i
ANALISIS KARAKTERISTIK WISATAWAN DAN IMPLIKASINYA
PADA PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA
(Studi Kasus di Pantai Senggigi Kab...
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………….. i
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………………… ii
INTISARI …………………………...
iii
1
I PENDAHULUAN
Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah salah satu provinsi Indonesia yang memiliki
potensi wisata yang patut unt...
2
masih belum optimal. Salah satu cara perbaikan pada destinasi wisata adalah
dengan memperhatikan keinginan dari para wis...
3
II TINJAUAN PUSTAKA
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-
kelompok pembeli yang berbeda...
4
psikografis bisa dianggap sebagai gaya hidup dan nilai yang dianut oleh
seseorang, dan akan menentukan preferensi dan ca...
5
objek wisata yang dikunjungi, aktivitas yang dilakukan selama berwisata,
dan pola interaksi dengan masyarakat di tujuan ...
6
dengan preferensi atau motivasi kunjungan (Dewi, 2005). Perbedaan skor
venturesomeness akan terlihat dalam perbedaan kar...
7
III METODE PENELITIAN
Wilayah Amatan
Wilayah administratif yang diteliti adalah objek wisata Pantai Senggigi di
Kabupate...
8
dalam penelitian ini adalah metode statistik deskriptif frekuensi dan crosstabs (tabel
silang).
IV ANALISIS DAN PEMBAHAS...
9
paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, sehingga peneliti dapat melihat gambaran
secara cepat preferensi aktivitas apa ...
10
Lama tinggal di Lombok Barat sekitar
2-5 hari
Near Allocentric
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa karakter psikog...
11
Pengembangan atraksi dilakukan dengan mengembangkan atraksi-
atraksi yang sifatnya menonjolkan sisi petualangannya. Pen...
12
V KESIMPULAN
Karakteristik wisatawan yang datang ke Lombok Barat berdasarkan
sosiodemografis adalah sebagai berikut:
 ...
13
allocentric. Sehingga, secara konseptual segmen kegiatan yang akan dikembangkan
adalah sebagai berikut:
1. Atraksi
Peng...
14
DAFTAR PUSTAKA
Basala, Sandra L. and David B. Klenosky (2001). “Travel-Style Preferences for
Visiting a Novel Destinati...
of 17

Analisis Karakterisktik wisatawan dan implikasinya pada pengembangan destinasi wisata.

Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi wisata yang patut untuk dikembangkan. Kunjungan wisatawan ke daerah ini selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kabupaten Lombok Barat memiliki potensi wisata yang cukup terkenal, salah satunya adalah Pantai Senggigi. Namun meskipun kunjungan wisatawan di Pantai Senggigi selalu mengalamai kenaikan yang cukup signifikan, tetapi apabila dibandingkan maka wisatawan mancanegara jauh lebih banyak yang mengunjungi Pantai Senggigi dibandingkan wisatawan nusantara. Hal ini berarti bahwa produk wisata di Pantai Senggigi masih belum optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik segmentasi wisatawan berdasarkan sosiografis dan demografis yang datang ke Pantai Senggigi sehingga dapat diketahui permintaan wisatawan yang berkunjung ke sana yang nantinya dapat dijadikan dasar pengembangan produk wisata di tempat tersebut. Metode yang digunakan adalah mix kualitatif dan kuantitatif dengan pengambilan sampel sebanyak 100 orang. Hasil kuesioner tersebut kemudian dideskripsikan mengenai karakteristik wisatawan berdasarkan sosiografis dan demografis. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosiografis wisatawan yang berkunjung ke Pantai Senggigi mayoritas merupakan karyawan swasta, Mayoritas berusia 36-39 tahun, tingkat pendidikannya sarjana (S1), menikah dengan jumlah anak rata-rata 1-2 orang, merupakan wisatawan berulang (repeater), memiliki pengeluaran per bulan antara 2,1 juta rupiah – 3 juta rupiah, berkunjung bersama keluarga, lama tinggal di Lombok Barat sekitar 2-5 hari, dan mayoritas wisatawan berasal dari luar pulau. Sedangkan karakteristik demografis wisatawan yang berkunjung ke Pantai Senggigi berdasarkan indikator venturesomeness merupakan wisatawan yang near allocentric yang artinya lebih menyukai atraksi yang bersifat adventure dan alami. Berdasarkan VALS, wisatawan yang berkunjung ke Senggigi dibagi menjadi tiga segmen. Kata Kunci: segmentasi wisatawan, sosiodemografis, psikografis, Pantai Senggigi, Lombok Barat
Published on: Mar 3, 2016
Published in: Education      
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Analisis Karakterisktik wisatawan dan implikasinya pada pengembangan destinasi wisata.

