NASEHAT UNTUK PENDIRI ORGANISASI, JAMA’AH DAN PARTAI[Tafsir Al-Qur‟an Surat Al-An‟am ; 159]“Artinya ; Sesun...
MAKNA AYAT SECARA UMUMIbnu Katsit rahimahullah berkata : “Pemeluk agama sebelumnya berselisih satu sama lain didalam pola ...
Organisasi ialah kumpulan beberapa orang yang mempunyai tugas masing-masing dengan tujuanyang sama dan disusun secara bers...
Syaikh Sholih Fauzan (anggota Kibarul Ulama Saudi Arabia) ditanya : “Kita sering mendengaristilah jama‟ah-jama‟ah (golonga...
maka dia tersesat dan ahli bid‟ah” [Hukmul Intima Ilal Firoq wal Ahzab wa Jama‟at Islamiyah :96-97]Syaikh Abu Anas Ali ber...
yang pasti terjadi, (karena ini merupakan kehendak kauni yang harus terjadi, bukan kehendaksyar‟i), maka Allah hanya menge...
Penulis berkata : “Benar, karena ulama salaf pada zaman dahulu dianggap tidak tahu fiqhulwaqi‟ atau politik, dan dituduh d...
9). Dengan berdirinya banyak golongan pasti mencela dan memberi gelar yang jelek kepadagolongan lain. Ini adalah ciri oran...
dengan hadits palsu „ ikhtilafu umati rahmat‟ (perpecahan umat ini adalah rahmat). Ketahuilahperkataan itu bukan hadits Ra...
shahih disertai dengan pemahaman salafush shalih, dari kalangan para sahabat, tabi‟in dan ahlihadits, sebab jika tokoh uma...
mereka tersesat dan hina, yang demikian itu karena mereka berpegang kepada pendapatpemimpin mereka.Tatkala terjadi perseli...
of 11

Nasehat untuk pendiri organisasi

Published on: Mar 3, 2016
Published in: Lifestyle      
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Nasehat untuk pendiri organisasi

  • 1. NASEHAT UNTUK PENDIRI ORGANISASI, JAMA’AH DAN PARTAI[Tafsir Al-Qur‟an Surat Al-An‟am ; 159]“Artinya ; Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah)menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Alloh, kemudian Alloh akanmemberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” [Al-An‟am ; 159]MUQADDIMAHLembaga Dakwah pada zaman sekarang menyebar di mana-mana. Mereka mendirikanorganisasi, partai dan beberapa jama‟ah, mereka berdalih untuk memperjuangkan Islam. Akantetapi kenyataan yang ada, mereka saling berpecah-belah. Mereka merasa kelompoknya yangpaling benar, para pengikutnya pun merasa bangga dengan pemimpinnya, keputusan pemimpinseperti wahyu ilahiah yang tidak boleh dibantah dan harus ditaati, terancam jiwanya bila dikritikkarena salah keputusannya, mau mengkritik akan tetapi tidak mau dikritik, kadang kala menolakda‟i yang bukan golongannya apabila dianggap merugikan kelompoknya sekalipun da‟i itubenar, mereka merasa sedih bila anggotanya keluar. Inilah kenyataan yang tidak bisa dipungkiribagi orang yang tahu hakikatnya. Benarkah demikian cara kita memperjuangkan Islam? InsyaAlloh dengan menyimak pembahasan berikut ini dan fatwa ulama Sunnah kita akan tahujawabannya.
