mungkin diletakkan dekat satu sama lain. Kapasitas Di Ruang Stasiun Travelator atau gabungan antara ramp dan eskalator ditempatkan di peron tengah atau peron pulau untuk mengakomodasi pergerakan penumpang datang menuju lantai dua kearah pintu masuk kedatangan bandara. Lalu untuk mengakomodasi perpindahan penumpang saat di ruang tunggu yang berada di lantai satu dan ruang retail yang berada di lantai dua, difasilitasi dengan dua eskalator yang terletak di tengah ruang tunggu. 0% 20% 40% zona 1 zona 2 zona 3 zona 4 zona 5 PeringkatPrioritas Fasilitas Stasiun
  • 13. SEMINAR PAPER Oktober 2015 12 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada Selanjutnya lift disini disediakan khusus untuk penumpang yang berkebutuhan khusus ditempatkan di peron pulau agar tidak mengganggu pergerakan penumpang yang menggunakan eskalator Lalu berdasarkan tabel 2, didapatkan kebutuhan ruang horizontal yang didesain memiliki tingkat The Fruin Levels Of Service B untuk pergerakan yang lebih lancar dan kenyamanan yang lebih tinggi. Dengan rumus yang terdapat pada peraturan dalam dan luar indonesia, didapatkan ruang dan akses jalan dengan luasan minimal sebagai berikut. Tabel 8 kebutuhan ruang minimal Ruang Rumus Hasil 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐴𝑘𝑠𝑒𝑠 𝑅𝑢𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢 (𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑆𝑎𝑡𝑢 𝑅𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑖𝑎𝑛 𝐾𝑒r𝑒𝑡𝑎 𝑥 50%)/50+(2 𝑥 0,3) 4,04 m 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐴𝑘𝑠𝑒𝑠 𝐴𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑅𝑢𝑎𝑛𝑔 (𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑆𝑎𝑡𝑢 𝑅𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑖𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑟𝑒𝑡𝑎 𝑥 50%)/40 4,3 m 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑅𝑢𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢 75% 𝑥 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔 𝐽𝑎𝑚 𝑆𝑖𝑏𝑢𝑘 𝑥 𝐿𝑒𝑣𝑒𝑙 𝑜𝑓 𝑆𝑒𝑟𝑣𝑖𝑐𝑒(𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘)+25% 𝑥𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔 𝐽𝑎𝑚 𝑆𝑖𝑏𝑢𝑘 𝑥 𝐿𝑒𝑣𝑒𝑙 𝑜𝑓 𝑆𝑒𝑟𝑣𝑖𝑐𝑒(𝑏𝑒𝑟𝑑𝑖𝑟𝑖) 555,27 m2 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑅𝑢𝑎𝑛𝑔 𝑅𝑒𝑡𝑎𝑖𝑙 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔 𝐽𝑎𝑚 𝑆𝑖𝑏𝑢𝑘 𝑥 𝐿𝑒𝑣𝑒𝑙 𝑜𝑓 𝑆𝑒𝑟𝑣𝑖𝑐𝑒 𝑥 80% 𝑥 (20%+20%) 197,47 m2 𝐿𝑒𝑏𝑎𝑟𝑃𝑒𝑟𝑜𝑛 (𝐴𝑟𝑢𝑠 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔 𝑃𝑢𝑛𝑐𝑎𝑘 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡/40+𝐹𝑟𝑖𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛𝐸𝑓𝑓𝑒𝑐𝑡) 6,5 m 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑛 =𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑟𝑒𝑡𝑎 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙+10m 175,6 m Sumber : Olah Data Sistem Wayfinding Dalam Stasiun Dalam pembahasan tugas akhir ini sirkulasi penumpang yang berintegrasi moda dari stasiun menuju bandara sangat butuh prioritas. Dengan sistem desain wayfinding yang dikeluarkan RSSB, dilakukan perencanaan sistem wayfinding di stasiun dengan langkah sebagai berikut. 