  • 1. i ANALISIS KARAKTERISTIK WISATAWAN DAN IMPLIKASINYA PADA PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA (Studi Kasus di Pantai Senggigi Kabupaten Lombok Barat- NTB) I Ketut Suardana1 , Budi Prayitno2 , Ike Janita Dewi3 INTISARI Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi wisata yang patut untuk dikembangkan. Kunjungan wisatawan ke daerah ini selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kabupaten Lombok Barat memiliki potensi wisata yang cukup terkenal, salah satunya adalah Pantai Senggigi. Namun meskipun kunjungan wisatawan di Pantai Senggigi selalu mengalamai kenaikan yang cukup signifikan, tetapi apabila dibandingkan maka wisatawan mancanegara jauh lebih banyak yang mengunjungi Pantai Senggigi dibandingkan wisatawan nusantara. Hal ini berarti bahwa produk wisata di Pantai Senggigi masih belum optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik segmentasi wisatawan berdasarkan sosiografis dan demografis yang datang ke Pantai Senggigi sehingga dapat diketahui permintaan wisatawan yang berkunjung ke sana yang nantinya dapat dijadikan dasar pengembangan produk wisata di tempat tersebut. Metode yang digunakan adalah mix kualitatif dan kuantitatif dengan pengambilan sampel sebanyak 100 orang. Hasil kuesioner tersebut kemudian dideskripsikan mengenai karakteristik wisatawan berdasarkan sosiografis dan demografis. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosiografis wisatawan yang berkunjung ke Pantai Senggigi mayoritas merupakan karyawan swasta, Mayoritas berusia 36-39 tahun, tingkat pendidikannya sarjana (S1), menikah dengan jumlah anak rata-rata 1-2 orang, merupakan wisatawan berulang (repeater), memiliki pengeluaran per bulan antara 2,1 juta rupiah – 3 juta rupiah, berkunjung bersama keluarga, lama tinggal di Lombok Barat sekitar 2-5 hari, dan mayoritas wisatawan berasal dari luar pulau. Sedangkan karakteristik demografis wisatawan yang berkunjung ke Pantai Senggigi berdasarkan indikator venturesomeness merupakan wisatawan yang near allocentric yang artinya lebih menyukai atraksi yang bersifat adventure dan alami. Berdasarkan VALS, wisatawan yang berkunjung ke Senggigi dibagi menjadi tiga segmen. Kata Kunci: segmentasi wisatawan, sosiodemografis, psikografis, Pantai Senggigi, Lombok Barat 1 Mahasiswa Magister Arsitektur dan Perencanaan Pariwisata, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 2 Dosen Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Pariwisata, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 3 Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
  • 2. ii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………….. i HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………………… ii INTISARI ……………………………………………………………………………... iii DAFTAR ISI …………………………………………………………………………. iv BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………. 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………………………… 3 BAB III METODELOGI PENELITIAN …………………………………………….. 7 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN …………………………………………. 8 BAB V KESIMPULAN ………………………………………………………………. 12 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………… 14
  • 3. iii