  • 2. MAKNA AYAT SECARA UMUMIbnu Katsit rahimahullah berkata : “Pemeluk agama sebelumnya berselisih satu sama lain didalam pola berfikir. Masing-masing mengaku bahwa kelompoknya yang benar, umat ini punberselisih satu sama lain di dalam beragama, semuanya tersesat kecuali satu yaitu Ahlus Su‟nnahwal Jama‟ah, yaitu mereka yang berpegang teguh dengan Al-Qur‟an dan Sunnah RasulullohShallallahu „alaihi wa sallam, dan generasi pertama dari kalangan Sahabat Radhiyallahu „anhumdan para tabi‟in dan para ulama kaum muslimin (salaf) dahulu dan sekarang, sebagaimanadiriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrok-nya ketika Rosululloh Shallallahu„alaihi wa sallam ditanya tentang golongan yang selamat, maka beliau Shallallahu „alaihi wasallam menjawab : “Mereka adalah orang yang mengikuti Sunnahku pada hari ini danSahabatku” [Tafsir Ibnu Katsir 5/282]Ayat ini diperhatikan secara serius oleh ulama Sunnah, oleh karena itu sungguh amat beruntungapabila kita dalat mengambil ilmu mereka. Mari kita simak nasehat mereka.FAWAID AYAT[a]. Tanda orang musyrik, mereka suka berpecah-belah.Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Orang musyrik suka mengganti dan merubah agamanya,mereka beriman terhadap sebagian akan tetapi menolak sebagian yang lain. Merekameninggalkan agamanya seperti orang Yahudi, Nasrani, Majusi, penyembah berhala dan semuapengikut agama yang bathil sebagaimana dicantumkan di dalam ayat ini (Al-An‟am ; 159)”[Tafsir Ibnu Katsir 6/282)[b]. Hindari partai dan golongan yang merusak persatuan umat dan agamaIbnu Jarir At-Thobari rahimahullah berkata : “Orang yang tersesat mereka meninggalkanagamanya dan sungguh partai dan golongan telah memecah belah agama yang diridhoi Allohuntuk para hamba-Nya, sehingga sebagian menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi. Inilah yangdinamakan perpecahan, mereka bergolong-golongan tidak mau bersatu, mereka mengerti agamayang benar, akan tetapi meninggalkannya dan memecah-belah” [Tafsir At-Thobari 8/78][c]. Pemecah-belah umat bukan golongan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallamDiriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Syaikh dari As-Sudi bahwa maksud ayat “ wahaiNabi kamu tidak diperintah untuk memerangi mereka”, lalu dihapus ketetapan ini dengan suratAl-Baqoroh : 92, dan beliau Shallallahu „alaihi wa sallam diperintah memerangi mereka. AbulAhwash berkata : “Nabimu Nabi Muhammad Shallallahu „alaihi wa sallam berlepas diri dariumatnya yang berselisih” [Durul Mansur 3/400]Adapun faidah yang lain, masih banyak sekali sebagaimana tertulis dalam kitab tafsir danlainnya.ORGANISASI, PARTAI DAN HUKUMNYA
  • 3. Organisasi ialah kumpulan beberapa orang yang mempunyai tugas masing-masing dengan tujuanyang sama dan disusun secara berstruktur.Persatuan adalah gabungan dari beberapa bagian yang sudah bersatu dalam suatu lembaga.Himpunan adalah organisasi atau perkumpulan yang bersatu dalam satu wadah karena satuidiologi [Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer : 1063]Yayasan ialah badan hukum yang tidak beranggota, ditangani oleh pengurus, didirikan dengantujuan mengupayakan layanan dan bantuan sosial seperti sekolah, rumah sakit dan sebagainya.[Halaman : 1727]Partai politik adalah kumpulan orang yang mempunyai asas, haluan, pandangan, serta tujuanyang sama di bidang politik. [Halaman ; 1099]Dari keterangan di atas diketahui bahwa organisasi atau kelompok yang didirikan untuk urusanduniawi menurut asal hukumnya adalah halal, kecuali bila organisasi tersebut membawamafsadah atau kerusakan pribadi, umat atau agama Islam, maka hukumnya haram, sebagaimanakaidah usul yang mengatakan al-ashlu fil-asyya‟-al-ibahah (asal segala sesuatu hukumnyamubah).