1. Mengerti pola pergerakan penumpang stasiun Pola pergerakan pengguna stasiun yang berintegrasi dengan bandara adalah sebagai berikut. Penumpang yang datang menuju stasiun bisa berasal dari luar airport atau langsung dari pengguna stasiun. Setelah penumpang mencapai lokasi utama di ruang tunggu, mereka melakukan transaksi terlebih dahulu dengan membeli tiket dari loket tiket ataupun mesin loket tiket. Setelah membeli tiket, penumpang diarahkan menuju ruang tunggu yang di fasilitasi toilet dan ruang retail yang berada di lantai satu maupun lantai dua. Setelah penumpang mendapatkan informasi terkait keberangkatan, penumpang dipersilahkan melewati gerbang tiket dan memasukkan tiket ke dalam mesin untuk menuju ke peron dan langsung menaiki kereta tanpa harus menunggu di ruang peron. Untuk penumpang yang turun dari kereta dapat menyusuri sepanjang peron lalu menaiki travelator untuk menuju lantai dua. Setelah itu penumpang dapat meninggalkan stasiun dengan memilih jalur yang ada, bisa langsung menuju lokasi parkir atau jalan raya, dan bisa menuju zona pergantian moda untuk menggunakan alat transportasi lain 2. Melihat sistem sirkulasi yang ada Desain layout direncanakan akan dibuat sesimpel mungkin untuk menghindari cross flow serta contra flow dipisahkan antara ruang tunggu yang berada di lantai satu dan ruang kepergian menuju bandara berada di lantai dua. 3. Mempelajari sistem yang baik Sistem wayfinding yang akan menjadi acuan adalah sistem wayfinding yang diterapkan di Inggris dan dioperasikan oleh salah satu penyelenggara kereta api, Network Rail dalam Desain Guidelines & Specifications Managed Station Wayfinding (2011). 4. Penyusunan wayfinding Desain bentuk informasi terdiri dari material, warna informasi, font tulisan, dimensi serta simbolnya memakai standar dalam desain wayfinding yang diadaptasi oleh Network Rail di Inggris. 5. Implementasi informasi wayfinding
  • 14. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 13 Penempatan informasi didasarkan pada titik jalur akses pengguna stasiun dan titik dimana terjadi decision poin. Penempatan sistem wayfinding terdapat di key decision point berada di lokasi pintu masuk dan keluar, sekitar loket tiket, serta di ruang tunggu. HASIL PENELITIAN Pelayanan Dan Sistem Yang Diterapkan Pelayanan yang digunakan mengadopsi standar yang ditetapkan 3 negara yang pada bab sebelumnya sudah dijelaskan bagaimana pelayanannya. Selain itu peraturan yang diadopsi disesuaikan dengan peraturan yang ada di Indonesia agar tidak terjadi tumpang tindih antar peraturan. Berkesimpulan bahwa sistem pelayanan yang ada di Indonesia saat ini masih membutuhkan masukkan dari hasil studi negara lain. Penempatan Stasiun Dari hasil Citra satelit didapatkan lokasi yang cocok untuk penempatan stasiun kereta api dan mampu berintegrasi dengan terminal bandara. Dengan asumsi yang didapat setelah melakukan perbincangan dengan pihak PT. Railink serta peneliti dari Pusat Transportasi dan Logistik UGM, direncanakan bahwa dalam terminal bandara ini akan terdapat dua lantai yang terdiri dari lantai satu berupa terminal kedatangan bandara serta terminal dua berupa terminal kedatangan bandara. Gambar 6 penempatan stasiun di lingkungan bandara Sumber : Olah Data Luasan Stasiun Lantai satu merupakan zona keberangkatan stasiun sedangkan lantai dua merupakan zona kedatangan pengguna stasiun. Stasiun memiliki panjang 250 m terdiri dari titik ujung stasiun berupa peron sampai dengan zona operasional stasiun yang berada di belakang loket tiket. ditambah lebar 43.65 m, stasiun membutuhkan lahan sebesar10.912,5 m2. Stasiun memiliki luasan untuk ruangan lantai satu diluar peron dengan panjang 72,65 m dan lebar 43,65 m. sedangkan lantai dua memiliki panjang 70,50 m dan lebar 43,65 m. Lalu untuk peron mempunyai panjang 180 m dan memiliki tiga peron yang masing-masing memiliki lebar 6,5 m untuk peron pinggir sedangkan untuk peron tengah memiliki lebar 13 m. Pada sub bab sebelumnya terlihat bahwa penempatan luasan sebesar 10.921,5 m2 memenuhi luasan yang disediakan oleh bandara untuk kepentingan ground transport acess yaitu sebesar 285.663,70 m2.
