‫ﺃﺻﺪﺭﻩ‬ ‫ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ‬ ‫ﻫﺬﺍ‬
‫ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﺮ‬ ‫ﺣﺰﺏ‬
‫ﺍﻷﻣﺔ‬ ‫ﺩﺍﺭ‬
à‘Ô3 šo7g‚3
p•S“;‚3‘ R[‹‚3‘ šn47gƒ‚
‰4‹7‚ ┵ 9‘þ6
135190 5⓽]
… 2004 − ›...
m
ô‰s%yxn=øùr&tβθãΖÏΒ÷σßϑø9$#∩⊇∪tÏ%©!$#öΝèδ’Îû
öΝÍκÍEŸξ|¹tβθãèϱ≈yz∩⊄∪tÏ%©!$#uρöΝèδÇtãÈθøó‾=9$#
šχθàÊ̍÷èãΒ∩⊂∪tÏ%©!...
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman,
2. (Yaitu) orang-orang yang khusyu‘ dalam shalatnya,
3. Dan orang-o...
dikeluarkan oleh
Hizbut Tahrir
1425H - 2004M
0#(5+;#*
+5.#/+;#*
2KNCT2KNCT 2GPIQMQJ
Perpustakaan Nasional: Katalog dalamTerbitan (KDT)
HIZBUT TAHRIR
Pilar-pilarPengokohNafsiyahIslamiyah/HizbutTahrir; Penerj...
Daftar Isi
Daftar Isi ~ 7
Pendahuluan ~ 9
1. Bersegera Melaksanakan Syariat ~ 16
2. Memelihara Al-Quran ~ 30
3. Cinta kepa...
9. Doa, Zikir, dan Istighfar ~ 139
10. Tawakal dan Ikhlash ~ 153
11. Konsisten dalam Kebenaran ~ 164
12. Lemah Lembut terh...
9
PENDAHULUAN
Syakhshiyah (kepribadian) pada setiap manusia terbentuk
oleh ‘aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap)...
10 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
dan hajat al-’adhawiyah (kebutuhan jasmani); yakni upaya
memenuhi tuntutan ters...
11Pendahuluan
mencintai dan membenci karena Allah, dan senantiasa bergaul
dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik.
D...
12 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Hanya saja, tidak berarti dalam diri prilakunyatidak akan
pernah ada kecacatan....
13Pendahuluan
kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya. Konsisten dalam
memegang kebenaran, bagai gunung yang tinggi menjula...
14 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Permulaan agama kalian adalah kenabian dan rahmat, kemudian
Khilafah yang mengi...
15Pendahuluan
mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi
hatinya yang ia berpikir dengannya; Aku ak...
16
~1~
BERSEGERA
MELAKSANAKAN SYARIAH
Allah Swt. berfirman:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan
kepada s...
17Bersegera Melaksanakan Syariah
Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa
yang taat kepada Allah dan ...
18 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu ...
19Bersegera Melaksanakan Syariah
hari seseorang beriman tapi di pagi harinya ia kafir. Ia menjual
agamanya dengan harta du...
20 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Nabi saw. berangkat bersama para sahabatnya hingga mendahului
kaum Musyrik samp...
21Bersegera Melaksanakan Syariah
Di dalam hadits Anas yang disepakati oleh al-Bukhâri dan
Muslim, beliau berkata:
Pamanku,...
22 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
maju ke medan perang) oleh Sa’ad bin Muadz. Maka Saad berkata,
“Ya Rasulullah s...
23Bersegera Melaksanakan Syariah
dengan bergegasnya Nabi. Kemudian Nabi saw. keluar dari kamar
istrinya menuju mereka. Nab...
24 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Ketika Rasulullah datang ke Madinah, maka Rasulullah saw. shalat
menghadap ke B...
25Bersegera Melaksanakan Syariah
Kemudian aku bertanya kepada Sa'id bin Jubair, dan ia menjawab,
“Keledai jinak itu dihara...
26 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Telah sampai berita kepada kami, ketika Allah Swt. menurunkan
firman-Nya (al-Mu...
27Bersegera Melaksanakan Syariah
mereka mengambil kain sarungnya, kemudian merobeknya dan
menjadikannya sebagai kain penut...
28 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Maka aku datang kepada sahabat-sahabatku (yang sedang minum
khamr) dan membacak...
29Bersegera Melaksanakan Syariah
Kami pada masa Nabi membajak tanah, kemudian menyewa-
kannya dengan (mendapat bagi hasil)...
30
~2~
MEMELIHARA AL-QURAN
Al-Quran yang mulia adalah firman Allah Swt. Al-Quran
diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad sa...
31Memelihara al-Quran
Sesunguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan Kami pasti
akan menjaganya. (TQS. al-Hijr [15]: 9)
Al...
32 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Quran langsung dari Rasulullah saw. sehingga ayat-ayatnya pun
menghujam dalam l...
33Memelihara al-Quran
orang yang memberi peringatan. (TQS. asy-Syu’arâ [26] : 193-
194)
Sesungguhnya Kami telah menurunkan...
34 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami,
menjelaskan kepa...
35Memelihara al-Quran
Rasulullah saw. bersabda :
Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari
al-Quran...
36 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Bacalah al-Quran, karena al-Quran akan datang pada hari kiamat
kelak memberi sy...
37Memelihara al-Quran
Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum (menuju
kemuliaan, penj.) dengan al-Quran ini dan deng...
38 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Quran adalah
seperti buah Utruja, rasa...
39Memelihara al-Quran
hadits tersebut telah mendorong pengemban al-Quran untuk
menelaahnya, mengamalkannya serta senantias...
40
~3~
CINTA KEPADA ALLAH
DAN RASUL-NYA
Al-Azhari berkata, “Arti cinta seorang hamba kepada
Allah dan Rasul-Nya adalah men...
41Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya
Maksudnya, pasti Allah akan ridha kepadamu. Al-Azhari berkata,
“Cinta Allah kepada hamb...
42 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
tidak mencintai bangsa Eropa yang bermigrasi ke negeri mereka
(karena menjajah ...
43Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (TQS. at-
Taubah [9]: 24).
Adapun dali...
44 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
Dari Anas ra., sesungguhnya Nabi saw. bersabda:
Ada tiga perkara, siapa saja ya...
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
Nafsiayah edisi-5-1-220
of 220

Nafsiayah edisi-5-1-220

Published on: Mar 3, 2016
Published in: Spiritual      
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Nafsiayah edisi-5-1-220

  • 1. ‫ﺃﺻﺪﺭﻩ‬ ‫ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ‬ ‫ﻫﺬﺍ‬ ‫ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﺮ‬ ‫ﺣﺰﺏ‬ ‫ﺍﻷﻣﺔ‬ ‫ﺩﺍﺭ‬ à‘Ô3 šo7g‚3 p•S“;‚3‘ R[‹‚3‘ šn47gƒ‚ ‰4‹7‚ ┵ 9‘þ6 135190 5⓽] … 2004 − ›Ž 1425
  • 2. m ô‰s%yxn=øùr&tβθãΖÏΒ÷σßϑø9$#∩⊇∪tÏ%©!$#öΝèδ’Îû öΝÍκÍEŸξ|¹tβθãèϱ≈yz∩⊄∪tÏ%©!$#uρöΝèδÇtãÈθøó‾=9$# šχθàÊ̍÷èãΒ∩⊂∪tÏ%©!$#uρöΝèδÍο4θx.¨“=Ï9tβθè=Ïè≈sù ∩⊆∪tÏ%©!$#uρöΝèδöΝÎγÅ_ρãà Ï9tβθÝàÏ ≈ym∩∈∪āωÎ) #’n?tãöΝÎγÅ_≡uρø—r&÷ρr&$tΒôMs3n=tΒöΝåκß]≈yϑ÷ƒr&öΝåκ¨ΞÎ*sùçŽöxî šÏΒθè=tΒ∩∉∪Çyϑsù4xötGö/$#u!#u‘uρy7Ï9≡sŒ y7Í×‾≈s9'ρé'sùãΝèδtβρߊ$yèø9$#∩∠∪tÏ%©!$#uρöΝèδ öΝÎγÏF≈oΨ≈tΒL{öΝÏδωôγtãuρtβθãã≡u‘∩∇∪tÏ%©!$#uρö/ãφ 4’n?tãöΝÍκÌE≡uθn=|¹tβθÝàÏù$ptä†∩∪y7Í×‾≈s9'ρé&ãΝèδ tβθèOÍ‘≡uθø9$#∩⊇⊃∪šÏ%©!$#tβθèO̍tƒ}¨÷ρyŠöÏ ø9$#öΝèδ $pκŽÏùtβρà$Î#≈yz∩⊇⊇∪]‫ن‬ ‫א‬[
  • 3. 1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2. (Yaitu) orang-orang yang khusyu‘ dalam shalatnya, 3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, 4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat, 5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, 6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. 7. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. 8. Dan orang-orang yang memelihara amanat- amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, 9. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. 10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, 11. (Ya‘ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. m (TQS. Al-Mukminûn [23]: 1-11)
  • 4. dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir 1425H - 2004M 0#(5+;#* +5.#/+;#* 2KNCT2KNCT 2GPIQMQJ
  • 5. Perpustakaan Nasional: Katalog dalamTerbitan (KDT) HIZBUT TAHRIR Pilar-pilarPengokohNafsiyahIslamiyah/HizbutTahrir; Penerjemah, Yasin; Penyunting, TimHTI-Press. Jakarta: HizbutTahrirIndonesia, 2004. 444 hlm.; 21 cm JudulAsli: Min Muqawimat Nafsiyah Islamiyah ISBN : 979-97292-2-7 JudulAsli: Min Muqawimat Nafsiyah Islamiyah Pengarang: Hizbut Tahrir Dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Cetakan ke-1: 1425 M/ 2004 H Edisi Indonesia Penerjemah: Yasin Penyunting: Tim HTI-Press Penata Letak: Anwar DesainSampul: Rian Penerbit: Hizbut Tahrir Indonesia GedungAnakida Lt.7 Jl. Prof. Soepomo Tebet, Jakarta Selatan Telp/Fax: (62-21)8353254 Cetakan ke-1, November2004 Cetakan ke-2, Juli 2005 Cetakan ke-3, Juni 2006 Cetakan ke-4, April 2007 Cetakan ke-5, April 2008
  • 6. Daftar Isi Daftar Isi ~ 7 Pendahuluan ~ 9 1. Bersegera Melaksanakan Syariat ~ 16 2. Memelihara Al-Quran ~ 30 3. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ~ 40 4. Cinta dan Benci karena Allah ~ 55 5. Takut kepada Allah dalam Kondisi Tersembunyi dan Terang-terangan ~ 87 6. Menangis karena Takut dan Ingat kepada Allah ~ 103 7. Mengharapkan Rahmat Allah dan Tidak Pustus Asa dari Rahmat-Nya ~ 111 8. Sabar Menghadapi Cobaan dan Ridha terhadap Qadha ~ 120
  • 7. 9. Doa, Zikir, dan Istighfar ~ 139 10. Tawakal dan Ikhlash ~ 153 11. Konsisten dalam Kebenaran ~ 164 12. Lemah Lembut terhadap kaum Mukmin dan Keras terhadap Kaum Kafir ~ 200 13. Merindukan Surga dan Berlomba dalam Kebaikan~ 221 14. Orang yang Paling Baik Akhlaknya ~ 272 Contoh-contoh Akhlak yang Baik~ 275 Contoh-contoh Akhlak yang Buruk ~ 313 15. Adab Berbicara ~ 402 A. Adab Mengajar ~ 402 B. Adab Berkhutbah ~ 416 C. Adab Berdebat ~ 419 16. Berbahagialah Orang-orang yang Terasing. Mereka Memperbaiki Apa-apa yang Dirusak Manusia ~ 432
  • 8. 9 PENDAHULUAN Syakhshiyah (kepribadian) pada setiap manusia terbentuk oleh ‘aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap)-nya. Bentuk tubuh, wajah, keserasian (fisik) dan sebagainya bukan unsur pembentuk syakhshiyah. Sebab semua itu hanyalah kulit (penampakan lahiriah) semata. Sangat dangkal jika ada yang beranggapan bahwa semua itu merupakan salah satu faktor yang membentuk dan mempengaruhi syakhshiyah. ‘Aqliyah (pola pikir) adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu; yakni cara mengeluarkan keputusan hukum tentang sesuatu, berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakini seseorang. Ketika seseorang memikirkan sesuatu untuk mengeluarkan keputusan hukum terhadapnya dengan menyandar kepada akidah Islam, maka ‘aqliyah-nya merupakan ‘aqliyah Islamiyah (pola pikir Islami). Jika tidak seperti itu, maka ‘aqliyah- nya merupakan ‘aqliyah yang lain. Sedangkan nafsiyah (pola sikap) adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan gharizah (naluri)
  • 9. 10 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah dan hajat al-’adhawiyah (kebutuhan jasmani); yakni upaya memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya. Jika pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani tersebut dilaksanakan dengan sempurna berdasarkan akidah Islam, maka nafsiyah-nya dinamakan nafsiyah Islamiyah. Jika pemenuhan tersebut tidak dilakukan dengan cara seperti itu, berarti nafsiyah- nya merupakan nafsiyah yang lain. Jika kaidah --yang digunakan-- untuk ‘aqliyah dan nafsiyah seseorang jenisnya sama, siapa pun dia, maka syakhshiyah-nya pasti merupakan syakhshiyah yang khas dan unik. Ketika seseorang menjadikan akidah Islam sebagai asas bagi ‘aqliyah dan nafsiyah-nya, maka syakhshiyah-nya merupakan syakhshiyah Islamiyah. Namun, jika tidak demikian, berarti syakhshiyah-nya adalah syakhshiyah yang lain. Karena itu (untuk membentuk syakhshiyah Islamiyah), tidak cukup hanya dengan ‘aqliyah Islamiyah, di mana pemiliknya bisa mengeluarkan keputusan hukum tentang benda dan perbuatan sesuai hukum-hukum syara’, sehingga dia mampu menggali hukum, mengetahui halal dan haram; dia juga memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang, mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat, serta mampu menganilisis berbagai peristiwa dengan benar. Semuanya itu belum cukup, kecuali setelah nafsiyah- nya juga menjadi nafsiyah Islamiyah, sehingga bisa memenuhi tuntutan gharizah dan hajat al-’adhawiyah-nya dengan landasan Islam. Dia akan mengerjakan shalat, puasa, zakat, haji, serta melaksanakan yang halal dan menjauhi yang haram. Dia berada dalam posisi yang memang disukai Allah, dan mendekatkan diri kepada-Nya, melalui apa saja yang telah difardhukan kepadanya, serta berkeinginan kuat untuk mengerjakan berbagai nafilah, hingga dia makin bertambah dekat dengan Allah Swt. Dia akan menyikapi berbagai kejadian dengan sikap yang benar dan tulus, memerintahkan yang makruf, dan mencegah yang munkar. Juga
  • 10. 11Pendahuluan mencintai dan membenci karena Allah, dan senantiasa bergaul dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik. Demikian juga tidak cukup jika nafsiyah-nya merupakan nafsiyah Islamiyah, sementara ‘aqliyah-nya tidak. Akibatnya, bisa jadi beribadah kepada Allah dengan kebodohan, yang justru menyebabkan pelakunya akan tersesat dari jalan yang lurus. Misalnya, berpuasa pada hari yang diharamkan; shalat pada waktu yang dimakruhkan, dan bersikap lemah terhadap orang yang melakukan kemunkaran, bukannya mengingkari dan mencegahnya. Bisa jadi dia akan bermuamalah dan bersedekah dengan riba, dengan anggapan, bisa mendekatkan diri kepada Allah, justru pada saat di mana sebenarnya dia telah tenggelam dalam kubangan dosanya. Dengan kata lain, dia telah melakukan kesalahan tapi menyangka telah melakukan kebajikan. Akibatnya, dia memenuhi tuntutan gharizah dan hajat al-’udhawiyah tidak sesuai dengan perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya saw. Sesungguhnya syakhshiyah Islamiyah ini tidak akan berjalan dengan lurus, kecuali jika ‘aqliyah orang tersebut adalah ‘aqliyah Islamiyah, yang mengetahui hukum-hukum yang memang dibutuhkannya, dengan senantiasa menambah ilmu-ilmu syariah sesuai dengan kemampuannya. Pada saat yang sama, nafsiyah- nya juga merupakan nafsiyah Islamiyah, sehingga dia akan melaksanakan hukum-hukum syara’, bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diterapkan dalam segala urusannya, baik dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri, maupun dengan sesamanya, sesuai dengan cara yang memang disukai dan diridhai oleh Allah Swt. Jika ‘aqliyah dan nafsiyah-nya telah terikat dengan Islam, berarti dia telah menjelma menjadi syakhshiyah Islamiyah, yang akan melapangkan jalannya menuju kebaikan di tengah-tengah berbagai kesulitan, dan dia pun tidak pernah takut terhadap celaan orang yang mencela, semata-mata karena Allah.