“Dia-lah Alloh yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” [Al-Baqoroh : 29]HUKUM MENDIRIKAN ORGANISASI DAKWAHBagaimana bila mendirikan partai, jama‟ah, golongan dengan tujuan berdakwah!? Berikut inijawabannya.“Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Alloh yaitu orang-orang yangmemecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golonganmerasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Al-Rum : 31-32]Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Tidak boleh bagi siapa pun mengangkat orang mengajakumat ini untuk mengikuti pola hidup dan peraturannya, senang dan membenci karena dia selainNabi Shallallahu „alaihi wa sallam dan ijma ulama Sunnah. Adapun ciri ahli bid‟ah merekamengangkat pemimpin dari umat ini, atau membuat peraturan yang mengakibatkan umatberpecah belah, mereka mencintai umat karena mengikuti peraturan golongannya dan memusuhiorang yang tidak mengikuti golongannya” [Dar‟ut Ta‟arudh 1/149]Selanjutnya beliau rahimahullah berkata ;”Dan tidak boleh seorangpun membuat undang-undangyang dia menyenangi orang atau memusuhinya dengan dasar peraturannya, bukan peraturan yangtercantum dalam Al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam” [MajmuFatawa Ibnu Taimiyah 20/164]
  • 4. Syaikh Sholih Fauzan (anggota Kibarul Ulama Saudi Arabia) ditanya : “Kita sering mendengaristilah jama‟ah-jama‟ah (golongan-golongan) Islam pada zaman sekarang yang telah menyebardi dunia. Dari mana istilah penamaan ini?Beliau menjawab :”Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam telah memberi tahu kepada kita caraberamal, beliau tidaklah meninggalkan sesuatu yang dapat mendekatkan umat ini kepda Allohmelainkan beliau telah menjelaskannya, dan tidaklah meninggalkan sesuatu yang membuatmanusia jauh dari Alloh melainkan beliau telah menjelaskannya. Termasuk perkara yang kamutanyakan ini, beliau Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda :”Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian hidup (setelah aku meninggal dunia) akan menjumpai perselisihan yang banyak.Bagaimana cara menanggulanginya ketika peristiwa ini terjadi? Beliau Shallallahu „alaihi wasallam bersabda : „Wajib bagimu berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidinyang mendapat petunjuk sesudahku, hendaknya kamu berpegang kepadanya, dan gigitlah dengangigi gerahammu, jauhkan dirimu dari perkara baru, karena setiap perkara baru bid‟ah dan setiapbid‟ah dan setiap bid‟ah adalah tersesat‟. (Dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Al-Irwa : 2455)Maka dari jama‟ah yang ada, apabila dia berdiri di atas petunjuk Nabi Shallallahu „alaihi wasallam dan para sahabatnya, terutama Khulafaur Rasyidin dan abad yang mulia, maka jama‟ahdan golongan dimana saja kita masuk di dalamnya, dan wajib kita bekerja sama dengan mereka.Adapun jama‟ah yang menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, kita wajibmenjauhinya, walaupun dia mengatakan jama‟ah islamiah. Yang menjadi ukuran bukan nama,akan tetapi kenyataan. Adapun nama memang banyak dan marak kita saksikan dimana-mana,akan tetapi nihil dan bathil juga. Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda :”Telahberpecah-belah orang Yahudi manjadi tujuh puluh dua golongan, dan akan bepecah belah umatini menjadi tujuh puluh tiga golongan, semua di neraka kecuali satu. Kami berkata ; „Siapa diawahai Rasulullah ? Beliau Shallallahu „alaihi wa sallam menjawab : „Orang yang berpijaksemisal saya pada hari ini dan berpijak kepada Sunnah sahabatku”Keterangan ini jelas dan gamblang. Jika kita menjumpai jama‟ah dan ini tandanya, merekamengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka merekagolongan Islam yang benar. Adapun jama‟ah yang menyelisihi jalan ini, dan berjalan di atasjalan yang lain, jama‟ah itu bukan golongan kita, dan kami pun bukan golongan mereka, kitatidak masuk di dalamnya, dan mereka pun tidak masuk golongan kita, mereka bukan dinamakanjama‟ah, akan tetapi mereka itu firqoh (golongan pemecah-belah) dari firqoh yang tersesat.Karena itulah jama‟ah tidaklah ada melainkan di atas manhaj yang benar, yang manusia bersatudi atasnya, sedangkan kebathilan pasti memecah-belah dan tidak menyatukan, Alloh Subhanahuwa Ta‟ala berfirman.