  • 15. SEMINAR PAPER Oktober 2015 14 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada Gambar 7 Detail Layout Lantai 1 Sumber : Olah Data Gambar 8 Detail Layout Lantai 2 Sumber : Olah Data Sistem Pergerakan Dalam Stasiun Sistem pelayanan dan pergerakan penumpang stasiun dari pintu masuk hingga keberangkatan yang sesuai layout adalah sebagai berikut. Gambar 9 sirkulasi penumpang dalam stasiun Sumber : Olah Data Dengan luasan yang tersedia serta level pelayanan kelas B, diprediksi penumpang memiliki kecepatan akses 1,27 m/s lalu dengan panjang jalan akses yang tersedia, dari pintu masuk sampai keberangkatan kereta sepanjang 248,00 m dan untuk kedatangan kereta sampai pintu keluar sepanjang 206,72 m, penumpang mempunyai waktu dari pintu masuk hingga menaiki kereta rangkaian paling belakang selama 5,25 menit. Untuk waktu penumpang meninggalkan stasiun dengan waktu 3,71 menit. Jenis Dan Penempatan Signase Terdapat delapan tipe signase yang dipakai dalam perencanaan sistem wayfinding di stasiun ini. Setiap signase dinamai dengan kode tertentu yang nanti akan menjadi simbol di dalam layout sebagai tanda signase
  • 16. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 15 tersebut ditempatkan di lokasi tersebut. Digunakan 16 jenis signase dengan total signase mencapai 27 buah di seluruh stasiun. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 10 signase yang digunakan dalam stasiun Sumber : Olah Data Gambar 11 penempatan signase stasiun Sumber : Olah Data KESIMPULAN Hasil penelitian mengenai desain layout yang berintegrasi dengan bandara dengan mengambil contoh kasus di bandara baru Yogyakarta, diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Stasiun kereta api bandara baru Yogyakarta yang berlokasi di Kulonprogo memiliki dua jalur dengan tipe stasiun akhir, mampu menampung penumpang 1.500.000 penumpang/ tahun atau 532 penumpang/ jam sibuk dan 5.555 penumpang/ hari sehingga membutuhkan 32 kali perjalanan kereta api setiap harinya. 2. Dari hasil survey didapatkan pola persebaran penumpang. Didapatkan 50% penumpang kereta bandara akan langsung menuju bandara atau check in counter dan 50% lainnya akan mengunjungi fasilitas
  • 17. SEMINAR PAPER Oktober 2015 16 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada stasiun terlebih dahulu. Dari 50% pengunjung yang menuju fasilitas stasiun didapat 34% akan menuju toilet umum, diikuti 26% akan menuju ruang restoran atau retail, 22% akan menuju ruang mushola, 14% menuju ruang fasilitas penunjang seperti ATM, sisanya 14% menuju zona pelayanan kesehatan dan ibu menyusui. 3. Layout stasiun kereta api membutuhkan area sebesar 10.912,5 m2, memiliki dua lantai dengan lantai pertama sebagai area keberangkatan penumpang dan lantai kedua sebagai area kedatangan penumpang. Hal ini sesuai dengan terminal bandara yang memiliki konfigurasi lantai satu sebagai terminal kedatangan sedangkan lantai dua sebagai terminal keberangkatan. 4. Pergerakan penumpang dari pintu masuk hingga menaiki kereta api paling cepat 5,25 menit sedangkan pergerakan penumpang dari turun kereta sampai pintu keluar membutuhkan waktu 3,71 menit. 