  • 11. 12 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Hanya saja, tidak berarti dalam diri prilakunyatidak akan pernah ada kecacatan. Tetapi (kalaulah ada), kecacatan tersebut tidak akan mempengaruhi syakhshiyah-nya selama kecacatannya bukan perkara pangkal (dalam kepribadiannya), melainkan pengecualian (kadang terjadi, kadang tidak). Alasannya, karena manusia bukanlah malaikat. Dia bisa saja melakukan kesalahan, lalu memohon ampunan dan bertaubat. Bisa juga dia melakukan kebenaran, lalu memuji Allah atas kebaikan, karunia, dan hidayah- Nya. Ketika seorang muslim meningkatkan tsaqafah Islamnya untuk meningkatkan ‘aqliyah-nya, dan meningkatkan ketaatannya untuk memperkuat nafsiyah-nya; ketika dia berjalan menuju puncak kemuliaan, dan teguh dalam mengarungi puncak kemuliaan, bahkan semakin tinggi, dari yang tinggi ke yang lebih tinggi lagi; dalam kondisi seperti ini, dia bisa menguasai kehidupan (dunia) dengan sesungguhnya, serta memperoleh kebahagian akhirat melalui segala usahanya ke sana, dengan keyakinan penuh. Dia akan menjadi orang yang senantiasa dekat dengan mihrab, pada saat yang sama menjadi pahlawan perang (jihad). Predikatnya yang tertinggi adalah bahwa dia merupakan hamba Allah Swt., Penciptanya. Di dalam buku ini, kami mempersembahkan kepada kaum Muslim umumnya, dan para pengemban dakwah khususnya, beberapa pilar pengokoh nafsiyah Islamiyah, supaya lisan para pengemban dakwah —yang sedang berjuang untuk menegakkan Khilafah— senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah; hatinya senantiasa dipenuhi dengan ketakwaan kepada Allah; anggota badannya senantiasa bergegas melaksanakan berbagai kebaikan. Membaca al-Quran dan mengamalkannya, serta mencintai Allah dan Rasul-Nya. Suka dan benci karena Allah. Senantisa mengharapkan rahmat Allah, dan takut akan azab-Nya. Bersabar sembari terus melakukan instrospeksi, disertai kepatuhan penuh
  • 12. 13Pendahuluan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya. Konsisten dalam memegang kebenaran, bagai gunung yang tinggi menjulang. Bersikap lemah-lembut dan penuh kasih sayang kepada orang- orang Mukmin, dan bersikap keras dan terhormat di hadapan orang-orang kafir. Dia tidak terpengaruh oleh caci maki orang yang mencaci maki, semata karena Allah; akhlaknya baik, tutur katanya manis, hujjahnya kuat, dan senantiasa menyerukan kepada yang makruf dan mencegah kemunkaran. Dia melangkah dan beramal di dunia, sementara kedua matanya senantiasa menatap nun jauh di sana (negeri akhirat), surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Tak lupa, kami juga ingin mengingatkan para pengemban dakwah yang tengah berjuang demi melanjutkan kembali kehidupan Islam di muka bumi ini dengan menegakkan negara Khilafah Rasyidah. Kami ingin mengingatkan mereka tentang kondisi riil tempat mereka berkiprah. Sesungguhnya goncangan yang bertubi-tubi dari musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya sedang mengepung mereka. Sementara, jika mereka tidak bersama Allah di tengah malam dan di ujung-ujung waktu siang hari, bagaimana mungkin mereka bisa membuka jalan di tengah-tengah berbagai kesulitan? Bagaimana mungkin mereka bisa meraih apa yang mereka harapkan? Bagaimana mungkin mereka bisa mendaki tempat yang tinggi dan menuju ke tempat yang lebih tinggi lagi? Bagaimana dan bagaimana? Terakhir, hendaknya para pengemban dakwah kembali menelaah dan menghayati dua hadits yang bisa menerangi dan membimbing jalan mereka untuk meraih tujuan mereka. Cahaya itu kelak akan membimbing kedua kaki mereka. Pertama: »‫ﺩ‬‫ﻮ‬‫ﻌ‬‫ﺗ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﺛ‬ ... ِ‫ﺓ‬‫ﻮ‬‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ِ‫ﺝ‬‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﹲ‬‫ﺔ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬‫ﹶ‬‫ﻼ‬ِ‫ﺧ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﺛ‬ ‫ﹲ‬‫ﺔ‬‫ﻤ‬‫ﺣ‬‫ﺭ‬‫ﻭ‬ ‫ﹲ‬‫ﺓ‬‫ﻮ‬‫ﺒ‬‫ﻧ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﻜ‬ِ‫ﻨ‬‫ﻳ‬ِ‫ﺩ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﻭ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ِ‫ﺓ‬‫ﻮ‬‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ِ‫ﺝ‬‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﹲ‬‫ﺔ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬‫ﹶ‬‫ﻼ‬ِ‫ﺧ‬
  • 13. 14 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Permulaan agama kalian adalah kenabian dan rahmat, kemudian Khilafah yang mengikuti metode kenabian… kemudian akan kembali lagi Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian. Dalam hadits ini terdapat kabar gembira, bahwa Khilafah akan kembali lagi dengan izin Allah. Tetapi, Khilafah tersebut akan kembali seperti Khilafah yang pertama, yaitu kekhilafahan para Khalifah yang mendapatkan petunjuk, para sahabat Rasulullah saw. Maka, siapa saja yang berambisi untuk mengembalikan-nya, dan rindu untuk melihatnya, hendaklah dia melangkahkan langkahnya ke sana, disertai keyakinan, agar dia bisa seperti para sahabat Rasulullah saw. atau orang-orang seperti mereka. Kedua: Sesungguhnya Allah Swt.berfirman,“Barangsiapa menghinakan wali (kekasih)-Ku, ia telah terang-terangan memusuhi-Ku. Wahai Anak Adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah,maka pasti Aku akan ِ‫ﺓ‬‫ﻮ‬‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ِ‫ﺝ‬‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﹲ‬‫ﺔ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬‫ﹶ‬‫ﻼ‬ِ‫ﺧ‬« ،‫ﻚ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﻪ‬‫ﺘ‬‫ﺿ‬‫ﺮ‬‫ﺘ‬‫ﹾ‬‫ﻓ‬‫ﺍ‬ ‫ﺎ‬‫ﻣ‬ ِ‫ﺀ‬‫ﺍ‬‫ﺩ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﱠ‬‫ﻻ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺪ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻋ‬ ‫ﺎ‬‫ﻣ‬ ‫ﻙ‬ِ‫ﺭ‬‫ﺪ‬‫ﺗ‬ ‫ﻦ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﻡ‬‫ﺩ‬‫ﺁ‬‫ﻭ‬‫ﻻ‬‫ِﻱ‬‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻋ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﺍ‬‫ﺰ‬‫ﻳ‬ »َ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﱠ‬‫ﻥ‬ِ‫ﺇ‬‫ﻪ‬‫ﻧ‬‫ﺎ‬‫ﺤ‬‫ﺒ‬‫ﺳ‬‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬:‫ﻦ‬‫ﻣ‬‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺎ‬‫ﻫ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﺎ‬‫ﻴ‬ِ‫ﻟ‬‫ﻭ‬ ‫ﻲ‬ِ‫ﻟ‬‫ﺪ‬‫ﹶ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬‫ﻰ‬ِ‫ﻧ‬‫ﺯ‬‫ﺭ‬‫ﹶ‬‫ﺎ‬‫ﺑ‬‫ﻦ‬‫ﺑ‬‫ﺍ‬ ،ِ‫ﺓ‬‫ﻭ‬‫ﺍ‬‫ﺪ‬‫ﻌ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ ‫ﻰ‬‫ﺘ‬‫ﺣ‬ ِ‫ﻞ‬ِ‫ﻓ‬‫ﺍ‬‫ﻮ‬‫ﻨ‬‫ِﺎﻟ‬‫ﺑ‬ ‫ﻲ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﺏ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻘ‬‫ﺘ‬‫ﻳ‬‫ﻪ‬‫ﺒ‬ِ‫ﺣ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬‫ﻪ‬‫ﻧ‬‫ﺎ‬‫ﺴ‬ِ‫ﻟ‬‫ﻭ‬ ،ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﹸ‬‫ﻞ‬ِ‫ﻘ‬‫ﻌ‬‫ﻳ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﻪ‬‫ﺒ‬‫ﹾ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﻮ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﹸ‬‫ﺔ‬‫ﺤ‬‫ﻴ‬ِ‫ﺼ‬‫ﻨ‬‫ﺍﺍﻟ‬ ‫ﻲ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻱ‬ِ‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻋ‬ ِ‫ﺓ‬‫ﺩ‬‫ﺎ‬‫ﺒ‬ِ‫ﻋ‬ ‫ﺐ‬‫ﺣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ،‫ﻪ‬‫ﺗ‬‫ﺮ‬‫ﺼ‬‫ﻧ‬ ‫ﻲ‬ِ‫ﻧ‬‫ﺮ‬‫ﺼ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬‫ﺳ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶﺍ‬‫ﺫ‬‫ﹶ‬‫ﺇ‬‫ﻭ‬ ،‫ﻪ‬‫ﺘ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻄ‬‫ﻋ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬« ‫ِﻲ‬‫ﻨ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﺳ‬ ‫ﹶﺍ‬‫ﺫ‬ِ‫ﺇ‬‫ﻭ‬ ،‫ﻪ‬‫ﺘ‬‫ﺒ‬‫ﺟ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻲ‬ِ‫ﻧ‬‫ﺎ‬‫ﻋ‬‫ﺩ‬ ‫ﹶﺍ‬‫ﺫ‬ِ‫ﺈ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ،ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﺮ‬ِ‫ﺼ‬‫ﺒ‬‫ﻳ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﻩ‬‫ﺮ‬‫ﺼ‬‫ﺑ‬‫ﻭ‬ ،ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻖ‬ِ‫ﻄ‬‫ﻨ‬‫ﻳ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬
  • 14. 15Pendahuluan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; Aku akan menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. Ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat.” (Dikeluarkan oleh ath-Thabrâni dalam kitab al-Kabir) Hadits ini berisi penjelasan mengenai jalan untuk meraih pertolongan dan bantuan Allah, serta dukungan dari sisi-Nya dengan mendekatkan diri kepada-Nya, dan memohon pertolongan kepada- Nya. Dialah Dzat yang Maha Kuat dan Perkasa. Siapa saja yang membela Allah, dia tidak akan pernah dihinakan. Sebaliknya, siapa saja yang menghina-Nya, maka dia tidak akan pernah diberi pertolongan.Dia sangatdekatdengan hamba-Nya,ketika dia berdoa kepada-Nya. Dia Maha mengabulkan doa hamba-Nya, ketika dia memohon untuk dikabulkan. Dialah Dzat yang Maha Perkasa di atas hamba-Nya. Dialah Dzatyang Maha Lembutdan Maha Mengetahui. Karena itulah wahai saudaraku, bersegeralah kalian menggapai ridha dan ampunan Allah, juga menggapai surga dan pertolongan-Nya, serta keberuntungan di dunia dan akhirat. Allah Swt. berfirman: Dalam yang demikian itu hendaklah orang-orang yang berlomba bersegera mengadakan perlombaan. (TQS. al-Muthafifîn [83]: 26) 21 Dzul Hijjah 1424 H 12 Februari 2004 M ’Îûuρy7Ï9≡sŒÄ§sù$uΖoKu‹ù=sùtβθÝ¡Ï ≈oΨtGßϑø9$#
  • 15. 16 ~1~ BERSEGERA MELAKSANAKAN SYARIAH Allah Swt. berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 133) Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” (#þθããÍ‘$y™uρ4’nÎ);οtÏ øótΒÏiΒöΝà6În/§‘π¨Ψy_uρ$yγàÊótãßN≡uθ≈yϑ¡¡9$#ÞÚö‘F{$#uρ ôN£‰ÏãétÉ)−Gßϑù=Ï9∩⊇⊂⊂∪ $yϑ‾ΡÎ)tβ%x.tΑöθs%tÏΖÏΒ÷σßϑø9$##sŒÎ)(#þθããߊ’nÎ)«!$#ÏÎ!θß™u‘uρu/ä3ósu‹Ï9öΝßγoΨ÷t/βr (#θä9θà)tƒ$uΖ÷èÏϑy™$uΖ÷èsÛruρ4y7Í×‾≈s9'ρéuρãΝèδtβθßsÎ=ø ßϑø9$#∩∈⊇∪tΒuρÆìÏÜラ!$# …ãs!θß™u‘uρ|·øƒs†uρ©!$#ϵø)−Gtƒuρy7Í×‾≈s9'ρé'sùãΝèδtβρâ“Í←!$x ø9$#∩∈⊄∪
  • 16. 17Bersegera Melaksanakan Syariah Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (TQS. an-Nûr [24]: 51-52) Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata. (TQS. al-Ahzâb [33]: 36) Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. an-Nisa [4]: 65) Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak $tΒuρtβ%x.9ÏΒ÷σßϑÏ9ŸωuρπuΖÏΒ÷σãΒ#sŒÎ)|Ós%ª!$#ÿ…ãè!θß™u‘uρ#—øΒrβrtβθä3tƒãΝßγs9 äοuŽzÏƒø:$#ôÏΒöΝÏδ̍øΒr3tΒuρÄÈ÷ètƒ©!$#…ãs!θß™u‘uρô‰s)sù¨≅|ÊWξ≈n=|Ê$YƏÎ7•Β∩⊂∉∪ $pκš‰r'‾≈tƒtÏ%©!$#(#θãΖtΒ#u(#þθè%ö/ä3|¡à Ρrö/ä3‹Î=÷δruρ#Y‘$tΡ$yδߊθè%uρâ¨$¨Ζ9$#äοu‘$yfÏtø:$#uρ $pκöŽn=tæîπs3Í×‾≈n=tΒÔâŸξÏî׊#y‰Ï©āωtβθÝÁ÷ètƒ©!$#!$tΒöΝèδttΒrtβθè=yèø tƒuρ$tΒtβρâ÷s∆÷σム∩∉∪ Ÿξsùy7În/u‘uρŸωšχθãΨÏΒ÷σãƒ4®Lymx8θßϑÅj3ysãƒ$yϑŠÏùtyfx©óΟßγoΨ÷t/§ΝèOŸω(#ρ߉Ågs† þ’ÎûöΝÎηÅ¡à Ρr%[`tym$£ϑÏiΒ|MøŠŸÒs%(#θßϑÏk=|¡ç„uρ$VϑŠÎ=ó¡n@∩∉∈∪