“…Dan jika mereka berpaling sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)“[Al-Baqarah : 137] [Al-Ajwibah Al-Mufidah an As‟ilatil Manahajil Jadidah 6-8]Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid (anggota Kibarul Ulama Saudi Arabia) berkata :”Tidakboleh diangkat seorangpun untuk mengajak umat ini menuju ke jalannya melainkan Nabi kitaShallallahu „alaihi wa sallam dan Rasul kita Muhammad Shallallahu „alaihi wa sallam.Barangsiapa yang mengangkat selain Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam sebagai panduan hidup
  • 5. maka dia tersesat dan ahli bid‟ah” [Hukmul Intima Ilal Firoq wal Ahzab wa Jama‟at Islamiyah :96-97]Syaikh Abu Anas Ali berkata : “Sesungguhnya partai dan golongan yang memiliki peraturanyang menyelisihi Al-Qur‟an dan As-Sunnah ditolak oleh ajaran Islam, karena tidak ada dalil dariAl-Qur‟an dan hadits yang membolehkan umat Islam berpartai dan bergolong-golongan, justrusebaliknya kita jumpai banyak dalil yang mencela berdirinya beberapa partai dan golongan,misalnya firman-Nya yang tercantum dalam surat Al-An‟am : 159 dan Ar-Rum : 32, bahkandampak yang kita ketahui dengan adanya banyak partai dan golongan satu sama lain salingmenjelekkan, mencaci dan memfasikan, bahkan boleh jadi lebih dari pada itu, mengkafirkanyang lain tanpa dalil” [Kaifa Nualiju Waqanal Alim 199-200]BENARKAH DAKWAH TIDAK AKAN MAJU TANPA ORGANISASI?Syaikh Abu Anas Ali berkata : “Ada orang yang berkata :‟Tidak mungkin dakwah akan tegakdan tersebar melainkan apabila di bawah naungan partai dan golongan‟. Maka kami jawab :Syaikh Ibnu Utsaimin berkata :‟Pendapat ini adalah salah, bahkan sebaliknya dakwah menjadikuat dan tersebar tatkala manusia kuat berpegang teguh kepda Al-Qur‟an dan Sunnah RasulullahShallallahu „alaihi wa sallam dan orang yang paling banyak mengikuti jejak Nabi Shallallahu„alaihi wa sallam dan para sahabat. Ketahuilah wahai para pemuda! Sesungguhnya banyaknyajama‟ah atau golongan adalah fakta yang menyakitkan dan bukan fakta yang menyehatkan. Sayaberpendapat hendaknya umat Islam satu partai saja, yaitu yang kembali kepada Al-Qur‟an danSunnah Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam” [As-Shohwatul Islamiyah Dhowabith waTaujihat oleh Syaikh Ibnu Utsaimin : 258-259]Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Adapun umat yang berpecah-belah menjadi sekianbanyak golongan sehingga masing-masing mengatakan dia yang paling benar, bukan hanya inisaja, bahkan mereka menganggap sesat golongan lain, membid‟ahkan golongan yang lain,membuat orang menjauhi kelompok lain, maka tidaklah diragukan bahwa ini adalahpendiskreditan dan cacat bagi umat Islam. Ini merupakan senjata yang paling kuat untukmembinasakan kebangkitan Islam yang penuh barokah ini. Maka kamu perlu menasehatisaudara-saudara kami, hendaknya kalian bersatu, hindari perpecahan, kembalikah kepada jalanyang haq Inilah kewajiban setiap umat Islam” [Kajian rutin setiap bulan oleh Syaikh IbnuUtsaimin edisi pertama hal.31]Al-Muhaddits Al-Albani ketika ditanya : “Bagaimana menurut pandangan syariat Islam, kaummuslimin bergolong-golongan, berpartai yang berbeda berorganisasi Islam, padahal