  • 4. 1 I PENDAHULUAN Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah salah satu provinsi Indonesia yang memiliki potensi wisata yang patut untuk dikembangkan, arus kunjungan wisatawan ke daerah ini selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Salah satu Kabupaten yang memiliki potensi wisata yang cukup terkenal adalah kabupaten Lombok Barat, dimana kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten di Provinsi NTB yang memiliki beberapa kawasan wisata yang cukup terkenal yaitu: destinasi wisata pantai seperti Pantai Senggigi, Pantai Sire, Objek wisata Tiga Gili (Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan); destinasi wisata peninggalan sejarah seperti : Taman Narmada, Lingsar dan Batu Bolong; destinasi wisata alam seperti : Sesaot, Danau Segara Anak, air terjun Sindang Gile dan lainnya. Salah satu destinasi wisata yang ada di Kabupaten Lombok Barat adalah kawasan Pantai Senggigi, yang berlokasi Kecamatan Gunung Sari, Desa Senggigi, Kab. Lombok Barat - NTB. Kawasan Pantai Senggigi mampu mengundang animo wisatawan lokal maupun mancanegara karena keindahan alamnya, sebagai gambarannya banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Lombok barat, maka tabel di bawah akan memberikan informasi: Tabel.1.1. Pertumbuhan Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Kabupaten Lombok Barat Tahun 2001-2010 No Tahun Pertumbuhan Wisatawan Nusantara Mancanegara Jumlah 1. 2001 54.540 40.098 94.638 2. 2002 104.898 51.606 156.504 3. 2003 72.593 73.410 146.006 4. 2004 96.107 104.133 200.240 5. 2005 88.199 134.531 222.730 6. 2006 87.819 131.461 229.280 7. 2007 122.260 131.352 253.612 8. 2008 229.114 315.387 544.501 9. 2009 232.120 387.250 619.370 10. 2010 240.120 435.130 675.250 Sumber : Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan LOBAR Namun meskipun kunjungan wisatawan di Pantai Senggigi selalu mengalamai kenaikan yang cukup signifikan, tetapi apabila dibandingkan maka wisatawan mancanegara jauh lebih banyak yang mengunjungi Pantai Senggigi dibandingkan wisatawan nusantara. Hal ini berarti bahwa produk wisata di Pantai Senggigi
  • 5. 2 masih belum optimal. Salah satu cara perbaikan pada destinasi wisata adalah dengan memperhatikan keinginan dari para wisatawan. Perhatian-perhatian tersebut dapat dijadikan sebagai panduan untuk membuat segmentasi pasar pada masing-masing destinasi wisata yang ada di Kabupaten Lombok Barat termasuk di Kawasan Pantai Senggigi. Mendasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka segmentasi pasar untuk peningkatkan destinasi wisata perlu dilakukan. Perlunya dilakukan segmentasi pasar terutama di Kawasan Pantai Senggigi ini karena belum optimalnya destinasi wisata Pantai Senggigi sehingga belum mampu memberikan kontribusi pada pemasukan daerah serta peningkatan kesejahteraan penduduk sekitar. Setelah dilakukan pengembangan destinasi wisata Kawasan Pantai Senggigi berdasarkan segmentasi pasar tersebut, maka diharapkan minat berkunjung baik wisatawan domistik maupun wisatawan manca negara semakin tinggi
  • 6. 3 II TINJAUAN PUSTAKA Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok- kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Atau segmentasi pasar bisa diartikan segmentasi pasar adalah proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisia perbedaan antara pembeli di pasar. 