  • 17. 18 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (TQS. at-Tahrîm [66]: 6) Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpun-kannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia,“Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman,“Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”. (TQS. Thâhâ [20]: 123-126) Rasulullah saw. bersabda : Bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. (Saat itu) di pagi hari seseorang beriman tapi di sore harinya ia menjadi kafir. Di sore $¨ΒÎ*sù…Νà6¨ΖtÏ?ù'tƒÍh_ÏiΒ“W‰èδÇyϑsùyìt7©?$#y“#y‰èδŸξsù‘≅ÅÒtƒŸωuρ4’s+ô±o„ ∩⊇⊄⊂∪ôtΒuρuÚtôãrtã“̍ò2ÏŒ¨βÎ*sù…ãs!Zπt±ŠÏètΒ%Z3Ψ|Ê…çνãà±øtwΥuρuΘöθtƒ Ïπyϑ≈uŠÉ)ø9$#4‘yϑôãr∩⊇⊄⊆∪tΑ$s%Ébu‘zΟÏ9ûÍ_s?÷Ž|³ym4‘yϑôãrô‰s%uρàMΖä.#ZŽÅÁt/∩⊇⊄∈∪ tΑ$s%y7Ï9≡x‹x.y7÷Gs?r$uΖçF≈tƒ#u$pκtJŠÅ¡uΖsù(y7Ï9≡x‹x.uρtΠöθu‹ø9$#4|¤Ψè?∩⊇⊄∉∪ »‫ـﺎ‬‫ـ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﻣ‬ ‫ﹸ‬‫ﻞ‬‫ـ‬‫ـ‬‫ﺟ‬‫ﺮ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﺢ‬ِ‫ﺒ‬‫ﺼ‬‫ﻳ‬ ِ‫ﻢ‬ِ‫ﻠ‬‫ﹾ‬‫ﻈ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻞ‬‫ﻴ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ﺍﻟ‬ ِ‫ﻊ‬‫ﹶ‬‫ﻄ‬ِ‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻛ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬ِ‫ﻓ‬ ِ‫ﻝ‬‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺎ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻭﺍ‬‫ﺭ‬ِ‫ﺩ‬‫ﺎ‬‫ﺑ‬ ‫ﻦ‬‫ـ‬‫ِـ‬‫ﻣ‬ ٍ‫ﺽ‬‫ﺮ‬‫ﻌ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ِﻳ‬‫ﺩ‬ ‫ﻊ‬‫ِﻴ‬‫ﺒ‬‫ﻳ‬ ‫ﺍ‬‫ﺮ‬ِ‫ﻓ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻛ‬ ‫ﺢ‬ِ‫ﺒ‬‫ﺼ‬‫ﻳ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﻣ‬ ‫ِﻲ‬‫ﺴ‬‫ﻤ‬‫ﻳ‬ ‫ﻭ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺍ‬‫ﺮ‬ِ‫ﻓ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻛ‬ ‫ِﻲ‬‫ﺴ‬‫ﻤ‬‫ﻳ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴ‬‫ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﺍﻟ‬«
  • 18. 19Bersegera Melaksanakan Syariah hari seseorang beriman tapi di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamanya dengan harta dunia. (HR. Muslim dari Abû Hurairah). Sesungguhnya orang-orang yang bersegera menuju ampunan Allah dan surga-Nya, serta bersegera melaksanakan berbagai amal shalih, mereka dapat dijumpai di masa Rasulullah saw. dan di masa–masa sesudahnya. Umat senantiasa memuliakan mereka yang bergegas menyambut perintah Tuhannya dan mengorbankan diri mereka, semata-mata mencari ridha Allah. Di antaranya adalah: Di dalam hadits Jabir yang disepakati oleh al-Bukhâri dan Muslim, beliau menyatakan: Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah saw. pada perang Uhud, “Tahukah Engkau dimana tempatku jika aku terbunuh?” Rasulullah bersabda, “Engkau akan berada di surga.” Mendengar sabda Rasulullah saw. tersebut, maka laki-laki itu serta- merta melemparkan buah-buah kurma yang ada di tangannya, kemudian ia maju untuk berperang hingga terbunuh di medan perang. Di dalam hadits Anas yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: ‫ﻲ‬ِ‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ِﻠ‬‫ﻟ‬ ‫ﹲ‬‫ﻞ‬‫ﺟ‬‫ﺭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬»ٍ‫ﺪ‬‫ﺣ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬ ‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ﻳ‬:‫ـﺎ؟‬‫ـ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬‫ﻳ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺖ‬‫ﹾ‬‫ﻠ‬ِ‫ﺘ‬‫ﹸ‬‫ﻗ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﺖ‬‫ﻳ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﺭ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬:‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ «‫ﹶ‬‫ﻞ‬ِ‫ﺘ‬‫ﹸ‬‫ﻗ‬ ‫ﻰ‬‫ﺘ‬‫ﺣ‬ ‫ﹶ‬‫ﻞ‬‫ﺗ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﺛ‬ ِ‫ﻩ‬ِ‫ﺪ‬‫ﻳ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ ٍ‫ﺕ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺗ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ﺠ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬ ‫ﻖ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻄ‬‫ﻧ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻓ‬»ٍ‫ﺭ‬‫ﺪ‬‫ﺑ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﲔ‬ِ‫ﻛ‬ِ‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸﻮﺍ‬‫ﻘ‬‫ﺒ‬‫ﺳ‬ ‫ﻰ‬‫ﺘ‬‫ﺣ‬ ‫ﻪ‬‫ﺑ‬‫ﺎ‬‫ﺤ‬‫ﺻ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹸﻮ‬‫ﻛ‬ِ‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ َ‫ﺀ‬‫ﺎ‬‫ﺟ‬‫ﻭ‬،ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬:‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﺿ‬‫ﺮ‬‫ﻋ‬ ٍ‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ﺟ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻮﺍ‬‫ﻣ‬‫ﹸﻮ‬‫ﻗ‬
  • 19. 20 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Nabi saw. berangkat bersama para sahabatnya hingga mendahului kaum Musyrik sampai ke sumur Badar. Setelah itu kaum Musyrik pun datang. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Berdirilah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Anas bin Malik berkata; maka berkatalah Umair bin al-Humam al-Anshary, “Wahai Rasulullah! Benarkah yang kau maksud itu surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasulullah saw. menjawab,“Benar” Umair berkata, “ehm-ehm”. Rasulullah saw. bertanya kepada Umair, “Wahai Umair, apa yang mendorongmu untuk berkata ehm-ehm?” Umair berkata, “Tidak ada apa-apa Ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi penghuninya”. Rasulullah saw. bersabda, “Sesunguhnya engkau termasuk penghuninya, Wahai Umair!” Anas bin Malik berkata; Kemudian Umair bin al-Humam mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya dan ia pun memakannya. Kemudian berkata, “Jika aku hidup hinggaakumemakan kurma-kurmaini sesungguhnya itu adalah kehidupan yang lama sekali.” Anas berkata; Maka Umair pun melemparkan kurma yang dibawanya, kemudian maju untuk memerangi kaum Musyrik hingga terbunuh. ‫ﺽ‬‫ﺭ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬ ‫ﺕ‬‫ﺍ‬‫ﻮ‬‫ﻤ‬‫ﺴ‬‫ﺍﻟ‬،‫ﻱ‬ِ‫ﺭ‬‫ــﺎ‬‫ﺼ‬‫ﻧ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻡ‬‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﺤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﻦ‬‫ﺑ‬ ‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﹸﻮ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬:‫ﺎ‬‫ﻳ‬ ‫ـﺎ‬‫ـ‬‫ﻬ‬ِ‫ﻠ‬‫ﻫ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹸﻮ‬‫ﻛ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹶ‬‫ﺓ‬َ‫ﺀ‬‫ﺎ‬‫ﺟ‬‫ﺭ‬ ‫ﱠ‬‫ﻻ‬ِ‫ﺇ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬،‫ﻚ‬‫ﻧ‬ِ‫ﺈ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬‫ﺎ‬‫ﻬ‬ِ‫ﻠ‬‫ﻫ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬، ‫ﺽ‬‫ﺭ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬ ‫ﺕ‬‫ﺍ‬‫ﻮ‬‫ﻤ‬‫ﺴ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﺿ‬‫ﺮ‬‫ﻋ‬ ‫ﹲ‬‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ﺟ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫؟‬‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬:‫ﻢ‬‫ﻌ‬‫ﻧ‬،‫ﺦ‬‫ﺑ‬ ‫ﺦ‬‫ﺑ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬، ِ‫ﻪ‬ِ‫ﻧ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ٍ‫ﺕ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺗ‬ ‫ﺝ‬‫ﺮ‬‫ﺧ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬،‫ﻦ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﹸ‬‫ﻞ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬‫ﹾ‬‫ﺄ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻞ‬‫ﻌ‬‫ﺠ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬،‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﺛ‬:‫ﺖ‬‫ﻴ‬‫ﻴ‬‫ﺣ‬ ‫ﺎ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﺌ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﹲ‬‫ﺔ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ِﻳ‬‫ﻮ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ‫ﹲ‬‫ﺓ‬‫ﺎ‬‫ﻴ‬‫ﺤ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻧ‬ِ‫ﺇ‬ ِ‫ﻩ‬ِ‫ﺬ‬‫ﻫ‬ ‫ﻲ‬ِ‫ﺗ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺗ‬ ‫ﹶ‬‫ﻞ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬‫ﺁ‬ ‫ﻰ‬‫ﺘ‬‫ﺣ‬:‫ﻪ‬‫ﻌ‬‫ﻣ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻛ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻰ‬‫ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬‫ﺦ‬‫ﺑ‬ ‫ﺦ‬‫ﺑ‬ ِ‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﻚ‬‫ﹸ‬‫ﻠ‬ِ‫ﻤ‬‫ﺤ‬‫ﻳ‬ ‫ﺎ‬‫ﻣ‬،‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬:‫ﺎ‬‫ﻳ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬ ِ‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺘ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬،‫ﻰ‬‫ﺘ‬‫ﺣ‬ ‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﺗ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﺛ‬‫ﹶ‬‫ﻞ‬ِ‫ﺘ‬‫ﹸ‬‫ﻗ‬«
  • 20. 21Bersegera Melaksanakan Syariah Di dalam hadits Anas yang disepakati oleh al-Bukhâri dan Muslim, beliau berkata: Pamanku, yaitu Anas bin an-Nadhr tidak ikut perang Badar. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah saw.! Aku tidak ikut dalam peperangan pertama, di mana engkau memerangi kaum Musyrik. Sungguh jika Allah memperlihatkan kepadaku peperangan melawan kaum Musyrik, maka Allah pasti akan melihat apa yang akan aku lakukan.” Anas berkata; Maka ketika masa perang Uhud tiba, dan kaum Muslim pun telah siap, Anas bin Nadhr berkata, “Ya Allah! aku meminta ampun kepadamu dari apa yang dilakukan oleh mereka (yakni para sahabat) dan aku membebaskan diri dari apa yang dilakukan oleh mereka (yakni kaum Musyrik).” Kemudian ia pun maju dan disambut (di halangi supaya tidak cepat-cepat ‫ﻊ‬‫ﻨ‬‫ﺻ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻣ‬ ُ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﻦ‬‫ﻳ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬،ٍ‫ﺪ‬‫ﺣ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬ ‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻛ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬،‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﻮ‬‫ﻤ‬ِ‫ﻠ‬‫ﺴ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﻒ‬‫ﺸ‬‫ﹶ‬‫ﻜ‬‫ﻧ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬،‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬: ‫ﻪ‬‫ﺑ‬‫ﺎ‬‫ﺤ‬‫ـ‬‫ـ‬‫ﺻ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻨ‬‫ﻌ‬‫ﻳ‬ ِ‫ﺀ‬‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﺆ‬‫ﻫ‬ ‫ﻊ‬‫ﻨ‬‫ﺻ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﻚ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﺭ‬ِ‫ﺬ‬‫ﺘ‬‫ﻋ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻲ‬‫ﻧ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ﺍﻟ‬،‫ﻚ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﹸ‬‫ﺃ‬‫ﺮ‬‫ﺑ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ٍ‫ﺪ‬‫ﺣ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬،‫ـﺎ‬‫ـ‬‫ﻣ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳ‬ ‫ﺖ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻄ‬‫ﺘ‬‫ﺳ‬‫ﺍ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺪ‬‫ﻌ‬‫ﺳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬،‫ﻊ‬‫ﻨ‬‫ﺻ‬‫ﺲ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬: ‫ﲔ‬ِ‫ﻛ‬ِ‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﺖ‬‫ﹾ‬‫ﻠ‬‫ﺗ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ٍ‫ﻝ‬‫ﺎ‬‫ﺘ‬ِ‫ﻗ‬ ِ‫ﻝ‬‫ﻭ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬‫ﻋ‬،‫ﲔ‬ِ‫ﻛ‬ِ‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﺎ‬‫ﺘ‬ِ‫ﻗ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﻬ‬‫ﺷ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ُ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻦ‬ِ‫ﺌ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬، ‫ﲔ‬ِ‫ﻛ‬ِ‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻨ‬‫ﻌ‬‫ﻳ‬ ِ‫ﺀ‬‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﺆ‬‫ﻫ‬ ‫ﻊ‬‫ﻨ‬‫ﺻ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬ِ‫ﻣ‬،ٍ‫ﺫ‬‫ﺎ‬‫ﻌ‬‫ﻣ‬ ‫ﻦ‬‫ﺑ‬ ‫ﺪ‬‫ﻌ‬‫ﺳ‬ ‫ﻪ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﺒ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﺘ‬‫ﺳ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻓ‬ ‫ﻡ‬‫ﺪ‬‫ﹶ‬‫ﻘ‬‫ﺗ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﺛ‬، ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬:‫ﺪ‬‫ﻌ‬‫ﺳ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳ‬‫ﻦ‬‫ﺑ‬ِ‫ﻥ‬‫ﻭ‬‫ﺩ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﳛ‬ِ‫ﺭ‬ ‫ﺪ‬ِ‫ﺟ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻲ‬‫ﻧ‬ِ‫ﺇ‬ ِ‫ﺮ‬‫ﻀ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﺏ‬‫ﺭ‬‫ﻭ‬ ‫ﹸ‬‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ﺠ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ٍ‫ﺫ‬‫ﺎ‬‫ﻌ‬‫ﻣ‬ »ٍ‫ﺭ‬‫ﺪ‬‫ﺑ‬ ِ‫ﻝ‬‫ﺎ‬‫ﺘ‬ِ‫ﻗ‬ ‫ﻦ‬‫ﻋ‬ ِ‫ﺮ‬‫ﻀ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﻦ‬‫ﺑ‬ ‫ﺲ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻲ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬ ‫ﺏ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻏ‬،‫ﺖ‬‫ﺒ‬ِ‫ﻏ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ٍ‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﺴ‬ِ‫ﺑ‬،‫ﹶ‬‫ﻞ‬ِ‫ﺘ‬‫ﹸ‬‫ﻗ‬ ‫ﺪ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬ ‫ﻩ‬‫ﺎ‬‫ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﺟ‬‫ﻭ‬‫ﻭ‬،‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹸﻮ‬‫ﻛ‬ِ‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﹶ‬‫ﻞ‬‫ﱠ‬‫ﺜ‬‫ﻣ‬ ‫ﺪ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬‫ﻭ‬،‫ﺪ‬‫ﺣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻪ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬‫ﺮ‬‫ﻋ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﻧ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺒ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻪ‬‫ﺘ‬‫ﺧ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬ ‫ﱠ‬‫ﻻ‬ِ‫ﺇ‬« ٍ‫ﺔ‬‫ـ‬‫ـ‬‫ﻴ‬‫ﻣ‬‫ﺭ‬ ‫ﻭ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ٍ‫ﺢ‬‫ﻣ‬‫ﺮ‬‫ـ‬‫ِـ‬‫ﺑ‬ ‫ﹰ‬‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ‫ﻭ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ِ‫ﻒ‬‫ﻴ‬‫ﺴ‬‫ِﺎﻟ‬‫ﺑ‬ ‫ﹰ‬‫ﺔ‬‫ﺑ‬‫ﺮ‬‫ﺿ‬ ‫ﲔ‬ِ‫ﻧ‬‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﺛ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻌ‬‫ﻀ‬ِ‫ﺑ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﺎ‬‫ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﺟ‬‫ﻮ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬
  • 21. 22 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah maju ke medan perang) oleh Sa’ad bin Muadz. Maka Saad berkata, “Ya Rasulullah saw., aku tidak mampu menahan apa yang dilakukannya.” Anas bin Malik berkata; Maka kami menemukan lebih dari delapan puluh bekas tebasan pedang, tusukan tombak, dan panah. Kami menemukannya telah terbunuh. Ia mati dalam keadaan dicincang oleh kaum Musyrik, hingga tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya, karena mengenali ujung jarinya. Anas berkata, “Kami berpendapat atau mengira bahwa firman Allah: Dan di antara kaum Mukmin ada orang-orang yang membenarkan janji mereka kepada Allah…(TQS. al-Ahzâb [33]: 23); ini diturunkan untuk menjelaskan ihwal syahidnya Anas bin Nadhr dan orang-orang yang seperti dia.” Al-Bukhâri telah meriwayatkan dari Abû Sarû’ah, beliau berkata: Suatu saat aku shalat Ashar di belakang Nabi saw. di Madinah. Kemudian beliau saw. membaca salam dan cepat-cepat berdiri, lalu melangkahi pundak orang-orang yang ada di masjid menuju ke sebagian kamar istrinya. Maka orang-orang pun merasa kaget ‫ﺍ‬ ‫ﻉ‬ِ‫ﺰ‬‫ﹶ‬‫ﻔ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺋ‬‫ﺎ‬‫ﺴ‬ِ‫ﻧ‬ ِ‫ﺮ‬‫ﺠ‬‫ﺣ‬ ِ‫ﺾ‬‫ﻌ‬‫ﺑ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ِ‫ﺱ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﺏ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ِ‫ﺭ‬‫ﺝ‬‫ﺮ‬‫ﺨ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺘ‬‫ﻋ‬‫ﺮ‬‫ﺳ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﺱ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﻟ‬ ‫ﺕ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻛ‬‫ﹶ‬‫ﺫ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺘ‬‫ﻋ‬‫ﺮ‬‫ﺳ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﻮﺍ‬‫ﺒ‬ِ‫ﺠ‬‫ﻋ‬ ‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹶﻯ‬‫ﺃ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﻢ‬ِ‫ﻬ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬‫ﺎ‬‫ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻋ‬ ٍ‫ﺮ‬‫ﺒ‬ِ‫ﺗ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﹰﺎ‬‫ﺌ‬‫ﻴ‬‫ﺷ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺘ‬‫ﻤ‬‫ﺴ‬ِ‫ﻘ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﺕ‬‫ﺮ‬‫ﻣ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﻲ‬ِ‫ﻨ‬‫ﺴ‬‫ﺒ‬‫ﺤ‬‫ﻳ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺖ‬‫ﻫ‬ِ‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻜ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬« »‫ﻲ‬ِ‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ َ‫ﺀ‬‫ﺍ‬‫ﺭ‬‫ﻭ‬ ‫ﺖ‬‫ﻴ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ﺻ‬‫ﱠﻰ‬‫ﻄ‬‫ﺨ‬‫ﺘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺎ‬‫ﻋ‬ِ‫ﺮ‬‫ﺴ‬‫ﻣ‬ ‫ﻡ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﺛ‬ ‫ﻢ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ﺴ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺮ‬‫ﺼ‬‫ﻌ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ِﻳ‬‫ﺪ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ِﺎ‬‫ﺑ‬ zÏiΒtÏΖÏΒ÷σßϑø9$#×Α%y`Í‘(#θè%y‰|¹$tΒ(#ρ߉yγ≈tã©!$#ϵø‹n=tã∩⊄⊂∪
  • 22. 23Bersegera Melaksanakan Syariah dengan bergegasnya Nabi. Kemudian Nabi saw. keluar dari kamar istrinya menuju mereka. Nabi melihat para sahabat sepertinya merasa keheran-heranan karena bergegasnya beliau. Kemudian beliau saw. berkata, “Aku bergegas dari shalat karena aku ingat suatu lantakan emas yang masih tersimpan di rumah kami. Aku tidak suka jika barang itu menahanku, maka aku memerintahkan (kepada istriku) untuk membagi-bagikannya.” Dalam riwayat Muslim yang lain Nabi saw. bersabda: Aku meninggalkan sebuah lantakan emas dari zakat di rumahku dan aku tidak suka menahannya. Hadits ini memberi petunjuk kepada kaum Muslim agar bersegera dan cepat-cepat melaksanakan perkara yang telah diwajibkan Allah Swt. kepada mereka. Al-Bukhâri meriwayatkan dari al-Barrâ’, beliau berkata: »‫ﻪ‬‫ﺘ‬‫ﻴ‬‫ﺑ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺖ‬‫ﻫ‬ِ‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻜ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬‫ﺪ‬‫ﺼ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﺒ‬ِ‫ﺗ‬ ِ‫ﺖ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ ‫ﺖ‬‫ﹾ‬‫ﻔ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ﺧ‬ ‫ﺖ‬‫ﻨ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬« »‫ﻡ‬ِ‫ﺪ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻋ‬ ‫ﹶ‬‫ﺔ‬‫ﺘ‬ِ‫ﺳ‬ ِ‫ﺱ‬ِ‫ﺪ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺖ‬‫ﻴ‬‫ﺑ‬ ‫ﻮ‬‫ﺤ‬‫ﻧ‬ ‫ﱠﻰ‬‫ﻠ‬‫ﺻ‬ ‫ﹶ‬‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ِﻳ‬‫ﺪ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺀ‬‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ـ‬‫ـ‬‫ﺴ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ـﻲ‬‫ِـ‬‫ﻓ‬ ‫ﻚ‬ِ‫ﻬ‬‫ﺟ‬‫ﻭ‬ ‫ﺐ‬‫ﱡ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻘ‬‫ﺗ‬ ‫ﻯ‬‫ﺮ‬‫ﻧ‬ ‫ﺪ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬‫ﺎ‬‫ﻌ‬‫ﺗ‬‫ﺎ‬‫ﻫ‬‫ـﺎ‬‫ـ‬‫ﺿ‬‫ﺮ‬‫ﺗ‬ ‫ﹰ‬‫ﺔ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﺒ‬ِ‫ﻗ‬ ‫ﻚ‬‫ﻨ‬‫ﻴ‬‫ﱢ‬‫ﻟ‬‫ﻮ‬‫ﻨ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺮ‬‫ﺼ‬‫ﻌ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺓ‬‫ﹶ‬‫ﻼ‬‫ﺻ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ ‫ﻉ‬‫ﹸﻮ‬‫ﻛ‬‫ﺭ‬ ‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ﻭ‬ ‫ﹸﻮﺍ‬‫ﻓ‬‫ﺮ‬‫ﺤ‬‫ﻧ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﺒ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻜ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬« ٍ‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ـ‬‫ﹶـ‬‫ﻗ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺝ‬‫ﺮ‬‫ﺧ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﺛ‬ ‫ﺮ‬‫ﺼ‬‫ﻌ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹲ‬‫ﻞ‬‫ﺟ‬‫ﺭ‬ ‫ﻪ‬‫ﻌ‬‫ﻣ‬ ‫ﱠﻰ‬‫ﻠ‬‫ﺻ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﺒ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻜ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﻮ‬‫ﺤ‬‫ﻧ‬ ‫ﻪ‬‫ﺟ‬‫ﻮ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﻲ‬ِ‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﻊ‬‫ﻣ‬ ‫ﱠﻰ‬‫ﻠ‬‫ﺻ‬ ‫ﻪ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺪ‬‫ﻬ‬‫ﺸ‬‫ﻳ‬ ‫ﻮ‬‫ﻫ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺭ‬‫ﺎ‬‫ﺼ‬‫ﻧ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻪ‬‫ﺟ‬‫ﻭ‬ ‫ﺪ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬ ‫ﻪ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ُ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﺰ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ـ‬‫ـ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺔ‬‫ـ‬‫ـ‬‫ﺒ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻜ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻪ‬‫ﺟ‬‫ﻮ‬‫ﻳ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺐ‬ِ‫ﺤ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻛ‬‫ﻭ‬ ‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﻬ‬‫ﺷ‬ ‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻋ‬ ‫ﹶ‬‫ﺔ‬‫ﻌ‬‫ﺒ‬‫ﺳ‬ ‫ﻭ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬
  • 23. 24 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Ketika Rasulullah datang ke Madinah, maka Rasulullah saw. shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan; dan Beliau lebih menyukai untuk menghadap Ka’bah. Kemudian Allah Swt. menurunkan firman-Nya, “Sungguh Aku telah melihat bolak-baliknya wajahmu ke Langit agar Aku menghadapkanmu ke Kiblat yang kamu sukai.” Maka Nabi saw. pun shalat menghadap ke Ka’bah. Pada saat itu ada seorang laki- laki yang shalat Ashar bersama beliau saw., kemudian ia keluar menuju kaum Anshar, dan berkata dirinya bersaksi bahwa ia shalat bersama Nabi saw. dan beliau menghadap ke Ka’bah. Maka kaum Anshar pun mengubah arah Kiblat mereka (menghadap ke Ka’bah) padahal mereka sedang ruku shalat Ashar. Al-Bukhâri telah meriwayatkan dari Ibnu Abî Aufâ ra., beliau berkata: Kami ditimpa kelaparan pada beberapa malam saat perang Khaibar, dan kami menemukan keledai kampung, kemudian kami menyembelihnya. Maka ketika kuali telah mendidih, mendadak berteriak juru bicara Rasulullah saw., “Matikanlah kuali itu dan kalian jangan makan daging keledai jinak itu sedikit pun.” Abdullah berkata; Kami pada saat itu mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang memakan keledai jinak itu hanya karena belum dibagi lima (karena harta rampasan perang).” Tapi sahabat yang lain berkata, “Keledai jinak itu diharamkan secara mutlak.” ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ـﺎ‬‫ﹶـ‬‫ﻗ‬ ‫ﺎ‬‫ﻫ‬‫ﺮ‬ِ‫ﺴ‬‫ﹾ‬‫ﻛ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺭ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬ِ‫ﺠ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻩ‬ِ‫ﺬ‬‫ﻫ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﻗ‬ ‫ﺲ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﺔ‬‫ﺤ‬‫ﹾ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ‫ﻮ‬‫ﺑ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺖ‬‫ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺣ‬ ‫ﺕ‬‫ﺮ‬‫ﺴ‬‫ﹶ‬‫ﻜ‬‫ﻧ‬‫ﺍ‬ ‫ﻰ‬‫ﺘ‬‫ﺣ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻔ‬‫ﺳ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﺘ‬‫ﺑ‬‫ﺮ‬‫ﻀ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ٍ‫ﺱ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﻬ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﺖ‬‫ﻤ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺲ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬« ‫ﻮ‬‫ﻫ‬‫ﻭ‬ ٍ‫ﺦ‬‫ِﻴ‬‫ﻀ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﺎ‬‫ﺑ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﺷ‬ ٍ‫ﺐ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻛ‬‫ﺪ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬ ‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺨ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﱠ‬‫ﻥ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ٍ‫ﺕ‬‫ﺁ‬ ‫ﻢ‬‫ﻫ‬َ‫ﺀ‬‫ﺎ‬‫ﺠ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺗ‬ »‫ﻦ‬‫ـ‬‫ـ‬‫ﺑ‬ ‫ﻲ‬‫ﺑ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﺡ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﺠ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﻦ‬‫ﺑ‬ ‫ﹶ‬‫ﺓ‬‫ﺪ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﻋ‬ ‫ﺎ‬‫ﺑ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ‫ﻱ‬ِ‫ﺭ‬‫ﺎ‬‫ﺼ‬‫ﻧ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﺔ‬‫ﺤ‬‫ﹾ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ‫ﺎ‬‫ﺑ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻘ‬‫ﺳ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬ ‫ﺖ‬‫ﻨ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬
  • 24. 25Bersegera Melaksanakan Syariah Kemudian aku bertanya kepada Sa'id bin Jubair, dan ia menjawab, “Keledai jinak itu diharamkan secara mutlak.” Al-Bukhâri telah meriwayatkan dari Anas bin Mâlik ra., beliau berkata: Suatu hari aku memberi minum kepada Abû Thalhah al-Anshary, Abû Ubaidah bin al-Jarrah, dan Ubay bin Ka’ab dari Fadhij, yaitu perasan kurma. Kemudian ada seseorang yang datang, ia berkata, “Sesungguhnya khamr telah diharamkan.” Maka Abû Thalhah berkata, “Wahai Anas, berdirilah dan pecahkanlah kendi itu!” Anas berkata, “Maka aku pun berdiri mengambil tempat penumbuk biji- bijian milik kami, lalu memukul kendi itu pada bagian bawahnya, hingga pecahlah kendi itu.” Al-Bukhâri telah meriwayatkan dari ‘Aisyah ra., beliau berkata: »‫ـﻮﺍ‬‫ﹸـ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻔ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻣ‬ ‫ﲔ‬ِ‫ﻛ‬ِ‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻭﺍ‬‫ﺩ‬‫ﺮ‬‫ﻳ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬‫ﺎ‬‫ﻌ‬‫ﺗ‬ ُ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﺰ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﻪ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﻐ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﺑ‬‫ﻭ‬ ‫ﹸﻮﺍ‬‫ﻜ‬‫ﺴ‬‫ﻤ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﲔ‬ِ‫ﻤ‬ِ‫ﻠ‬‫ﺴ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﻢ‬‫ﹶ‬‫ﻜ‬‫ﺣ‬‫ﻭ‬ ‫ﻢ‬ِ‫ﻬ‬ِ‫ﺟ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬‫ﺯ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﺮ‬‫ﺟ‬‫ﺎ‬‫ﻫ‬ ‫ﻦ‬‫ﻣ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ِ‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ﺗ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﺮ‬‫ﻣ‬‫ﺍ‬ ‫ﻖ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬ ‫ﱠ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ِ‫ﺮ‬ِ‫ﻓ‬‫ﺍ‬‫ﻮ‬‫ﹶ‬‫ﻜ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻢ‬‫ﺼ‬ِ‫ﻌ‬ِ‫ﺑ‬« ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﹾ‬‫ﻠ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻋ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﹰﺎ‬‫ﺌ‬‫ﻴ‬‫ﺷ‬ ِ‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ﺤ‬‫ﹸ‬‫ﻟ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﻮﺍ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ﹾ‬‫ﻄ‬‫ﺗ‬ ‫ﹶ‬‫ﻼ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺭ‬‫ﻭ‬‫ﺪ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸﻮﺍ‬‫ﺌ‬ِ‫ﻔ‬‫ﹾ‬‫ﻛ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻲ‬ِ‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﻰ‬‫ﻬ‬‫ﻧ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﻧ‬ِ‫ﺇ‬ِ‫ﹶ‬‫ﺔ‬‫ﺘ‬‫ﺒ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺣ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﺧ‬‫ﺁ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬‫ﻭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﺲ‬‫ﻤ‬‫ﺨ‬‫ﺗ‬ ‫ﻢ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻧ‬َ‫ﻷ‬ ‫ﹶ‬‫ﺔ‬‫ﺘ‬‫ﺒ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻣ‬‫ﺮ‬‫ﺣ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ٍ‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﺟ‬ ‫ﻦ‬‫ﺑ‬ ‫ﺪ‬‫ِﻴ‬‫ﻌ‬‫ﺳ‬ ‫ﺖ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﺳ‬‫ﻭ‬« »ِ‫ﺮ‬‫ــ‬‫ﻤ‬‫ﺤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬‫ﻭ‬ ‫ﺮ‬‫ﺒ‬‫ﻴ‬‫ﺧ‬ ‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻛ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺮ‬‫ﺒ‬‫ﻴ‬‫ﺧ‬ ‫ﻲ‬ِ‫ﻟ‬‫ﺎ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﹲ‬‫ﺔ‬‫ﻋ‬‫ﺎ‬‫ﺠ‬‫ﻣ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺘ‬‫ﺑ‬‫ﺎ‬‫ﺻ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺮ‬‫ﺤ‬‫ﺘ‬‫ﻧ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﻴ‬ِ‫ﻠ‬‫ﻫ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻝ‬‫ـﻮ‬‫ـ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺩ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬ ‫ﻯ‬‫ﺩ‬‫ﺎ‬‫ﻧ‬ ‫ﺭ‬‫ﻭ‬‫ﺪ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺖ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻏ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺎ‬‫ﻫ‬‫ﺎ‬‫ﻧ‬
  • 25. 26 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Telah sampai berita kepada kami, ketika Allah Swt. menurunkan firman-Nya (al-Mumtahanah [60]: 10, penj.), yang memerintahkan kaum Muslim untuk mengembalikan kepada orang-orang Musyrik apa yang telah mereka berikan kepada istri-istri mereka yang telah hijrah dan Allah telah menentukan hukum kepada kaum Muslim agar mereka tidak menahan tali perkawinan dengan wanita-wanita kafir: bahwasanya Umar telah menceraikan dua orang perempuan. Al-Bukhâri meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. berkata: Semoga Allah merahmati kaum Wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya, “Dan hendaklah mereka mengenakan kain kerudung mereka diulurkan ke kerah baju mereka.” (TQS. an-Nûr [24]: 31). Maka kaum wanita itu merobek kain sarung mereka (untuk dijadikan kerudung) dan menutup kepala mereka dengannya. Abû Dawud telah mengeluarkan hadits dari Shafiyah binti Syaibah dari ‘Aisyah ra.: Sesungguhnya beliau saw. menuturkan wanita Anshar, kemudian beliau memuji mereka, dan berkata tentang mereka dengan baik. Beliau saw. berkata, “Ketika diturunkan surat an-Nûr: 31 (tentang kewajiban memakai penutup kepala/kerudung, penj.), maka ‫ﻦ‬ِ‫ﻬ‬ِ‫ﺑ‬‫ﻮ‬‫ﻴ‬‫ﺟ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻫ‬ِ‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺨ‬ِ‫ﺑ‬‫ﺎ‬‫ﻬ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺘ‬‫ﺧ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻓ‬ ‫ﻦ‬‫ﻬ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﻣ‬ ‫ﻦ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﱠ‬‫ﻘ‬‫ﺷ‬« »‫ﺍ‬ َ‫ﺀ‬‫ﺎ‬‫ﺴ‬ِ‫ﻧ‬ ُ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﻢ‬‫ﺣ‬‫ﺮ‬‫ﻳ‬ُ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﺰ‬‫ـ‬‫ـ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﻭ‬ُ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺕ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬ِ‫ﺟ‬‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﻦ‬‫ﺑ‬ِ‫ﺮ‬‫ﻀ‬‫ﻴ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﻭ‬ »‫ـﺎ‬‫ﹰـ‬‫ﻓ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﻌ‬‫ﻣ‬ ‫ﻦ‬‫ـ‬‫ـ‬‫ﻬ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﺖ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬‫ﻭ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻬ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﺖ‬‫ﻨ‬‫ﹾ‬‫ﺛ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺭ‬‫ﺎ‬‫ﺼ‬‫ﻧ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ َ‫ﺀ‬‫ﺎ‬‫ﺴ‬ِ‫ﻧ‬ ‫ﺕ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻛ‬‫ﹶ‬‫ﺫ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻘ‬‫ﺸ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ٍ‫ﺭ‬‫ﻮ‬‫ﺠ‬‫ﺣ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺪ‬ِ‫ﻤ‬‫ﻋ‬ ِ‫ﺭ‬‫ﻮ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﹸ‬‫ﺓ‬‫ﺭ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬ ‫ﺖ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬‫ﺰ‬‫ﻧ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﺖ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬‫ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﻧ‬‫ﹾ‬‫ﺬ‬‫ﺨ‬‫ﺗ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻓ‬ ‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺧ‬« ‫ﻦ‬‫ﻬ‬‫ﻨ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻘ‬‫ﺸ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ٍ‫ﺭ‬‫ﻮ‬‫ﺠ‬‫ﺣ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺪ‬ِ‫ﻤ‬‫ﻋ‬ ِ‫ﺭ‬‫ﻮ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﹸ‬‫ﺓ‬‫ﺭ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬ ‫ﺖ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬‫ﺰ‬‫ﻧ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﺖ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬‫ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﻧ‬‫ﹾ‬‫ﺬ‬‫ﺨ‬‫ﺗ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻓ‬ ‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺧ‬«
  • 26. 27Bersegera Melaksanakan Syariah mereka mengambil kain sarungnya, kemudian merobeknya dan menjadikannya sebagai kain penutup kepala (kerudung).” Ibnu Ishak berkata, “Al-Asy’ats bin Qais telah mendatangi Rasulullah saw. bersama delegasi dari Bani Kindah.” Az-Zuhry telah menceritakan kepadaku bahwa al-Asy’ats bin Qais datang bersama delapan puluh orang Bani Kindah yang berkendaraan. Kemudian mereka masuk menemui Rasulullah saw. di Masjid beliau. Mereka mengikat rambut mereka yang ikal dan memakai celak mata serta memakai jubah bagus yang dilapisi sutra. Ketika mereka masuk menemui Rasulullah saw., beliau saw. berkata kepada mereka, “Apakah kalian sudah masuk Islam?” Mereka menjawab, “Benar.” Rasul saw. berkata, “Kenapa sutra itu masih melekat di leher kalian?” Az-Zuhry berkata, “Maka mereka pun merobek-robek sutra tersebut dan melemparkannya.” Ibnu Jarîr telah meriwayatkan dari Abû Buraidah dari bapaknya, beliau berkata; Ketika kami sedang duduk-duduk menikmati minuman di atas pasir, pada saat itu kami bertiga atau berempat. Kami memiliki kendi besar dan meminum khamr karena masih dihalalkan. Kemudian aku berdiri dan ingin menghampiri Rasulullah saw. Lalu aku mengucapkan salam kepada beliau, tiba- tiba turunlah ayat tentang keharaman khamr: Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya khamr dan judi…, sampai akhir dua ayat yaitu: Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). $pκš‰r'‾≈tƒtÏ%©!$#(#þθãΨtΒ#u$yϑ‾ΡÎ)ãôϑsƒø:$#çŽÅ£øŠyϑø9$#uρ ö≅yγsùΛäΡrtβθåκtJΖ•Β
  • 27. 28 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Maka aku datang kepada sahabat-sahabatku (yang sedang minum khamr) dan membacakan ayat tersebut kepada mereka sampai pada firman Allah: Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dia (perawi hadits) berkata, “Sebagian di antara mereka minumannya masih ada di tangannya, sebagiannya telah diminum, dan sebagian lagi masih ada di wadahnya.” Dia berkata, “Sedangkan gelas minuman yang ada di bawah bibir atasnya, seperti yang dilakukan oleh orang yang membekam (gelasnya masih menempel di bibirnya), kemudian mereka menumpahkan khamr yang ada pada kendi besar mereka seraya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah berhenti.”” Handzalah bin Abî Amir ra. yang dimandikan oleh Malaikat (saat syahid di medan perang) telah mendengar seruan perang Uhud. Maka dia pun bergegas menyambut panggilan itu, dan mati syahid dalam perang Uhud tersebut. Ibnu Ishak berkata; Rasulullah saw. bersabda, “Sesunguhnya sahabat (Handzalah) dimandikan oleh Malaikat, maka tanyakalah bagaimana kabar keluarganya? Maka aku pun (Ibnu Ishak) bertanya kepada istrinya. Dia pada malam itu adalah pengantin baru. Istrinya berkata, “Ketika mendengar panggilan untuk berperang, suamiku keluar padahal dalam keadaan junub.” Rasulullah saw. bersabda, “Begitulah ia telah dimandikan oleh Malaikat.” Ahmad telah mengeluarkan hadits dari Abû Râfi’ bin Khadîj, beliau berkata: ö≅yγsùΛäΡrtβθåκtJΖ•Β »‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬‫ﹸ‬‫ﻞ‬ِ‫ﻗ‬‫ﺎ‬‫ﺤ‬‫ﻧ‬ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻝ‬‫ـﻮ‬‫ـ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬ ِ‫ﺪ‬‫ﻬ‬‫ﻋ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﺽ‬‫ﺭ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ِ‫ﺚ‬‫ﹸ‬‫ﻠ‬‫ﱡ‬‫ﺜ‬‫ِﺎﻟ‬‫ﺑ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻳ‬ِ‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻜ‬‫ﻨ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬
  • 28. 29Bersegera Melaksanakan Syariah Kami pada masa Nabi membajak tanah, kemudian menyewa- kannya dengan (mendapat bagi hasil) sepertiga atau seperempatnya dan makanan tertentu. Pada suatu hari datanglah kepada kami salah seorang pamanku, ia berkata, “Rasulullah saw. telah melarang suatu perkara yang dulu telah memberikan manfaat (duniawi) bagi kita. Tapi taat kepada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih bermanfaat bagi kita. Beliau telah melarang kita membajak tanah kemudian menyewakannya dengan imbalan sepertiga atau seperempat, dan makanan tertentu. Rasulullah saw. memerintahkan pemilik tanah agar mengolahnya atau menanaminya sendiri. Beliau tidak menyukai penyewaan tanah dan yang selain itu. *** ‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻫ‬َ‫ﺀ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬ِ‫ﻛ‬ ‫ﻩ‬ِ‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻛ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻋ‬ِ‫ﺭ‬‫ﺰ‬‫ﻳ‬ ‫ﻭ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻋ‬‫ﺭ‬‫ﺰ‬‫ﻳ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ِ‫ﺽ‬‫ﺭ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ ‫ﺏ‬‫ﺭ‬ ‫ﺮ‬‫ﻣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ‫ﻰ‬‫ﻤ‬‫ﺴ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ «‫ﻚ‬ِ‫ﻟ‬‫ﹶ‬‫ﺫ‬ ‫ﻯ‬‫ﻮ‬ِ‫ﺳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ـﺎ‬‫ﹶـ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ِﻲ‬‫ﺘ‬‫ﻣ‬‫ﻮ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬ ‫ﻦ‬‫ﻣ‬ ‫ﹲ‬‫ﻞ‬‫ﺟ‬‫ﺭ‬ ٍ‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ﻳ‬ ‫ﺕ‬‫ﹶﺍ‬‫ﺫ‬ ‫ﺎ‬‫ﻧ‬َ‫ﺀ‬‫ﺎ‬‫ﺠ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﻰ‬‫ﻤ‬‫ﺴ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻡ‬‫ﺎ‬‫ﻌ‬‫ﱠ‬‫ﻄ‬‫ﺍﻟ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﻊ‬‫ﺑ‬‫ﺮ‬‫ﺍﻟ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻧ‬‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻧ‬‫ﺎ‬‫ﻌ‬ِ‫ﻓ‬‫ﺎ‬‫ﻧ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻛ‬ ٍ‫ﺮ‬‫ﻣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬‫ﻋ‬،‫ﹸ‬‫ﺔ‬‫ﻋ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻃ‬‫ﻭ‬ِ‫ﻪ‬ِ‫ﻟ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬‫ﻊ‬‫ﹶ‬‫ﻔ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ِ‫ﻡ‬‫ـﺎ‬‫ـ‬‫ﻌ‬‫ﱠ‬‫ﻄ‬‫ﺍﻟ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﻊ‬‫ﺑ‬‫ﺮ‬‫ـ‬‫ﺍﻟـ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﺚ‬‫ﹸ‬‫ﻠ‬‫ﱡ‬‫ﺜ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻳ‬ِ‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻜ‬‫ﻨ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﺽ‬‫ﺭ‬َ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺎ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﹶ‬‫ﻞ‬ِ‫ﻗ‬‫ﺎ‬‫ﺤ‬‫ﻧ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻧ‬‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻧ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬
  • 29. 30 ~2~ MEMELIHARA AL-QURAN Al-Quran yang mulia adalah firman Allah Swt. Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad saw., melalui wahyu yang dibawa oleh Jibril, baik lafazh maupun maknanya; membacanya merupakan ibadah, sekaligus merupakan mukjizat yang sampai kepada kita secara mutawatir. Allah Swt. berfirman: Tidak datang padanya kebatilan dari sebelum dan sesudahnya, diturunkan dari Dzat yang Maha Bijak dan Terpuji.. (TQS. Fush Shilat [41]: 42) Al-Quran adalah kitab yang dijaga dengan penjagaan Allah sendiri. Allah berfirman: āωϵ‹Ï?ù'tƒã≅ÏÜ≈t7ø9$#.ÏΒÈ÷t/ϵ÷ƒy‰tƒŸωuρôÏΒÏµÏ ù=yz(×≅ƒÍ”∴s?ôÏiΒAΟŠÅ3ym7‰ŠÏΗxq ∩⊆⊄∪ $‾ΡÎ)ßøtwΥ$uΖø9¨“tΡtø.Ïe%!$#$‾ΡÎ)uρ…çµs9tβθÝàÏ ≈ptm:∩∪
  • 30. 31Memelihara al-Quran Sesunguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan Kami pasti akan menjaganya. (TQS. al-Hijr [15]: 9) Al-Quran adalah kitab yang mampu menghidupkan jiwa dan menentramkan hati. Dengan izin Tuhan mereka, al-Quran bisa mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya; yaitu jalan Dzat yang Maha Perkasa lagi Terpuji. Siapa saja yang berkata dengan menggunakan al-Quran, pasti akan terpercaya. Siapa saja yang mengamalkannya, pasti akan beruntung. Siapa saja yang memutuskan hukum dengannya, pasti akan adil. Dan siapa saja yang mendakwahkannya, pasti akan mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus. Al-Quran adalah sebaik-baik bekal bagi setiap muslim. Lebih-lebih bagi para pengemban dakwah. Dengan al-Quran hati akan menjadi hidup. Dengannya, semua sandaran akan semakin kokoh. Para pengembannya akan menjadi seperti gunung yang berdiri kokoh, sehingga dunia pun menjadi kecil baginya ketika berada di jalan Allah. Dia akan senantiasa mengatakan yang hak, dan tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela, semata- mata karena Allah. Dengan al-Quran, sesuatu yang mudah diombang-ambing oleh angin lantaran bobotnya ringan, menjadi lebih berat bobotnya di sisi Allah, ketimbang gunung Uhud, karena dia senantiasa membaca al-Quran; dia membasahi lisannya dengan al-Quran, dan jari-jemarinya pun menjadi saksi. Seperti itulah para sahabat Rasulullah saw. mengarungi kehidupan dunia ini, seolah- olah mereka seperti al-Quran yang berjalan. Mereka senantiasa menelaah ayat-ayatnya, membacanya dengan sungguh-sungguh, mengamalkan isinya dan mendakwahkannya. Jiwa mereka pun tergetar oleh ayat-ayat adzab, dan hati mereka pun menjadi senang karena ayat-ayat rahmat. Air mata mereka bercucuran karena tunduk terhadap kemukjizatan dan keagungannya, serta patuh terhadap hukum-hukum dan hikmahnya. Mereka menerima al-
  • 31. 32 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Quran langsung dari Rasulullah saw. sehingga ayat-ayatnya pun menghujam dalam lubuk hati mereka yang paling dalam. Karena itu, mereka menjadi manusia-manusia mulia dan menjadi para pemimpin; orang-orang yang berbahagia dan beruntung. Ketika mereka ditinggal oleh Rasulullah saw. menuju tempat yang paling tinggi di surga ‘illiyyin, mereka tetap konsisten memelihara al- Quran, sebagaimana wasiat Rasulullah saw. Maka para penghafal (pemelihara) al-Quran tadi senantiasa berada di barisan terdepan ketika melaksanakan amar makruf dan nahi munkar. Para pengemban al-Quran itu juga senantisa menjadi terdepan dalam segala kebaikan dan terdepan dalam menghadapi segala rintangan di jalan Allah Swt. Sesuatu yang paling berharga bagi kaum Muslim umumnya, dan para pengemban dakwah khususnya, adalah bahwa hendaknya al-Quran senantiasa menjadi penyiram hati mereka, dan teman setia yang mengiringi setiap langkah mereka. Karena al-Quran akan membimbingmerekauntukmeraih semua kebaikan,dan mengangkat kedudukan mereka lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka harus senantiasa memeliharanya di tengah malamdan dipenghujungsiang, dengan membaca, menghafal dan mengamalkannya, sehingga mereka akan menjadi sebaik-baik generasi khalaf, mewarisi generasi salaf yang terbaik. Berikut ini adalah ayat-ayat al-Quran beserta hadits Nabi yang menceritakan tentang turunnya al-Quran, jaminan terpeliharanya, tentang petunjuknya, keutamaan membacanya, dan segala kebaikan yang sangat banyak di dalamnya, dari dan di sekitarnya: Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang- tΑt“tΡϵÎ/ßyρ”9$#ßÏΒF{$#∩⊇⊂∪4’n?tãy7Î7ù=s%tβθä3tGÏ9zÏΒtÍ‘É‹Ζßϑø9$#∩⊇⊆∪
  • 32. 33Memelihara al-Quran orang yang memberi peringatan. (TQS. asy-Syu’arâ [26] : 193- 194) Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan Kami pasti akan menjaganya. (TQS. al-Hijr [15]: 9) Tidak datang padanya kebatilan dari sebelum dan sesudahnya, diturunkan dari Dzat yang Maha Bijak dan Terpuji.. (TQS. Fush Shilat [41]: 42) Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (TQS. al-Isra [17]: 9) $‾ΡÎ)ßøtwΥ$uΖø9¨“tΡtø.Ïe%!$#$‾ΡÎ)uρ…çµs9tβθÝàÏ ≈ptm:∩∪ āωϵ‹Ï?ù'tƒã≅ÏÜ≈t7ø9$#.ÏΒÈ÷t/ϵ÷ƒy‰tƒŸωuρôÏΒÏµÏ ù=yz(×≅ƒÍ”∴s?ôÏiΒAΟŠÅ3ym7‰ŠÏΗxq ∩⊆⊄∪ ¨βÎ)#x‹≈yδtβ#uöà)ø9$#“ωöκu‰ÉL‾=Ï9š†ÏφãΠuθø%rçŽÅe³u;ãƒuρtÏΖÏΒ÷σßϑø9$#tÏ%©!$#tβθè=yϑ÷ètƒ ÏM≈ysÎ=≈¢Á9$#¨βröΝçλm;#ô_r#ZŽÎ6x.∩∪ Ÿ≅÷δr'‾≈tƒÉ=≈tGÅ6ø9$#ô‰s%öΝà2u!$y_$oΨä9θß™u‘ÚÎit7ãƒöΝä3s9#ZŽÏWŸ2$£ϑÏiΒ öΝçFΨà2šχθà øƒéBzÏΒÉ=≈tGÅ6ø9$#(#θà ÷ètƒuρ∅tã9ŽÏVŸ24ô‰s%Νà2u!%y` š∅ÏiΒ«!$#Ö‘θçΡÒ=≈tGÅ2uρÑÎ7•Β∩⊇∈∪“ωôγtƒÏµÎ/ª!$#Ç∅tΒyìt7©?$#…çµtΡ≡uθôÊÍ‘ Ÿ≅ç7ß™ÉΟ≈n=¡¡9$#Νßγã_̍÷‚ãƒuρzÏiΒÏM≈yϑè=—à9$#†nÎ)Í‘θ–Ψ9$#ϵÏΡøŒÎ*Î/óΟÎγƒÏ‰ôγtƒuρ4’nÎ) :Þ≡uŽÅÀ5ΟŠÉ)tGó¡•Β∩⊇∉∪
  • 33. 34 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang- orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menjuluki mereka ke jalan yang lurus. (TQS. al-Mâidah [5]: 15-16) (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (TQS. Ibrahim [14]: 1) Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (TQS. ar-Ra’d [13]: 28) Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (TQS. an-Nisa [4]: 82) ë=≈tGÅ2…çµ≈oΨø9t“Ρry7ø‹s9Î)yl̍÷‚çGÏ9}¨$¨Ζ9$#zÏΒÏM≈yϑè=—à9$#’nÎ)Í‘θ–Ψ9$#ÈβøŒÎ*Î/ óΟÎγÎn/u‘4’nÎ)ÅÞ≡uŽÅÀÍ“ƒÍ“yèø9$#ω‹Ïϑptø:$#∩⊇∪ Ÿωr̍ò2É‹Î/«!$#’È⌡yϑôÜs?Üθè=à)ø9$# Ÿξsùrtβρã−/y‰tFtƒtβ#uöà)ø9$#4öθs9uρtβ%x.ôÏΒωΖÏãΎöxî«!$#(#ρ߉y`uθs9ϵŠÏù$Z ≈n=ÏF÷z$# #ZŽÏWŸ2∩∇⊄∪