5. Untuk mendukung pergerakan yang baik disusun sistem wayfinding yang memakai 16 jenis signase dengan total signase mencapai 27 buah di seluruh stasiun. SARAN 1. Minimnya informasi dan peraturan terkait perkeretaapian terutama yang berintegrasi dengan bandar udara. Sebaiknya dinas terkait merancang standar dan peraturan terkait perkeretaapian yang lebih detail dan dengan tingkat kualitas yang lebih ditingkatkan 2. Survey terkait pola pergerakan penumpang di dalam ruang stasiun memerlukan studi yang lebih mendalam untuk hasil yang lebih akurat. DAFTAR PUSTAKA Amtrak. 2013. Station Program and Planning Guidelines. Montreal: Amtrak Network Rail. 2011. Desain Guidelines & Specifications Managed Station Wayfinding. London. Network Rail Network Rail. 2011. Guide to Station Planning and Design. London: Network Rail PT Kereta Api Indonesia (Persero). 2013. Pedoman Standardisasi Stasiun Kereta Api Indonesia. PT Kereta Api Indonesia. Bandung Republik Indonesia. 2011. Peraturan Menteri Perhubungan No. 29 Tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis Bangunan Stasiun Kereta Api. Lembaran Negara RI Tahun 2011, No. 23. Sekretariat Negara. Jakarta. Republik Indonesia. 2011. Peraturan Menteri Perhubungan No. 33 Tahun 2011 tentang Jenis, Kelas Dan Kegiatan Stasiun Kereta Api. Lembaran Negara RI Tahun 2011, No. 33. Sekretariat Negara. Jakarta. Republik Indonesia. 2013. Keputusan Menteri Perhubungan No. KP 1164 Tahun 2013 tentang Penetapan Lokasi dan Rencana Induk Bandara Baru Yogyakarta. Lembaran Negara RI Tahun 2013, No. 1164. Sekretariat Negara. Jakarta. Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Perhubungan No. 48 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimum Untuk Angkutan Orang Dengan Kereta Api. Lembaran Negara RI Tahun 2015, No. 48. Sekretariat Negara. Jakarta. Victorian Rail Industry Operators Group. 2011. Railway Station Design Standard and Guidelines. Melbourne: Victorian Rail Industry Operators Group Z. Tamin. Ofyar. 1997. Perencanaan dan Permodelan Transportasi. Bandung: Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung.
  • 18. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 17 Lampiran 1 perbandingan standar pelayanan stasiun dan survey Kriteria Standar Pelayanan (Kelas Besar) Aplikasi Di Lapangan (Survey) Keselamatan Ada alat pemadam kebakaran Tersedia alat pemadam Tersedia petunjuk jalur,prosedur evakuasi, dan titik kumpul Tersedia jalur evakuasi dan titik kumpul Terdapat nomor telepon darurat Terdapat peringatan melalui audio Peringatan melalui audio saat kereta melintas Terdapat baris batas aman di peron Terdapat baris batas aman peron Terdapat fasilitas tambahan berupa kasur dan ruangan ber-ac Titik evakuasi di ruang terbuka Titik evakuasi di tempat parkir Tersedia kursi roda dan tandu Tidak tersedia tandu Ruang Kesehatan Dijaga 2 Perawat Terdapat 2 orang menjaga Keamanan Tersedia CCTV minimal di 4 titik Terdapat 20 CCTV Petugas berseragam minimal 13 orang Terdapat 18 petugas berseragam Stiker pengaduan keamanan Terdapat stiker pengaduan Lampu penerangan dengan intensitas cahaya 250 lux - Kehandalan Maksimal 180 detik per nama penumpang Untuk tiket commuter kurang dari 2 menit Tersedia informasi penjualan tiket, pemesanan tiket, pembatalan dan penukaran tiket, informasi harga tiket, informasi tempat duduk, layanan elektronik payment Tersedia informasi penjualan tiket, pemesanan tiket, pembatalan dan penukaran tiket, informasi harga tiket, informasi tempat duduk, layanan elektronik payment Minimal tersedia 3 loket tiket untuk ka eksekutif antarkota Tersedia 6 loket, tetapi untukkereta eksekutif hanya dibuka dua Reservasi tiket mandiri, railbox dengan kartu