1. Segmentasi sosiodemografis Segmentasi demografis membagi pasar menjadi berkelompok-kelompok berdasarkan umur, jenis kelamin, siklus hidup, pendapatan, pekerjaan, tingkat pendidikan, agama, dan kelompok etnis. Dasar pengelompokkan pasar yang paling populer dan yang paling mudahdiukur. Alasan pokoknya adalah bahwa kebutuhan dan selera konsumen sangat dipengaruhi oleh karakteristik demografisnya. Sebagai contoh, kebutuhan dan selera konsumen akan berubah seiring dengan pertambahan usia dan perubahan siklus hidup. Kebutuhan dan seseorang saat anak-anak, remaja dan dewasa akan banyak mengalami perubahan demikian juga sebelum dan setelah menikah, mempunyai anak balita atau setelah anak mandiri. Dalam segementasi pasar, karakteristik demografis hampir selalu menyertai dasar segmentasi lainnya. Walaupun dasar-dasar segementasiyang muktahir bermunculan, termasuk psikografis, karakteristik demografis masih dianggap menjadi dasar pengelompokkan yang sangat berarti dan terpasang dengan kuat (embedded) dalam semua riset pemasaran (Plogg, 2002). Dalam penelitian ini, walaupun karakteristik psikografis dianggap mempunyai “daya penjelas” yang kuat terhadap profil wisatawan domestik, karekateristik demografis akan mendapatkan porsi perhatian yang sama besarnya. Karakteristik demografi yang diteliti akan meliputi pekerjaan, usia, pendidikan, status perkawinan, daur hidup, dan jumlah pengeluaran untuk belanja sehari-hari. 2. Segmentasi psikografis Penelitian ini akan menghasilkan kelompok-kelompok atau segmen-segmen wisatawan berdasarkan karakteristik psikografis. Masing-masing kelompok diyakini akan mempunyai “gaya, cara, dan selera” yang berbeda. Karakteristik
  • 7. 4 psikografis bisa dianggap sebagai gaya hidup dan nilai yang dianut oleh seseorang, dan akan menentukan preferensi dan cara menikmati suatu produk atau jasa. Dalam studi perilaku konsumen, psikografi lazim digunakan sebagai dasar segmentasi (Solomon, 1994). Sebuah riset psikografis akan mengelompokkan konsumen berdasarkan kombinasi-kombinasi dari tiga variabel, yaitu aktivitas, ketertarikan pada berbagai hal, dan pendapat tentang berbagai masalah. Berdasarkan data dari sampel yang diteliti, konsumen kemudian dimasukkan dalam kelompok-kelompok, di mana anggota-anggota masing kelompok mempunyai kemiripan dalam hal karakteristik psikologis, preferensi terhadap berbagai aktivitas, sikap terhadap suatu produk dan pola penggunaan produk tersebut. Strategi pemasaran kemudian bisa dirancang untuk memaksimalkan pelayanan pada satu (biasanya pengguna produk dengan frekuensi tertinggi) kelompok konsumen tertentu.  Konsep venturesomeness Beberapa model telah dikembangkan untuk menggolong-golongkan wisatawan berdasarkan tipe psikografis mereka. Salah satu model yang paling terkenal adalah model Plogg (Plogg, 2002; McIntosh et.al., 2004) yang mengkasifikasikan masyarakat Amerika Serikat sepanjang skala psikografis, yang merenstang dari titik ekstrem psychocentrics ke titik ekstrem lainnya yaitu allocentrics. Pada dasarnya, orang yang psychocentric adalah orang yang berpusat pada diri sendiri, mencari keamanan, dan hanya peduli pada masalah-masalah yang berkenaan dengan dirinya dan lingkungan sekitar yang didefinisikan secara sempit. Orang seperti ini cenderung menjadi orang yang tertutup dan tidak suka berpergian. Sebaliknya, allocentric adalah orang yang berwawasan luas dan tertarik dengan berbagai macam pokok persolaan. Orang tipe ini adalah pribadi terbuka dan suka berpergian ke tempat-tempat yang eksotis dan belum pernah dikunjungi. Karakteristik psychocentrics – allocentrics yang menentukan venturesomeness (kecenderungan/frekuensi untuk berpergian) ini juga menentukkan pengambilan keputusan wisata dalam banyak hal. Termasuk didalamnya adalah pemilihan daerah tujuan wisata dan objek-