  • 34. 35Memelihara al-Quran Rasulullah saw. bersabda : Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya. (HR. al-Bukhâri dari Utsman bin Affan r.a) Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa “alif lam mim” adalah satu huruf. Akan tetapi Alif adalah satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim juga satu huruf. (HR. at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud, dan hadits ini shahih) Orang yang mahir dengan al-Quran akan bersama-sama dengan rombongan malaikat yang mulia dan senantiasa berbuat baik. Dan orang yang membaca al-Quran tapi terbata-bata dan sangat berat baginya, ia akan mendapatkan dua pahala. (HR. Muslim dari ‘Aisyah, Ummul Mukminin. r.a) Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada al-Quran sedikitpun (yang dia hafal) bagaikan rumah yang akan roboh. (HR. At-Tirmidzi, Ia menshahihkannya. Dan ini adalah hadits shahih). «‫ﻪ‬‫ﻤ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬‫ﻭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﻢ‬‫ﱠ‬‫ﻠ‬‫ﻌ‬‫ﺗ‬ ‫ﻦ‬‫ﻣ‬ ‫ﻢ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬‫ﺮ‬‫ﻴ‬‫ﺧ‬» ‫ﹶ‬‫ﻻ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬ِ‫ﻟ‬‫ﹶﺎ‬‫ﺜ‬‫ﻣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ِ‫ﺮ‬‫ﺸ‬‫ﻌ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﹸ‬‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ﺴ‬‫ﺤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬ ‫ﹲ‬‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ﺴ‬‫ﺣ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻪ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ِ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺏ‬‫ﺎ‬‫ﺘ‬ِ‫ﻛ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﹰﺎ‬‫ﻓ‬‫ﺮ‬‫ﺣ‬ ‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬ ‫ﻦ‬‫ﻣ‬» «‫ﻑ‬‫ﺮ‬‫ﺣ‬ ‫ﻢ‬‫ِﻴ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬ ‫ﻑ‬‫ﺮ‬‫ﺣ‬ ‫ﻡ‬‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﻭ‬ ‫ﻑ‬‫ﺮ‬‫ﺣ‬ ‫ﻒ‬ِ‫ﻟ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻜ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬‫ﻭ‬ ‫ﻑ‬‫ﺮ‬‫ﺣ‬ ‫ﺍﱂ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﹸﻮ‬‫ﻗ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ِ‫ﺓ‬‫ﺭ‬‫ﺮ‬‫ﺒ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻡ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬ِ‫ﻜ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺓ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻔ‬‫ﺴ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﻊ‬‫ﻣ‬ ِ‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ِﺎ‬‫ﺑ‬ ‫ﺮ‬ِ‫ﻫ‬‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬»،‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﺃ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬‫ﻮ‬‫ﻫ‬‫ﻭ‬ ‫ﻊ‬‫ﺘ‬‫ﻌ‬‫ﺘ‬‫ﻳ‬«ِ‫ﻥ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﺟ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻪ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﻕ‬‫ﺎ‬‫ﺷ‬ ِ‫ﻪ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﻋ‬ ‫ﻮ‬‫ﻫ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﻪ‬‫ِﻴ‬‫ﻓ‬ »‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ٌ‫ﺀ‬‫ﻲ‬‫ﺷ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﻓ‬‫ﻮ‬‫ﺟ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ ‫ﺲ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﱠ‬‫ﻥ‬ِ‫ﺇ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺏ‬ِ‫ﺮ‬‫ﺨ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺖ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻛ‬ ِ‫ﻥ‬‫ﺁ‬«
  • 35. 36 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Bacalah al-Quran, karena al-Quran akan datang pada hari kiamat kelak memberi syafa’at (pembelaan) bagi ahlinya. (HR. Muslim dalam kitab Shahih-nya. Dari Abû Umamah al-Bahili ra.) Al-Quran adalah kitab yang menjadi pembela dan bisa diminta pembelaan, ia adalah kitab yang Mâhil dan Mushaddaq.1 Siapa saja yang menjadikan al-Quran ada di depannya2 , maka ia akan menuntunnya ke surga. Tapi siapa saja yang menjadikan al-Quran di belakangnya3 , maka ia akan menggiringnya ke neraka. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dari Jabir bin Abdullah ra. Dan riwayat Baihaqi dalam kitab Sya’bul Iman dari Jabir dari Ibnu Mas’ud ra. Ini adalah hadits shahih) 1. Muhammad Abû Bakar bin Abdul Qadir ar-Raji dalam kamusnya Mukhtar Shihah berkata, “Mâhil artinya al-Quran. Yaitu kitab yang akan menyeret pembacanya menuju Allah Swt. jika tidak mengikuti apa yang ada di dalamnya. Menurut pendapat lain arti Mâhil adalah Mujadil; artinya yang mendebat (kebatilan). Mushaddaq artinya yang dibenarkan. Jika di baca mushaddiq artinya yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, penj. 2. Menjadikannya sebagai imam dan pedoman. Ketika ia akan berbuat apa pun senantiasa melihat dulu al-Quran yang ada di depannya, penj. 3. Menjadikan al-Quran di belakangnya maksudnya adalah tidak mengamalkannya dan tidak menjadikannya sebagai pedoman hidupnya. Ketika ia berbuat apa pun tidak melihat dulu kepada al-Quran karena ada di belakangnya. Dalam riwayat lain di katakan, Waro-a Dzohrihi artinya di balik punduknya. Jadi meskipun ia menoleh ke belakang tatap saja al- Quran tidak akan kelihatan. »‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ﻳ‬ ‫ِﻲ‬‫ﺗ‬‫ﹾ‬‫ﺄ‬‫ﻳ‬ ‫ﻪ‬‫ﻧ‬ِ‫ﺈ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ُﻭﺍ‬‫ﺀ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻗ‬‫ﺍ‬ِ‫ﺔ‬‫ﻣ‬‫ﺎ‬‫ﻴ‬ِ‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬‫ﺎ‬‫ﻌ‬‫ِﻴ‬‫ﻔ‬‫ﺷ‬«ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺒ‬ِ‫ﺣ‬‫ﺎ‬‫ﺼ‬ِ‫ﻟ‬ «ِ‫ﺭ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﹶﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻪ‬‫ﹶ‬‫ﻗ‬‫ﺎ‬‫ﺳ‬ ‫ﻪ‬‫ﹶ‬‫ﻔ‬‫ﹾ‬‫ﻠ‬‫ﺧ‬ ‫ﻪ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﻌ‬‫ﺟ‬ ‫ﻦ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﻨ‬‫ﺠ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ »‫ﹸ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬‫ﹶــﻰ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻩ‬‫ﺩ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﻪ‬‫ﻣ‬‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻪ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﻌ‬‫ﺟ‬ ‫ﻦ‬‫ﻣ‬ ،‫ﻕ‬‫ﺪ‬‫ﺼ‬‫ﻣ‬ ‫ﹲ‬‫ﻞ‬ِ‫ﺣ‬‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬ ،‫ﻊ‬‫ﱢ‬‫ﻔ‬‫ﺸ‬‫ﻣ‬ ‫ﻊ‬ِ‫ﻓ‬‫ﺎ‬‫ﺷ‬
  • 36. 37Memelihara al-Quran Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum (menuju kemuliaan, penj.) dengan al-Quran ini dan dengannya pula Allah akan menjatuhkan kaum yang lain (menuju kehinaan, penj.) . (HR. Muslim) Abû Dawud dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan hadits yang sahih bahwa Rasulullah bersabda : Kelak (di akhirat) akan dikatakan kepada Shahibul Quran (orang yang senantiasa bersama-sama dengan al-Quran, penj.), “Bacalah, naiklah terus dan bacalah dengan perlahan-lahan (tartil) sebagaimana engkau telah membaca al-Quran dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca. 4 ” Bacalah al-Quran dan beramallah dengan al-Quran, janganlah kalian menolaknya, janganlah berlebih-lebihan di dalamnya (membaca dan mengamalkan). Janganlah makan (dari al-Quran) dan janganlah menumpuk-numpuk harta dengannya. (HR. Ahmad, ath-Thabrâni, dan yang lainnya dari Abdurrahman bin Syibli ra. Ini adalah hadits shahih). «‫ﻦ‬‫ِﻳ‬‫ﺮ‬‫ﺧ‬‫ﺁ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻊ‬‫ﻀ‬‫ﻳ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﺍ‬‫ﻮ‬‫ﹾ‬‫ﻗ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ِ‫ﺏ‬‫ﺎ‬‫ﺘ‬ِ‫ﻜ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶﺍ‬‫ﺬ‬‫ﻬ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻊ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬‫ﺮ‬‫ﻳ‬ َ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﱠ‬‫ﻥ‬ِ‫ﺇ‬» 4. Maksudnya kelak di akhirat tempatnya tergantung pada sedikit banyaknya bacaan al-Quran di Dunia. Semakin banyak, maka akan semakin tinggi, sehingga dalam hadits itu dikatakan “naiklah” ‫ﺎ‬‫ﻴ‬‫ﻧ‬‫ﺪ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ ‫ﹸ‬‫ﻞ‬‫ﺗ‬‫ﺮ‬‫ﺗ‬ ‫ﺖ‬‫ﻨ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻛ‬ ‫ﹾ‬‫ﻞ‬‫ﺗ‬‫ﺭ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﻖ‬‫ﺗ‬‫ﺭ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬ ‫ﹾ‬‫ﺃ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻗ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﺐ‬ِ‫ﺣ‬‫ﺎ‬‫ﺼ‬ِ‫ﻟ‬ ‫ﹸ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬» ‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﺗ‬ ٍ‫ﺔ‬‫ﻳ‬‫ﺁ‬ ِ‫ﺮ‬ِ‫ﺧ‬‫ﺁ‬ ‫ﺪ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻋ‬ ‫ﻚ‬‫ﺘ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺰ‬‫ﻨ‬‫ﻣ‬ ‫ﱠ‬‫ﻥ‬ِ‫ﺈ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬‫ﺅ‬«‫ﺎ‬‫ﻫ‬ »‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ُﻭﺍ‬‫ﺀ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻗ‬‫ﺍ‬ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﺍ‬‫ﻮ‬‫ﹸ‬‫ﻠ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﻨ‬‫ﻋ‬ ‫ﹸﻮﺍ‬‫ﻔ‬‫ﺠ‬‫ﺗ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﻭ‬‫ﹸﻮﺍ‬‫ﻠ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬‫ﹾ‬‫ﺄ‬‫ﺗ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﻪ‬‫ِﻴ‬‫ﻓ‬ ‫ﹸﻮﺍ‬‫ﻠ‬‫ﻐ‬‫ﺗ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﻪ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻭﺍ‬‫ﺮ‬ِ‫ﺜ‬‫ﹾ‬‫ﻜ‬‫ﺘ‬‫ﺴ‬‫ﺗ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﻭ‬«
  • 37. 38 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Quran adalah seperti buah Utruja, rasanya enak baunya harum. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Quran adalah seperti buah Tamrah (kurma), rasanya enak tapi tidak wangi. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al-Quran adalah seperti buah Raihanah, baunya harum tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Quran adalah seperti buah Handzalah, baunya tidak harum dan rasanya pun pahit. (HR. al-Bukhâri dan Muslim dari Abû Mûsâ al-Asy’ari ra.) Peliharalah (hafalan) al-Quran! Sebab, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sesungguhnya al-Quran lebih cepat lepasnya (dari ingatan) daripada lepasnya unta dari tambatannya. (HR. al-Bukhâri dan Muslim dari Abû Mûsâ al-Asy’ari ra.) Itulah ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabi yang mulia, yang menjelaskan kedudukan yang agung bagi al-Quran dan bagi pengemban al-Quran. Ayat-ayat al-Quran dan hadits- ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﳛ‬ِ‫ﺭ‬‫ﻭ‬ ‫ﺐ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﺟ‬‫ﺮ‬‫ﺗ‬ُ‫ﻷ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻞ‬‫ﹶ‬‫ﺜ‬‫ﻣ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﺃ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻞ‬‫ﹶ‬‫ﺜ‬‫ﻣ‬» ‫ﺐ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬،‫ﺐ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ِ‫ﺓ‬‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﺘ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﻣﺜﻞ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﺃ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻞ‬‫ﹶ‬‫ﺜ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﺢ‬‫ِﻳ‬‫ﺭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﻭ‬،‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻖ‬ِ‫ﻓ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻞ‬‫ﹶ‬‫ﺜ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬‫ﻣﺜﻞ‬‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﺤ‬‫ﻳ‬ِ‫ﺭ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﻧ‬‫ﺎ‬‫ﺤ‬‫ﻳ‬‫ﺮ‬‫ﺍﻟ‬ »‫ﺲ‬‫ﹾ‬‫ﻔ‬‫ﻧ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬‫ﻮ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﻭﺍ‬‫ﺪ‬‫ﻫ‬‫ﺎ‬‫ﻌ‬‫ﺗ‬ٍ‫ﺪ‬‫ﻤ‬‫ﺤ‬‫ﻣ‬‫ﺪ‬‫ﺷ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻮ‬‫ﻬ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ِ‫ﻩ‬ِ‫ﺪ‬‫ﻴ‬ِ‫ﺑ‬‫ﹰ‬‫ﺎ‬‫ﹶﺘ‬‫ﻠ‬‫ﹾ‬‫ﻔ‬‫ﺗ‬ِ‫ﻞ‬ِ‫ﺑ‬ِ‫ﻹ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬ِ‫ﻠ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﻋ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬« ‫ﺮ‬‫ﻣ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬‫ﻭ‬ ‫ﺐ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬،ِ‫ﻞ‬‫ﹶ‬‫ﺜ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻛ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﺁ‬‫ﺮ‬‫ﹸ‬‫ﻘ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﺃ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬ ‫ِﻱ‬‫ﺬ‬‫ﱠ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ِ‫ﻖ‬ِ‫ﻓ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﹸ‬‫ﻞ‬‫ﹶ‬‫ﺜ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬ «‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﺢ‬‫ِﻳ‬‫ﺭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﻭ‬ ‫ﺮ‬‫ﻣ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻈ‬‫ﻨ‬‫ﺤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬«‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﺢ‬‫ِﻳ‬‫ﺭ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬‫ﻭ‬ ‫ﺮ‬‫ﻣ‬ ‫ﺎ‬‫ﻬ‬‫ﻤ‬‫ﻌ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ِ‫ﺔ‬‫ﹶ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻈ‬‫ﻨ‬‫ﺤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬
  • 38. 39Memelihara al-Quran hadits tersebut telah mendorong pengemban al-Quran untuk menelaahnya, mengamalkannya serta senantiasa memeliharanya, di saat mereka di rumah atau ketika sedang di perjalanan. Dengan begitu, al-Quran akan menjadi sebuah kekuatan dalam menempuh seluruh jalan kebaikan. Mereka tidak akan menyimpannya di rak hingga dipenuhi debu. Mereka pun tidak akan menghiasinya kemudian menyimpan di lemari, lalu dikunci hingga melupakannya. Marilah kita minta perlindungan kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu marilah kita memelihara al-Quran, wahai saudara-saudaraku. Mari kita bergegas untuk membacanya dengan benar, menelaahnya dengan benar, mengamalkannya dengan benar, dan terikat padanya dengan benar; agar rasa kita menjadi enak dan bau kita menjadi harum mewangi. Melalui semuanya tadi, marilah kita menjadi barisan pertama dalam mengemban dakwah di dunia ini, mudah-mudahan kita menjadi barisan pertama kelak di surga dan hari Akhir, ketika dikatakan nanti, “Bacalah dan naiklah terus.!”. Dengan demikian semoga kita termasuk orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah Yang Agung, dan meraih kebahagian yang tiada taranya, serta berhak mendapatkan ridha Allah Swt. Allah berfirman: Bergembiralah wahai orang-orang yang beriman (TQS. al-Ahzâb [33]: 47) *** ΎÅe³o0uρtÏΖÏΒ÷σßϑø9$#
  • 39. 40 ~3~ CINTA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA Al-Azhari berkata, “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.” Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat.” Ibnu Arafah berkata, “Cinta menurut istilah orang arab adalah menghendaki sesuatu untuk meraihnya.” Al-Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati keduanya dan ridha terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.” Sedangkan arti cinta Allah kepada hamba-Nya adalah ampunan, ridha dan pahala. Al-Baidhawi berkata ketika menafsirkan firman Allah: Niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 31). öãΝä3ö7Î6ósリ!$#öÏ øótƒuρö/ä3s9ö/ä3t/θçΡèŒ3
  • 40. 41Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya Maksudnya, pasti Allah akan ridha kepadamu. Al-Azhari berkata, “Cinta Allah kepada hamba-Nya adalah memberikan kenikmatan kepadanya dengan memberi ampunan.” Allah berfirman: Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 32). Maksudnya, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Sufyân bin Uyainah berkata, “Arti dari niscaya Allah akan mencintaimu adalah Allah akan mendekat padamu. Cinta adalah kedekatan. Arti Allah tidak mencintai orang-orang kafir adalah Allah tidak akan mendekat kepada orang kafir.” Al-Baghawi berkata, “Cinta Allah kepada kaum Mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan-Nya bagi mereka.” Al-Zujaj berkata, “Cinta Allah kepada makhluk-Nya adalah ampunan dan nikmatnya-Nya atas mereka, dengan rahmat dan ampunan-Nya, serta pujian yang baik kepada mereka. Yang menjadi fokus kami dalam bab ini adalah cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta dalam arti yang telah disebutkan di atas merupakan suatu kewajiban. Karena mahabbah (cinta) merupakan salah satu kecenderungan yang akan membentuk nafsiyah seseorang. Kecenderungan ini terkadang berupa perkara alami yang berbentuk naluri yang bersifat fitri (sesuai dengan penciptaan Allah). Naluri seperti ini tidak berhubungan dengan mafhum (pemahaman) apa pun; seperti kecenderungan manusia terhadap kepemilikan, kecintaan pada kelestarian dirinya, kecintaan pada keadilan, kecintaan pada keluarga, anak, dan sebagainya. Namun kecenderungan ini terkadang juga merupakan dorongan yang berhubungan dengan mafhum tertentu. Mafhum inilah yang nantinya akan menentukan jenis kecenderungan tersebut. Misalnya, bangsa Indian, mereka ¨βÎ*sù©!$#Ÿω=Ïtä†tÍÏ ≈s3ø9$#
  • 41. 42 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah tidak mencintai bangsa Eropa yang bermigrasi ke negeri mereka (karena menjajah mereka, penj.). Sementara itu, kaum Anshar mencintai orang-orang Muhajirin (dari Makkah) yang berhijrah ke mereka (Madinah). Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan mafhum syar’i, yang telah diwajibkan oleh Allah. Dalil dari al-Quran tentang hal ini adalah: Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (TQS. al-Baqarah [2]: 165). Maknanya, orang-orang beriman itu lebih besar kecintaannya kepada Allah dibandingkan dengan kecintaan orang-orang musyrik kepada tuhan-tuhan tandingan selain Allah. Katakanlah, “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri- isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah š∅ÏΒuρĨ$¨Ζ9$#tΒä‹Ï‚−GtƒÏΒÈβρߊ«!$##YŠ#y‰ΡröΝåκtΞθ™6Ïtä†Éb=ßsx.«!$#(tÉ‹©9$#uρ (#þθãΖtΒ#u‘‰x©r${6ãm°!3 ö≅è%βÎ)tβ%x.öΝä.äτ!$t/#uöΝà2äτ!$oΨö/ruρöΝä3çΡ≡uθ÷zÎ)uρö/ä3ã_≡uρø—ruρóΟä3è?uŽÏ±tãuρîΑ≡uθøΒruρ $yδθßϑçGøùuŽtIø%$#×οt≈pgÏBuρtβöθt±øƒrB$yδyŠ$|¡x.ßÅ3≈|¡tΒuρ!$yγtΡöθ|Êös?¡=ymrΝà6ø‹s9Î) š∅ÏiΒ«!$#ÏÎ!θß™u‘uρ7Š$yγÅ_uρ’ÎûÏÎ#‹Î7y™(#θÝÁ−/uŽtIsù4®Lymš†ÎAù'tƒª!$#ÍνÍ÷ö∆r'Î/3 ª!$#uρŸω“ωöκu‰tΠöθs)ø9$#šÉ)Å¡≈x ø9$#∩⊄⊆∪
  • 42. 43Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (TQS. at- Taubah [9]: 24). Adapun dalil dari as-Sunah diantaranya adalah: Dari Anas, sesungguhnya Nabi saw. bersabda: Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kiamat. Ia berkata, “Kapan terjadinya kiamat ya Rasulullah?” Rasul berkata, “Apa yang telah engkau siapkan untuknya?” Laki-laki itu berkata, “Aku tidak menyiapkan apa pun kecuali sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasul saw. berkata, “Engkau bersama apa yang engkau cintai.” Anas berkata; Kami tidak pernah merasa bahagia dengan sesuatu pun yang membahagiakan kami seperti bahagianya kami dengan perkataan Nabi, “Engkau bersama apa yang engkau cinta”, Anas kemudian berkata, “Maka aku mencintai Nabi, Abû Bakar, dan Umar. Dan aku berharap akan bersama dengan mereka karena kecintaanku kepada mereka meskipun aku belum bisa beramal seperti mereka.” (Mutafaq ‘alaih) »‫ﻲ‬ِ‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﺳ‬ ‫ﹰ‬‫ﻼ‬‫ﺟ‬‫ﺭ‬ ‫ﱠ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ِ‫ﺔ‬‫ﻋ‬‫ﺎ‬‫ﺴ‬‫ﺍﻟ‬ ِ‫ﻦ‬‫ﻋ‬،‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬:‫ﻰ‬‫ﺘ‬‫ﻣ‬:‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﹸ؟‬‫ﺔ‬‫ﻋ‬‫ﺎ‬‫ﺴ‬‫ﺍﻟ‬ َ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﺐ‬ِ‫ﺣ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬ ‫ﻲ‬‫ﻧ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﱠ‬‫ﻻ‬ِ‫ﺇ‬ ،َ‫ﺀ‬‫ﻲ‬‫ﺷ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬ :‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ ‫ﺎ؟‬‫ﻬ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﺕ‬‫ﺩ‬‫ﺪ‬‫ﻋ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹶﺍ‬‫ﺫ‬‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬‫ﻪ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ﻭ‬،‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻘ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺖ‬‫ﺒ‬‫ﺒ‬‫ﺣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬‫ﻣ‬ ‫ﻊ‬‫ﻣ‬ ‫ﺖ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬.‫ﻲ‬ِ‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﺐ‬ِ‫ﺣ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬ ‫ﺎ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺄ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺲ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬ٍ‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻜ‬‫ﺑ‬ ‫ﺎ‬‫ﺑ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ‫ﺖ‬‫ﺒ‬‫ﺒ‬‫ﺣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬‫ﻣ‬ ‫ﻊ‬‫ﻣ‬ ‫ﺖ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬.ٍ‫ﺀ‬‫ﻲ‬‫ﺸ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺣ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬ ‫ﺲ‬‫ﻧ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹶ‬‫ﻝ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻗ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺣ‬‫ﺮ‬‫ﹶ‬‫ﻓ‬‫ﻲ‬ِ‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ِ‫ﻝ‬‫ﻮ‬‫ﹶ‬‫ﻘ‬ِ‫ﺑ‬ «‫ﻢ‬ِ‫ﻬ‬ِ‫ﻟ‬‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻢ‬‫ﻫ‬‫ــﺎ‬‫ﻳ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻲ‬‫ﺒ‬‫ﺤ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﻢ‬‫ﻬ‬‫ﻌ‬‫ﻣ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹸﻮ‬‫ﻛ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻮ‬‫ﺟ‬‫ﺭ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬‫ﻭ‬،ِ‫ﻞ‬‫ﹾ‬‫ﺜ‬ِ‫ﻤ‬ِ‫ﺑ‬ ‫ﹾ‬‫ﻞ‬‫ﻤ‬‫ﻋ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻢ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬ِ‫ﺇ‬‫ﻭ‬
  • 43. 44 Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah Dari Anas ra., sesungguhnya Nabi saw. bersabda: Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya; orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah; dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke Neraka. (Mutafaq ‘alaih) Dari Anas ra., ia berkata; telah bersabda Rasulullah saw.: Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya. (Mutafaq ‘alaih) Para sahabat Rasulullah saw. sangat bersungguh-sungguh untuk menerapkan kewajiban ini. Mereka senantiasa berlomba untuk mendapatkan kemuliaan ini karena ingin termasuk golongan orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Bukti akan hal ini adalah: Diriwayatkan dari Anas ra., ia berkata: ِ‫ﺱ‬‫ـﺎ‬‫ـ‬‫ﻨ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﻪ‬‫ـ‬‫ـ‬ِ‫ﻟ‬‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﻪ‬‫ـ‬‫ـ‬ِ‫ﻠ‬‫ﻫ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻦ‬‫ـ‬‫ـ‬ِ‫ﻣ‬ ِ‫ﻪ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﺐ‬‫ﺣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﻮ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﱴ‬‫ﺣ‬ ‫ﺪ‬‫ﺒ‬‫ﻋ‬ ‫ﻦ‬ِ‫ﻣ‬‫ﺆ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬» «‫ﻦ‬‫ﻴ‬ِ‫ﻌ‬‫ﻤ‬‫ﺟ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﺐ‬‫ﺣ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻪ‬‫ﹸ‬‫ﻟ‬‫ﻮ‬‫ﺳ‬‫ﺭ‬‫ﻭ‬ ُ‫ﷲ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹸﻮ‬‫ﻜ‬‫ﻳ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ِ‫ﻥ‬‫ﺎ‬‫ﳝ‬ِ‫ﻹ‬‫ﹾ‬‫ﺍ‬ ‫ﹶ‬‫ﺓ‬‫ﻭ‬‫ﹶ‬‫ﻼ‬‫ﺣ‬ ‫ﺪ‬‫ﺟ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﻪ‬‫ِﻴ‬‫ﻓ‬ ‫ﻦ‬‫ﹸ‬‫ﻛ‬ ‫ﻦ‬‫ﻣ‬ ‫ﹲ‬‫ﺙ‬‫ﹶ‬‫ﻼ‬‫ﹶ‬‫ﺛ‬» ‫ﺩ‬‫ﻮ‬‫ﻌ‬‫ﻳ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻩ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻜ‬‫ﻳ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ِ‫ﷲ‬ِ‫ﱠ‬‫ﻻ‬ِ‫ﺇ‬ ‫ﻪ‬‫ﺒ‬ِ‫ﺤ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻻ‬ َ‫ﺀ‬‫ﺮ‬‫ﻤ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ﺐ‬ِ‫ﺤ‬‫ﻳ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﻫ‬‫ﺍ‬‫ﻮ‬ِ‫ﺳ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬ِ‫ﻣ‬ ِ‫ﻪ‬‫ﻴ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬ِ‫ﺇ‬ «ِ‫ﺭ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ ‫ﻑ‬‫ﹶ‬‫ﺬ‬‫ﹾ‬‫ﻘ‬‫ﻳ‬ ‫ﹾ‬‫ﻥ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬ ‫ﻩ‬‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻜ‬‫ﻳ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻛ‬ ِ‫ﺮ‬‫ﹾ‬‫ﻔ‬‫ﹸ‬‫ﻜ‬‫ﹾ‬‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬ »‫ﻡ‬‫ﻮ‬‫ﻳ‬ ‫ﹶ‬‫ﻥ‬‫ﹶﺎ‬‫ﻛ‬ ‫ﺎ‬‫ﻤ‬‫ﹶ‬‫ﻟ‬،ٍ‫ﺪ‬‫ﺣ‬‫ﹸ‬‫ﺃ‬‫ﻲ‬ِ‫ﺒ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ِ‫ﻦ‬‫ﻋ‬ ‫ﺱ‬‫ﺎ‬‫ﻨ‬‫ﺍﻟ‬ ‫ﻡ‬‫ﺰ‬‫ﻬ‬‫ﻧ‬‫ﺍ‬،‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ﺑ‬ ‫ﹶ‬‫ﺔ‬‫ﺤ‬‫ﹾ‬‫ﻠ‬‫ﹶ‬‫ﻃ‬ ‫ﻮ‬‫ﺑ‬‫ﹶ‬‫ﺃ‬‫ﻭ‬

Related Documents