rail card Terdapat alat cetak tiket mandiri Kenyamanan Ruang Tunggu Tersedia ruang 0,6m2 per orang Stasiun terlihat padat pada jam sibuk Ruangan selalu bersih dan terjaga kenyamanannya Stasiun dalam kondisi bersih dan nyaman Tersedia ruang tunggu umum dengan fasilitas toilet, televisi, dan kursi biasa serta kipas angin disesuaikan kebutuhan Ruang tunggu terdapat toilet, televisi, kursi yang mencukupi serta kipas angin Tersedia ruang tunggu eksekutif bagi penumpang tiket eksekutif dengan fasilitas toilet, televisi, sofa dan meja serta pendingin ruangan Ruang tunggu eksekutif tidak tersedia Tersedia ruang tunggu VIP untuk ruang pejabat yang berkunjung dengan fasilitas terbaik Ruang tunggu VIP tersedia Terdapat fasilitas tambahan charger gratis dan wifi Kenyamanan Ruang Boarding Tersedia ruang 0.6m2 per orang Ruang boarding mencukupi Ruangan selalu bersih dan terjaga kenyamanannya Ruang boarding selalu bersih Kenyamanan Toilet Pria (4 urinoir, 3 WC, 2 Wastafel) Toilet memiliki 3 WC, 2 Wastafel Wanita (6 WC, 2 wastafel) Toilet memiliki 4 WC, 2 Wastafel Tersedia toilet khusus penyandang disabilitas Tidak terdapat toilet disabilitas Area bersih dan terawat serta sirkulasi baik Kondisi toilet baik Toilet gratis dan terpisah antara laki-laki dan perempuan Toilet terpisah dan bersih Minimal petugas kebersihan 3 orang Terdapat 5 petugas yang bekerja Kenyamanan Mushola Pria (11 normal dan 2 penyandang disabilitas) Ruang pria mencukupi Wanita (9 normal dan 2 penyandang disabilitas) Ruang wanita mencukupi Dilengkapi pengeras suara,kipas angin dan perangkat alat solat Peralatan lengkap. Ditambah tersedianya al- quran Tempat wudhu terpadu dan terpisah Tempat wudhu terpisah Kemudahan Informasi Informasi mengenai denah stasiun,informasi kereta api, nama stasiun keberangkatan dan lokasi pemberhentian, tarif ka, dan ketersediaan tempat duduk Informasi hampir lengkap. Hanya tidak terdapat informasi mengenai tiket
  • 19. SEMINAR PAPER Oktober 2015 18 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada Kriteria Standar Pelayanan (Kelas Besar) Aplikasi Di Lapangan (Survey) Informasi gangguan maksimal 30 menit setelah gangguan Tidak ada info terkait keterlambatan Informasi angkutan lanjutan memuat lokasi dan petunjuk arah angkutan lanjutan jenis angkutan juga jurusan/ rute Tidak tersedianya sistemintermoda yang terintegrasi Informasi dalam bentuk visual ditempatkan di lokasi strategis.Dekat loket, pintu masuk dan ruang tunggu Informasi dalam bentuk visual tersedia Informasi dalam bentuk visual berupa display, monitor, papan informasi neon box, papan informasi biasa, running text Informasi tersedia dalam bentuk monitor, papan informasi, neon box. Informasi dalam bentuk audio terdengarjelas dengan intensitas suara 20 db Informasi suara jelas Kemudahan Layanan Penumpang Memiliki satu meja kerja dengan minimal petugas 2 orang Terdapat dua orang penjaga di lokasi Satu orang petugas memiliki kecakapan bahasa inggris Terdapat kuisioner untukpeningkatan kualitas Berisi informasi perjalanan kereta api dan layanan pengaduan dan brosurjadwal ka Informasi terdapat perjalanan kereta, layanan pengaduan dan brosurperjalanan Kemudahan Fasilitas Naik Turun Selisih tinggi peron dengan kereta tidak lebih dari 20 cm Tinggi peron sejajar dengan kereta Memiliki informasi nama peron, papan nama jalur ka, petunjuk arah, petunjuk waktu, tanda batas aman dan peringatan Adanya