satu samalain berbeda sistemnya, caranya, seruannya, aqidahnya dan berbeda pula landasan peganganyang menjadi pegangan mereka, padahal golongan yang benar hanya satu sebagaimana disebutdi dalam hadits yang shahih?. Beliau menjawab : “Tidaklah ragu bagi orang yang berilmu Al-Qur‟an dan As-Sunnah dan memahaminya dengan pemahaman salafush shalih yang diridhoiAllah Subhanahu wa Ta‟ala, bahwa berpartai, bergabung dengan kelompok-kelompok yangberbeda pola berfikirnya, ini adalah yang pertama. Dan manhaj atau cara serta sarana yangberbeda pula, ini yang kedua, maka tidaklah Islam membolehkan hal ini sedikit pun, bahkanAlloh Pencipta kita melarang kita berpecah-belah bukan hanya satu ayat, misalnya surat Ar-Rum: 32, Hud : 118-119. Di dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla tidak mengecualikan perselisihan
  • 6. yang pasti terjadi, (karena ini merupakan kehendak kauni yang harus terjadi, bukan kehendaksyar‟i), maka Allah hanya mengecualikan golongan yang dirahmati, yaitu : “Kecuali orang yangdirahmati oleh Raabmu” [Hud : 119] [Fatwa Syaikh Al-Albani rekaman kaset nomor : 608, ataulihat Kitab Kaifa Nualiju Waqianal Alim : 201]Syaikh Ibnu Jibrin tatkala ditanya : “Bagaimana hukumnya umat Islam mendirikan partaipolitik?” Beliau menjawab ; “Islam mengajak kita bersatu, dan melarang kita berpecah-belah,orang Islam dilarang berpecah-belah berdasarkan firman-Nya di dalam surat Al-Imran ; 105,surat Ar-Rum : 31-32Dari keterangan ulama Sunnah di atas nampak jelas bahwa kenyataan yang ada, partai dangolongan yang landasannya menyimpang dari Sunnah tidaklah menjadi sebab berkembangnyadakwah Islamiyah, akan tetapi sebaliknya merusak aqidah umat. Berapa banyak para tokoh partaimenghalalkan yang haram, menghalalkan bid‟ah dan syirik, loyal dengan agama selain Islamkarena ingin mencari pengikut dan ingin mencari kursi. Akan tetapi sebaliknya berdakwah yangdilakukan oleh perorangan dari kalangan ulama Sunnah yang kembali kepada pemahamansalafush shalih, mereka berhasil, mereka bersatu, walaupun lain tempat dan waktu. Lihat dakwahImam Ahmad rahimahullah dan ahli hadits lainnya, ahli fikih dan ahli tafsir salafush shalih, IbnuTaimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama Sunnah yang baru saja meninggal dunia,misalnya Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnu Utsaimin dan lainnya baik yang telah meninggal dunia atauyang masih hidup, dakwah mereka nyata, menerangi penduduk dunia, rohmatan lil alamin.Mereka berhasil memberantas kemusyrikan dan kebid‟ahan, penyakit yang sangat berbahaya didunia yang merusak tauhid dan Sunnah, padahal mereka tidak mendirikan partai, organisasi danjama‟ah yang tersesat.BAHAYA FANATIK GOLONGANSyaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali berkata ; “Sungguh sebagian ulama telah menjelaskankerusakan yang disebabkan oleh manusia yang fanatik kepada madzhab-madzhab atau golongan,di antaranya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, beliau menjelaskan kerusakannya sebagai berikut.[1]. Menentang nash yang kuat dari Al-Qur‟an dan Sunnah, karena fanatik kepada golongan, dankadangkala merasa cukup dengan pendapat saja.Penulis berkata : “Memang demikian kenyataannya, banyak pengikut terkena sihir dan tertipuoleh pemimpinnya, sehingga agama adalah apa kata pemimpinnya‟.[2]. Mengambil hadits lemah dan palsu sebagai dasar untuk mempertahankan pendapatnya,bahkan mereka berdusta dan berani membuat hadits untuk mendukung pendapatnya.Penulis berkata : “Di antara ciri ahli bid‟ah, mereka menolak hadits yang shahih dan mengambilhadits yang lemah”.[3]. Mereka mendahulukan pendapat orang yang dianggap berilmu pada zaman sekarang daripada ilmu ulama salafush shalih.