  • 8. 5 objek wisata yang dikunjungi, aktivitas yang dilakukan selama berwisata, dan pola interaksi dengan masyarakat di tujuan wisata tersebut. Penelitian Basala dan Klenosky (2001) dan Pizam et al. (2004) juga menghasilkan kesimpulan yang serupa bahwa tipe kepribadian (personality) seseorang akan mempengaruhi perilaku dalam berwisata. Ada perbedaan yang signifikan antara individu yang mempunyai kecenderungan sebagai pencari sensasi (sensation-seeker) dan bersedia menanggung resiko (risk-taker) dibanding yang kurang mencari sensasi dan bersedia menanggung risiko (risk-taker) dibanding yang kurang mencari sensasi dan kurang berani mengambil risiko, dalam hal pemilihan tujuan wisata (yang belum pernah dikunjungi versus yang sudah dikenal dengan baik) dan aktivitas wisata. Gaya dan selera kelompok yang psychocentrics maupun sensation- seeking dan risk-taking ini bisa memberikan jawaban yang menyakinkan untuk pertayaan mengapa orang tidak mengunjungi kembali tujuan wisata yang pernah dikunjungi, walupun dia merasa senang dan puas dengan tempat tersebut, dan mengapa pilihan tujuan wisata tidak selalu berkolerasi dengan kelengkapan infrastruktur di suatu tujuan wisata itu (Plogg, dalam Dewi, 2005). Segmen wisatawan ini cenderung suka memilih objek wisata yang belum pernah dikunjungi, yang alami, dan suka berbaur dengan masyarakat sekitar. Fasilitas tambahan yang nyaman mungkin malah mengurangi daya tarik suatu objek wisata. Reruntuhan candi akan lebih menarik dan eksotis dibanding candi utuh hasil rekonstruksi, dan penginapan yang juga merupakan rumah penduduk akan dinilai lebih dari hotel berfasilitas lengkap. Segmen-segmen psikografis yang akan dihasilkan oleh penelitian ini didasarkan pada dua kriteria. Kriteria yang pertama yaitu skor venturesomeness dari masing-masing wisatawan dan motivasi dan motivasi kunjungan wisata dan preferensi aktivitas (dan tempat kunjungan wisata) sewaktu berwisata. Sebagai contoh, jika wisatawan memilih untuk mempelajari budaya setempat atau menyaksikan pertujunjukkan kesenian maka secara psikografi akan digolongkan menjadi “penikmat kebudayaan”. Tingkat venturesomness seseorang mempunyai hubungan
  • 9. 6 dengan preferensi atau motivasi kunjungan (Dewi, 2005). Perbedaan skor venturesomeness akan terlihat dalam perbedaan karakteristik preferensi aktivitas (atau motivasi kunjungan). Pengelompokkan wisatawan secara psikografis biasanya dilakukan bersamaan dengan pengelompokkan secara demografis. Beberapa penelitian menemukan adanya korelasi yang cukup signifikan antara kedua faktor tersebut, walaupun terkadang kesamaan latar belakang demografis tidak harus mengindikasikan gaya dan selera berwisata yang sama. Chandler dan Costello (dalam Dewi, 2005) mengembangkan profil psikografis dan demografis pengunjung objek-objek budaya (heritage tourism) dan menarik kesimpulan bahwa pengunjung pada semua objek- objek tersebut mempunyai karakteristik demografis dan gaya hidup dan pilihan tingkat aktivitas yang sangat homogen. Akan tetapi, Plogg (dalam Dewi, 2005) menegaskan bahwa individu-individu dengan tingkat penghasilan yang sama (yang secara demogris digolongkan menjadi satu kelompok demografis) sangatlah mungkin memilih tujuan dan aktivitas wisata yang berbeda. Orang-orang yang psychocentric, walaupun dengan tingkat penghasilan yang berbeda, akan cenderung mempunyai gaya dan selera berwisata yang sama.