informasi nama peron, papan nama jalur KA, petunjuk arah dan tanda batas aman tetapi tanpa penunjuk waktu Untuk kenyamanan dilengkapi atap atau overkaping Lokasi naik turun di dalam gedung stasiun Untuk pergerakan vertikal disediakan ramp untuk kemudahan penyandang disabilitas Tersedianya ramp untuk datang dan pergi dari peron Kesetaraan Tersedianya ramp dengan kemiringan maksimal 10* Tersedianya ramp tetapi dengan kemiringan lebih dari 10o Tersedia fasilitas yang nyaman bagi ibu dan anak untuk menyusui bisa digabung dengan ruang eksekutif, minimal 5 orang dengan dinding pembatas Fasilitas ibu menyusui terdapat pada ruang kesehataan Tambahan Pelayanan restoran melayani penjualan makanan dan minuman dan menyediakan tempat makan dan minum Terdapat tiga restoran Pertokoan menyediakan makan dan minum serta kebutuhan lain tanpa disediakan tempat Terdapat setidaknya 10 toko Pelayanan atm untuk transaksi harus ada 1 atm center, minimal 3 bank. Terdapat 1 atm center, dan 3 atm bank lain Money changer tersedia Tidak adanya money changer Tempat penjualan tiket terpadu antarmoda termasuk travel dan reservasi hotel Terdapat tempat pembelian tiket travel Pelayanan penitipan barang sementara Tersedia layanan penitipan barang Pelayanan smoking area Terdapat smoking area yang luas
  • 20. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 19 Lampiran 2 hasil studi fasilitas dan layanan di tiga negara Kriteria Network Rail Amtrak Victorian Rail Keselamatan Terdapat springkle dan alarm emergensi secara visual dan audio Mengaturbatas kecepatan kendaraan di sekitar stasiun Mendesain ruang stasiun yang mampu meninggalkan lokasi stasiun dalam waktu 6 menit Display visual untuk kondisi darurat ditampilkan dengan warna berbeda Memberikan pagar di sekitar dan di depan stasiun Jarak menuju pintu darurat kurang dari 60 m Penempatan display visual untuk emergensi, tidak mengganggu perjalanan kereta Tidak hanya peralatan P3K tetapi ditambah perlengkapan lain seperti tabung oksigen dan alat tensi Peringatan audio emergensi diatas 20db Tidak boleh ada akses jalan sebidang antar peron dan rel Keamanan Terdapat metal detektor, walktrough detectordan inspection mirror Ruang tunggu dan ruang boarding terlihat dari kawasan loket tiket Mendesain pintu masuk dan keluar yang dapat tertutup Tidak terdapat blind spot Penempatan CCTV menjangkau semua sisi stasiun Terdapat costumer help point di ruang peron Penempatan ruang vertikal di ruang terbuka Pintu toilet terlihat jelas dari ruang terbuka Penempatan tempat duduk di lokasi ramai Terdapat ruang keamanan di lokasi stategis Terdapat tombol emergensi di daerah peron Akses menuju ruang operasi diberi kunci card reader Kehandalan Di loket tiket harus bebas dari ruang pergerakan penumpang Penempatan loket tiket harus terlihat dari pintu masuk dan ruang tunggu stasiun Penempatan loket tidak mengganggu sirkulasi baik horizontal maupun vertikal Komunikasi antara petugas dan pembeli lancar dengan intercom Loket tiket bisa melayani pembelian tiket kereta sisteme- tiketing Loket dapat diakses dengan mudah dari semua titik masuk di stasiun Menampilkan data penumpang, harga dan informasi tempat duduk Loket mesin melayani pembelian tiket dengan sangat cepat dengan kartu prepaid Membedakan dengan jelas antara zona penumpang bertiket maupun tidak bertiket dengan gerbang Mengakomodasi penyandang disabilitas dengan ketinggian yang sesuai