  • 7. Penulis berkata : “Benar, karena ulama salaf pada zaman dahulu dianggap tidak tahu fiqhulwaqi‟ atau politik, dan dituduh dengan tuduhan jelek”[4]. Terjerat oleh pendapat perorangan, dan tidak mau mengambil ilmu atau kebenaran madzhabyang lain, tidak mau membaca nasehat ulama, dikarenakan fanatik kepada pemimpinnyaPenulis berkata :”Memang demikian, tidak sedikit pemimpin yang rusak aqidah dan moralnya,akan tetapi karena jadi pemimpin, menjadi cermin hidup oleh pengikutnya”.[5]. Umumnya ketetapan atau anggaran dasar setiap golongan sunyi dari dalil syar‟i bahkanmembecinya.Penulis berkata : “Benar, bagaimana tidak, karena tim perumusnya dari berbagai macam aliran,sedangkan ketetapan diambil dengan cara suara terbanyak, mana yang banyak itulah yangmenang.[6]. Tersebarnya taqlid, jumud dan tertutupnya pintu ijtihad.[Diringkas dari At-Taasshub Al-Dzamim wa Atsarohu oleh DR Rabi bin Hadi Umar Al-Madkhali 5-15]Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid menjelaskan ada empat puluh satu bahaya dengan berdirinyapartai dan golongan Islam diantaranya.1) Mereka mengikat wala dan bara atau menyenangi dan membenci orang karena golongan.2). Kebanyakan kelompok/golongan yang menamakan dirinya kelompok/ golongan Islammerusak Islam, lihat kelompok Baha‟iyah dan Qodyaniah, dst.3). Kami bertanya : “Apakah setiap partai membolehkan apabila ditandingi oleh partai yang laindi dalam suatu negeri? Jika dijawab boleh, ini adalah jawaban yang tidak masuk akal, dan tidakingin umat ini menjadi baik. Jika tidak noleh, bagaimana membolehkan dirinya dan melarangorang lain? Padahal semua partai menurut dugaan mereka ingin membela Islam”.4). Berapa banyak partai dasarnya hanya politik belaka, sunyi dari kaidah Islam, yang akhirnyamerusak Islam dan dakwah Islam menjadi suram.5). Dengan adanya beberapa golongan di dalam tubuh kaum muslimin menunjukkan adanyaperpecahan didalamnya6). Dengan banyaknya partai akan mengebiri aktivitas amal Islami7). Masing-masing parati dan golongan menyembunyikan kebenaran Islam karena penyakitfanatic golongan.8). Partai dan golongan pasti merupakan persaudaraan umat Islam
  • 8. 9). Dengan berdirinya banyak golongan pasti mencela dan memberi gelar yang jelek kepadagolongan lain. Ini adalah ciri orang jahiliyah perusak Islam.10). Partai dan golongan dibangun atas dasar suara yang banyak, tidak mau dikriitik dandibantah.12). Pada awalnya partai itu dibangun untuk mewujudkan amal Islami agar menjadi insan yangbertauhid, akan tetapi pada umumnya berubah menjadi bentuk yang aneh pada tubuh umat,karena ingin menyaingi partai yang lain.13). Bahaya yang paling nampak dengan berdirinya golongan dan partai adalah lenyapnyadakwah menuju ke jalan Allah sesuai dengan dengan sunnah Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam14). Dakwah yang dilakukan partai dibangun atas dasar pola berfikir dan rancangankelompoknyaInilah sebagian bahaya akibat munculnya banyak partai dan golongan. Bagi yang inginmengetahui bahaya yang lain, silahkan baca kitab Hukmul Intima‟ Ilal Firoq Wal Ahzab WalJama‟at Al-Islamiyah oleh Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid hal. 135-152]UMAT ISLAM PASTI BERPECAH-BELAH AKAN TETAPI WAJIB BERSATUFitnah yang muncul pada akhir zaman bahwa umat Islam berpecah-belah menjadi beberapagolongan, masing-masing mengaku kelompoknya yang benar, seperti halnya orang Yahudi danorang Nasrani, mereka berpecah-belah dan mengaku bahwa hanya golongannya yang benar“Dan orang-orang Yahudi berkata : „Orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan‟, Danorang-orang Nasrani berkata : „Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan‟.Padahal mereka (sama-sama) membuat Al-KItab” [Al-Baqarah : 113]Adapun dalil yang menjelaskan bawa umat Islam pada akhir zaman pasti berpecah-belahdiantaranya adalah hadits Anas bin Malik Radhiyallahu „anhu, Nabi Shallallahu „alaihi wasallam.