  • 10. 7 III METODE PENELITIAN Wilayah Amatan Wilayah administratif yang diteliti adalah objek wisata Pantai Senggigi di Kabupaten Lombok Barat-NTB serta objek yang diteliti adalah wisatawan yang mengunjungi Obyek Wisata Pantai Senggigi di Kabupaten Lombok Barat-NTB Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua jenis data yakni data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode kuesioner, wawancara dan observasi langsung. Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari instansi terkait misalnya dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat-NTB. Data sekunder digunakan sebagai pendukung informasi terutama mengenai segmentasi pasar yang telah dilakukan oleh pihak yang berkepentingan. Metode Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah sebuah teknik pengambilan sampel dengan ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Wisatawan nusantara yang berusia minimal 17 tahun. 2. Wisatawan nusantara yang sudah pernah berkunjung ke Pantai Senggigi minimal sebanyak 2 kali. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yakni sebanyak 100 responden. Variabel Penelitian Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu sosiodemografis dan psikografis. Dari masing-masing variabel tersebut, diturunkan indikator-indikator yang nantinya dikembangkan menjadi butir-butir pertanyaan dalam kuesioner. Metode Analisis Penelitian Analisis data dalam hal penelitian ini adalah menggunakan Analisis Deskriptif Kuantitatif. Penggunaan Analisis Deskriptif Kuantitatif bertujuan mengkaji keterkaitan segmentasi pasar pada pengembangan destinasi pariwisata pantai senggigi di Lombok Barat-NTB, serta merumuskan guide lines terhadap peningkatan kunjungan para wisatawan di Lombok Barat. Alat analisis yang akan digunakan
  • 11. 8 dalam penelitian ini adalah metode statistik deskriptif frekuensi dan crosstabs (tabel silang). IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN a. Karakter Sosiodemografis Wisatawan Berdasarkan kesepuluh indikator yang telah dipaparkan diatas, maka karakteristik wisatawan yang datang ke Lombok Barat berdasarkan sosiodemografis adalah sebagai berikut:  Mayoritas merupakan karyawan swasta  Mayoritas berusia 30-39 tahun  Tingkat pendidikannya sarjana (S1)  Menikah, dengan jumlah anak rata-rata 1-2 orang  Merupakan wisatawan berulang (repeater)  Memiliki pengeluaran per bulan antara 2,1 juta rupiah – 3 juta rupiah  Berkunjung bersama keluarga  Lama tinggal di Lombok Barat sekitar 2-5 hari  Menggunakan pesawat sebagai moda transportasi dari tempat asal menuju Lombok Barat, sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas wisatawan bukan penduduk Lombok dan berasal dari luar pulau. b. Karakter Psikografis Wisatawan Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Senggigi cenderung wisatawan yang mempunyai karakteristik near allocentric. Sehingga dapat dikatakan bahwa wisatawan yang datang ke Senggigi cenderung lebih menyukai sesuatu yang baru baik dari segi daerah tujuan wisata di kawasan tersebut, aktivitasnya, dan terutama menyenangi interaksi dengan masyarakat di tujuan wisata tersebut. Metode VALS dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui bagaimana preferensi wisatawan pada terhadap aktivitas yang akan mereka lakukan selama berkunjung ke Lombok Barat. Pertama-tama, peneliti melihat bagaimana penlilaian wisatawan terhadap tempat-tempat wisata di Lombok Barat yang dikunjungi oleh wisatawan. Dari penilaian ini peneliti dapat mengetahui destinasi wisata mana yang