Penempatan loket mesin di dekat loket tiket Terdapat petugas keamanan untuk mengawasi di sekitar loket stasiun Di loket mesin harus bebas dari ruang pergerakan Membuat pembatas berupa kaca antara penumpang dan petugas di loket tapi tetap terbuka dan terlihat Penempatan gerbang tiket otomatis harus sebelum memasuki peron Loket mesin terjangkau bagi pengguna kursi roda Gerbang tiket dapat memproses dengan kecepatan 0.8 detik Gerbang tiket otomatis tersedia minimal 3 buah apabila terdapat kerusakan di salah satu gerbang Tersedia lokasi tak bergerbang untuk keadaan darurat Disediakan gate dengan luasan lebih untuk penyandang disabilitas Penumpang tidak dapat melihat kasir Sebisa mungkin penumpang tidak melihat sirkulasi keuangan
  • 21. SEMINAR PAPER Oktober 2015 20 Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada Kriteria Network Rail Amtrak Victorian Rail Kenyamanan Tersedia ruangan 1m2 per orang Tersedia ruang 20 sf per orang untuk dudukdan 10 sf per orang untuk berdiri Dengan level pelayanan menengah, tersedia ruang 2.32m2 per orang Meletakkan ruang tunggu yang memudahkan menuju fasilitas dan pergerakan penumpang sekitar Pembagian lokasi yang baik di ruang tunggu terdiri dari ruang duduk dan ruang berdiri Harus sangat mudah terlihat dari loket tiket dan dekat akses utama masuk dan keluar stasiun Menyediakan kursi sesuaidengan waktu tunggu mereka di stasiun Menyediakan retail di sekitar ruang tunggu yang mensupport listrik dan wifi Dapat melihat akses intermoda dari ruang tunggu dan kedatangan maupun keberangkatan kereta Terus memantau dan melakukan pembersihan berkala Mempunyai akses yang mudah menuju toilet, gerbang tiket, dan informasi kedatangan kereta Menyediakan sirkulasi udara yang nyaman Penempatan landmark yang mendukung ruang tunggu Dapat melihat langsung kereta yang datang dan pergi dari ruang tunggu Tercover dari pemberitahuan audio Memaksimalkan ruang retail tanpa mengganggu pergerakan penumpang Menyediakan lounge untuk penumpang kelas satu dengan fasilitas sofa, internet, fax, komputer, service makan dan minum, toilet VIP dan ruang rapat Tampilan informasi yang lengkap termasuk info perkeretaapian dan informasi intermoda Terdapat air minum gratis (drinking fountains) Tersedianya informasi mengenai daerah berbahaya karena terlalu dekat dengan kereta api Pemisahan ruang yang baik antara ruang tunggu dan boarding Adanya costumer help points yang memberikan pemberitahuan dan peringatan di ruang boarding Lokasi bahaya ditandai oleh marka khusus dan cat visual Konfigurasi ruang boarding yang sesuaidengan kebutuhan stasiun Dalam setiap ruang boarding tersedia costumer help points Jarak aman dari kereta api di lokasi boarding 500mm dari peron Tersedianya kanopi dengan ketinggian 2500mm serta tersedia PIDS, clocks, downpipes Ruang boarding diberikan kursi yang tidak mengganggu pergerakan penumpang maupun kereta Kursi tersedia disepanjang peron untuktempat singgah sementara Akses lain menuju ruang boarding harus dijaga dengan diberi barrier Tersedia toilet di setiap ruang tunggu Mudah diakses dari ruang tunggu atau akses jalan utama dengan papan yang jelas Lokasi berada di ruang tunggu,yang jauh dari sirkulasi publik dan terlihat dari loket tiket untuk pengamanan Menyediakan kebutuhan toilet bagi pria, wanita, serta penyandang cacat Untuk keamanan, lokasi toilet dapat terlihat dari tiket konter Didesain pintu masuk toilet selalu terlihat jelas dari ruang penumpang dan pos petugas Desain khusus toilet bagi penyandang cacat Toilet didesain dengan ruang sirkulasi yang besaruntuk kemudahan pergerakan pembawa bagasi Didesain toilet perempuan dan penyandang disabilitas di posisiyang lebih dekat ke ruang publik dibandingkan toilet pria Toilet disarankan tidak berpintu agar pembawa bagasibesar tidak kesulitam Pintu toilet didesain agar bisa dikunci oleh petugas keamanan