“Sesungguhnya bani Israil berpecah-belah menjadi tujuh puluh satu, dan sesungguhnya umat iniakan berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua, semuanya di neraka kecuali satu, dan dia adalahjama‟ah” [HR Ibnu Majah ; 3983] Dishahihkan Al-Albani Shahih Ibnu Majah 2/364.Yang dimaksud jama‟ah di dalam hadits ini adalah kembali kepada yang haq, atau sebagaimanayang diterangkan oleh Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam yaitu orang yang berpijak kepadaSunnahku pada hari itu dan Sunnah para sahabatku.Perpecahan umat Islam ini merupakan takdir kauny (kehendak Allah untuk menciptakannya)bahwa pada akhir zaman umat Nabi Muhammad Shallallahu „alaihi wa sallam pasti berpecah-belah, akan tetapi bukan berarti kita boleh berpecah-belah, sebagaimana dalil yang selaludikumandangkan oleh orang ahli bid‟ah dalam rangka menutup aib mereka, mereka berdalil
  • 9. dengan hadits palsu „ ikhtilafu umati rahmat‟ (perpecahan umat ini adalah rahmat). Ketahuilahperkataan itu bukan hadits Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam akan tetapi hadits palsu.Syaikh Al-Albani berkata : “Para pakar ahli hadits telah mencoba mencari sanad hadits ini akantetapi tidak menemukannya” [Lihat Silsilah Ahadits Dho‟ifah 1/141]Dalil mereka ini tidak masuk akal, karena mustahil orang yang berselisih dan berpecah-belahhidupnya penuh dengan rahmat. Bukankah pasangan suami-istri bila berselisih terancamjiwanya, bagaimana berselisih dalam hal aqidah dan ibadah merasa rahmat?! Oleh karena itu ahlibid‟ah dan orang yang fanatik golongan merasa sakit hatinya bika dikritik kesalahannya.Ketahuilah perpecahan umat ini merupakan ujian bagi orang yang beriman, hendaknya merekamemilih jalan yang benar dan meninggalkan kelompok tersesat lainnya. Adapun dalil wajibnyakita bersatu, tidak boleh berpecah-belah dan bergolong-golongan.“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berceraiberai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” [Ali-Imran ; 103]Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda.“Sesungguhnya Allah meridhoi kamu tiga perkara dan membenci kamu tiga perkara ; Diameridhoi kamu apabila kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu kepada-Nya, dan apabila kamu berpegang teguh kepada tali Allah semua dan kamu tidak berpecah-belah” [HR Muslim : 3236]BAGAIMANA AGAR UMAT ISLAM BERSATU?Ayat dan hadits diatas menunjukkan cara untuk menyatukan umat Islam, yaitu kita harus kembalikepada tali Allah, sedangkan makna tali Allah ialah Al-Qur‟an dan Sunnah sebagaimanadijelaskan di dalam hadits.“Kitab Allah adalah tali Allah yang menjulur dari langit ke bumi” [Lihat Silsilah As-Shahihah5/37]Adapun dalil yang menunjukkan bahwa As-Sunnah termasuk tali Allah, sabda Nabi Shallallahu„alaihi wa sallam.“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya yaitu kitab Allahdan Sunnah Nabi-Nya‟ [HR Imam Malik 1395 bersumber dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu„anhu dihasankan oleh Al-Albani di dalam kitabnya Manzilatus Sunnah fil Islam 1/18]Pada zaman sekarang umat Islam tidak cukup hanya bepegang kepada Al-Qur‟an dan haditsyang shahih untuk menyatukan umat, karena ahli bid‟ah pun mengaku berpegang kepada Al-Qur‟an dan Sunnah, akan tetapi mereka berselisih dan berpecah-belah, karena itu tidaklah umatIslam akan bersatu melainkan apabila di dalam berpegang kepada Al-Qur‟an dan hadits yang