  • 12. 9 paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, sehingga peneliti dapat melihat gambaran secara cepat preferensi aktivitas apa yang disukai/dipilih oleh wisatawan. Berdasarkan hasil analisis maka didapatkan tiga segmen seperti yang tertera pada tabel di bawah ini. Tabel. 5.2. Segemen Psikografis Wisatawan Lombok Barat SEGMEN PSIKOGRAFIS ITEM PERTANYAAN SEGMEN 1  Menambah ilmu pengetahuan  Menikmati pemandangan alam  Mencicipi kuliner tradisional  Menghilangkan kejenuhan  Menikmati suasana yang berbeda dari aktivitas rutin SEGMEN 2  Mempelajari budaya suku Sasak  Menonton event budaya atau kesenian yang sedang berlangsung/menonton pertunjukkan kesenian  Mengunjungi event/acara yang diselenggaraan oleh klub/organsisai  Beraktivitas dengan warga pedesaan suku Sasak Sade SEGMEN 3  Mengunjungi konveni/konferensi yang sedang berlangsung  Surfing, snorkeling, sky boat  Berpetualang  Berbelanja souvenir  Bisnis cinderamata Sumber: Analisis (2013) c. Hubungan Faktor Demografis dan Perilaku Berwisata berdasarkan Venturesomeness Socio – Demografis Psikografis Mayoritas merupakan karyawan swasta Near Allocentric Mayoritas berusia 30-39 tahun Near Allocentric Tingkat pendidikannya sarjana (S1) Near Allocentric Menikah, dengan jumlah anak rata-rata 1-2 orang Near Allocentric Wisatawan yang baru datang pertama kali dan wisatawan berulang 2-3 kali Near Allocentric Memiliki pengeluaran per bulan antara 2,1 juta rupiah – 3 juta rupiah Near Allocentric Berkunjung bersama keluarga Near Allocentric
  • 13. 10 Lama tinggal di Lombok Barat sekitar 2-5 hari Near Allocentric Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa karakter psikografis wisatawan yang datang di Senggigi adalah near allocentric, yang berarti wisatawan tersebut menyukai hal-hal yang alami, explorer, dan cenderung menyukai kegiatan yang penuh tantangan.Apabila dilihat dari segmen pasar berdasarkan aktivitasnya maka dari ketiga segmen kegiatan yang ada, dipilih kegiatan yang sesuai untuk karakter tersebut. Sehingga, secara konseptual segmen kegiatan yang akan dikembangkan adalah sebagai berikut: Segmen Jenis Aktivitas SEGMEN 1  Menambah ilmu pengetahuan  Mencicipi kuliner tradisional  Menikmati suasana yang berbeda dari aktivitas rutin SEGMEN 2  Mempelajari budaya suku Sasak  Menonton event budaya atau kesenian yang sedang berlangsung/menonton pertunjukkan kesenian  Beraktivitas dengan warga pedesaan suku Sasak Sade SEGMEN 3  Surfing, snorkeling, sky boat  Berpetualang d. Rencana Konseptual Pengembangan Produk Wisata Pengembangan Produk Wisata di Senggigi meliputi tiga hal, yaitu: atraksi, akomodasi (penginapan), dan transportasi. Hal ini dilakukan karena menurut Middleton (2001), tiga komponen utama dari produk wisata adalah atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Dalam penyusunan konsep, maka selain memperhatikan karakter psikografis wisatawan, karakter demografis wisatawan harus dijadikan sebagai pertimbangan utama dalam pengembangan wisata Pantai Senggigi. Konsep pengembangan produk wisata di Senggigi adalah sebagai berikut: 1. Atraksi
  • 14. 11 Pengembangan atraksi dilakukan dengan mengembangkan atraksi- atraksi yang sifatnya menonjolkan sisi petualangannya. Pengembangan- pengembangan itu antara lain pengembangan Watersport (surfing, snorkeling, sky boat), pengembangan desa wisata di suku Sasak Sade, pengembangan festival/event dan pertunjukan kebudayaan (tari, legenda), pengembangan atraksi untuk keluarga, dan pengembangan kuliner tradisional 2. Amenitas Pengembangan amenitas hendaknya juga memperhatikan karakter wisatawan. Sesuai dengan hasil analisis maka pengembangan akomodasi/penginapan yang sesuai adalah penginapan homestay di rumah penduduk atau hotel dengan arsitektur dan suasana khas. Lombok Barat. Untuk fasilitas pendukung wisata lainnya seperti restoran/tempat makan hendaknya menyajikan kuliner khas Lombok Barat dan arsitektur restoran/tempat makan yang khas. 3. Transportasi Untuk menjelajah area Lombok Barat, dapat disediakan transportasi tradisional seperti cidomo (dokar/andong) atau transportasi khusus wisata yang menghubungkan antar destinasi di Lombok Barat