  • 22. Oktober 2015 SEMINAR PAPER Civil and Environmental Engineering, Universitas Gadjah Mada 21 Kriteria Network Rail Amtrak Victorian Rail Tersedia lebih dari 1 lokasi di stasiun,terutama bangunan stasiun bertingkat Kemudahan Signase dan informasi statis lainnya diperuntukkan untuk penumpang untuk mengetahui dimana mereka, mencari tau mau kemana dan memberikan petunjuk menuju ke lokasi Pemasangan signase statis lebih melayani sistem wayfinding menuju fasilitas stasiun dan peron dan info ini tidak pernah berubah Informasi statis mencakup signase,peta, informasi general, brosurdan jadwal kereta Informasi dinamis ditempatkan di berbagai titik seperti titik pembelian tiket, ruang tunggu dan di ruang boarding Pemasangan signase dinamis berganti setiap saat dan ditampilkan secara elektronik Signase dinamis mencakup informasi terkait penumpang secara real time ` Informasi audio di ruang publik dan lokasi tiket Lantai beralur untuktunanetra Di Costumer Service harus bebas dari ruang pergerakan penumpang Melayani pengguna jasa yang memiliki masalah mengenai perjalanan kereta api Tersedia bantuan penumpang yang ingin boarding Berlokasi di antara loket tiket dan ruang tunggu Fasilitas layanan penumpang terdiri dari counterinformasi dan costumer service Tersedia ruang kursi dan service counter, dan terhubung dengan ruang staff lain dibelakangnya Peron memiliki panjang yang memadai dari kereta terpanjang yang melewati stasiun Memperhatikan bentuk geometrik untuk mendapat lokasi peron terbaik Semakin lebar peron maka semakin aman dikarenakan pengguna jasa lebih baik membawa barang bawaaannya Menyediakan clereance dari kereta dan infrastruktur terdekat Ketinggian peron yang sama dengan kereta membuat aman lebih tenang dan pergerakan lebih cepat Lokasi masuk dan keluar peron sangat mempengaruhi kenyamanan penumpang dari ruang tunggunya Untuk masuk, keluar dan perpindahan antara peron tidak sebidang Mempengaruhi kenyamanan sirkulasi dengan level c Mempunyai mekanisme khusus saat keluar saat emergensi Train stopping mark sebagai tanda lokasi berhentinya kereta di stasiun Kesetaraan Akses jalan, ruang tunggu tiket konter, kamar mandi dan lainnya memiliki fasilitas khusus Tambahan Tersedianya restoran,vending machine, toko buku dll, dan first class club Terdapatnya dropoff lines Desain intermoda dengan baik dan aman Terdapat rental mobil Sedekat mungkin dengan stasiun,menyediakan akses clear dan menerus serta jelas terlihat aktivitasnya
  • 23. NASKAH SEMINAR TUGAS AKHIR DESAIN LAYOUT STASIUN KERETA API DAN INTEGRASINYA DENGAN BANDAR UDARA Kasus Stasiun Kereta Api Bandara, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S1 pada Program Studi Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan HALAMAM JUDUL Disusun oleh : A’ROOF TITO ANGGORO 11 / 320110 / TK / 38972 JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVRSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2015

Related Documents