  • 10. shahih disertai dengan pemahaman salafush shalih, dari kalangan para sahabat, tabi‟in dan ahlihadits, sebab jika tokoh umat memahami dalil nash dengan pemahaman salafush shalih niscayamereka tidak akan berpecah belah walaupun mereka berselisih dalam suatu masalah, karenakhilaf mereka jatuh pada masalah ijtihadiah.Adapun dalil wajibnya kita memahami dalil nash dengan pemahaman salafush shalih adalahsebagai berikut.“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orangMuhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepadamereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah dan Allah menyediakan bagi merekasurga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya ; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [At-Taubah : 100]Dalam ayat di atas Allah memuji sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, yangsekarang dikenal dengan nama ahlus sunnah wal jama‟ah atau pengikut as-salafush sholih.Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda.“Maka barangsiapa yang menjumpai itu (perpecahan umat) hendaknya dia berpegang kepadaSunnahku dan Sunnah para kholifah yang menunjukkan kepada kebaikan dan mendapatpetunjuk, gigitlah Sunnah ini dengan gigi geraham” [HR Tirmidzi 2600 dan lainnya dishahihkanAl-Albani lihat Silsilah As-Shahihah 6/610]Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam tidak hanya berpesan kepada umatnya agar berpegangkepada Sunnahnya saja, akan tetapi kepada Sunnah sahabat pula.Dari Abu Burdah Radhiyallahu „anhu, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda.“Dan sahabatku adalah orang yang dapat dipercaya untuk umatku, maka jika mereka telah pergi,maka akan datang apa yang dijanjikan kepada umatku” [HR Muslim 4596]Imama Nawawi rahimahullah berkata : “Adapun makna “apa yang dijanjikan” yaitu munculnyabid‟ah, perkara baru dalam urusan agama, dan munculnya fitnah” [Syarah Imam Muslim 16/83]Selanjutnya orang yang menolak pemahaman para sahabat maka akan diancam menjadi orangyang tersesat.“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalanyang bukan jalan orang-orang mu‟min. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telahdikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruktempat kembali” [An-Nisa : 115]Syaikh Al-Albani berkata : “Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu „alaihi wasallam, bahwa umat Islam pada zaman sekarang –kecuali sedikit di antara mereka- tatkalamereka tidak berpegang teguh dengan kitab Allah dan Sunnah Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam
  • 11. mereka tersesat dan hina, yang demikian itu karena mereka berpegang kepada pendapatpemimpin mereka.Tatkala terjadi perselisihan, pendirian mereka pada dasarnya kembali kepada pemimpin mereka,jika ada ayat yang cocok, mereka ambil, jika tidak, mereka tolak. Bahkan sebagian merekaberkata : “Setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan pendapat mereka, maka dimansukh(dihapus)”. Semoga Allah merahmati Imam Malik rahimahullah, beliau berkata : “Dan tidakakan baik umat pada akhir zaman ini melainkan apabila mereka kembali sebagaimana ulamapertama memperbaiki umat” [Hajjatun Nabi 1/71]Kesimpulannya para tokoh masyarakat hendaknya mengajak umat agar kembali kepadapemahaman salafush shalih tatkala mengambil dalil dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah, agar umattetap bersatu dan tidak timbul perasaan benar sendiri dan menyalahkan orang benar.Tokoh umatnya hendaknya hati-hati dalam memimpin umat jangan sampai menjadi penyebabkerusakan umat.Dari Tsauban Radhiyallahu „anhu, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda.“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan”[HR Tirmidzi 2155 dishahihkan oleh Al-Albani Shahihul Jami‟ 2316]Tokoh umat hendaknya takut di hadapan pengadilan Allah pada saat pengikut mengadu pada harikiamat. Baca surat Ibarhim : 21-22 dan surat Ghofir : 47-48, surat As-Saba : 31-33. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta‟ala memberi petunjuk kepada kita semua, menjadi pemimpinyang mengajak umat kepada yang haq yang diridhoi oleh Allah Jalla Jala Luhu.

Related Documents