  • 15. 12 V KESIMPULAN Karakteristik wisatawan yang datang ke Lombok Barat berdasarkan sosiodemografis adalah sebagai berikut:  Mayoritas merupakan karyawan swasta  Mayoritas berusia 30-39 tahun  Tingkat pendidikannya sarjana (S1)  Menikah, dengan jumlah anak rata-rata 1-2 orang  Merupakan wisatawan berulang (repeater)  Memiliki pengeluaran per bulan antara 2,1 juta rupiah – 3 juta rupiah  Berkunjung bersama keluarga  Lama tinggal di Lombok Barat sekitar 2-5 hari  Menggunakan pesawat sebagai moda transportasi dari tempat asal menuju Lombok Barat, sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas wisatawan bukan penduduk Lombok dan berasal dari luar pulau. Wisatawan yang berkunjung ke Senggigi cenderung wisatawan yang mempunyai karakteristik near allocentric. Sehingga dapat dikatakan bahwa wisatawan yang datang ke Senggigi cenderung lebih menyukai sesuatu yang baru baik dari segi daerah tujuan wisata di kawasan tersebut, aktivitasnya, dan terutama menyenangi interaksi dengan masyarakat di tujuan wisata tersebut. Bila dilihat hubungan antara karakter psikografis dan sosiodemografisnya seluruh karakter wisatawan berdasarkan sosiodemografisnya bersifat near
  • 16. 13 allocentric. Sehingga, secara konseptual segmen kegiatan yang akan dikembangkan adalah sebagai berikut: 1. Atraksi Pengembangan atraksi dilakukan dengan mengembangkan atraksi-atraksi yang sifatnya menonjolkan sisi petualangannya. Pengembangan- pengembangan itu antara lain pengembangan Watersport (surfing, snorkeling, sky boat), pengembangan desa wisata di suku Sasak Sade, pengembangan festival/event dan pertunjukan kebudayaan (tari, legenda), pengembangan atraksi untuk keluarga, dan pengembangan kuliner tradisional 2. Amenitas Pengembangan amenitas hendaknya juga memperhatikan karakter wisatawan. Sesuai dengan hasil analisis maka pengembangan akomodasi/penginapan yang sesuai adalah penginapan homestay di rumah penduduk atau hotel dengan arsitektur dan suasana khas. Lombok Barat. Untuk fasilitas pendukung wisata lainnya seperti restoran/tempat makan hendaknya menyajikan kuliner khas Lombok Barat dan arsitektur restoran/tempat makan yang khas. 3. Transportasi Untuk menjelajah area Lombok Barat, dapat disediakan transportasi tradisional seperti cidomo (dokar/andong) atau transportasi khusus wisata yang menghubungkan antar destinasi di Lombok Barat
  • 17. 14 DAFTAR PUSTAKA Basala, Sandra L. and David B. Klenosky (2001). “Travel-Style Preferences for Visiting a Novel Destination : A Conjoint Investigation across the Novelty- Familiarity Continuum”, Journal of Travel Research, Vol. 40 (November), pp.172-182. Dewi, Ike Janita & Luciana Kurniawati. (2005). Strategi Segmentasi dalam Turisme Profil Psikologis dan Demografis Wisatawan Domestik di DIY. Penelitian tidak diterbitkan. Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma. McIntosh, (1986). Tourism Principles, Practice, Philosophies, Canada: John Willey and Son. Inc. Plogg, S. (2002). “The Power of Psychographics and The Concept of Venturesomeness”. Journal of Travel Research, 40, 244-251. Solomon, Michael R. (1994), Consumer Behavior: Buying , Having, and Being, 2nd Edition, Massachusetts: Allyn and Bacon.