POPULASI DAN INSTRUMEN UNTUK
METODE KUANTITATIF
M A K A L A H
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
" Metodologi Penel...
ii
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, seh...
iii
DAFTAR ISI
Halaman Judul ……………………………………………….…..…..... i
Kata Pengantar …………………………………………………..…...... ii
Daftar Isi …………...
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian dapat diartikan sebagai suatu proses penyelidikan secara
sistemat...
2
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penjelasan mengenai populasi dan sampel?
2. Apa saja macam-macam sampel?
3. Bagaimana pe...
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subye...
4
B. Macam-Macam Sampel dan Besarnya Sampel
Sampel terbagi menjadi dua yaitu probability sampling dan non probability
samp...
5
kota Banyuwangi terdapat 30 SMP sebagai populasi. Karena itu
pengambilan sampelnya ditentukan sebesar 15 SMP saja dengan...
6
digunakan untuk penelitian dengan jumlah sampel dibawah 30 orang,
atau untuk penelitian yang ingin membuat generalisasi ...
7
Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen
penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh ...
8
3) Instrument untuk mengukur produktivitas kerja pegawai.5
2. Kegunaan Instrumen Penelitian
Suatu alat ukur atau instrum...
9
operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari
indikator ini kemudian dijabarkan menjadi bu...
10
data yang terkumpul memberikan data berwarna putih maka hasil penelitian tidak
valid. Selanjutnya hasil penelitian yang...
11
mengukur sikap. Instrumen yang berupa test jawabannya adalah “salah atau
benar”, sedangkan instrumen sikap jawabannya t...
12
bahwa “bila bangunan teorinya sudah benar, maka hasil pengukuran dengan alat
ukur (instrumen) yang berbasis pada teori ...
13
Adapun ciri-ciri dari skala ordinal antara lain : kategori data saling
memisah, kategori data memiliki aturan yang logi...
14
dalam kasus yang kedua, walaupun rasio antara dua perangkat skor sama (120:100
= 144:120 = 6:5). Hasil ini terjadi kare...
15
e) Sangat tidak setuju.
Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor,
sebagai berikut:
Jawa...
16
2. Pernahkah atasan anda telat masuk kantor..??
a. Tidak Penah
b. Pernah
3. Semantic Defentrial.
Skala differensial dig...
17
Contoh: Mohon diberi nilai gaya kepemimpinan atasan anda
Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak Bersahabat
Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lu...
18
Berilah jawaban dengan angka:
4 bila tata ruang sangat baik
3 bila tata ruang cukup baik
2 bila tata ruang kurang baik
...
19
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang
mempunyai kuali...
20
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsmi. 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Hadjar, Ibnu. 1996. Dasar-dasar M...
of 23

Populasi dan Instrumen untuk Metode (Penelitian) Kuantitatif

membahas dan menjelaskan mengenai "POPULASI, SAMPEL, INSTRUMEN dan SKALA PENGUKURAN (untuk Metode Penelitian Kuantitatif), guna memenuhi tugas kuliah "Metodologi Penelitian". silahkan kunjungi http://khusnulsawo.blogspot.com/ saya tunggu salam dari anda semuaa.. \(^o^)/
Published on: Mar 4, 2016
Published in: Education      
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Populasi dan Instrumen untuk Metode (Penelitian) Kuantitatif

  • 1. POPULASI DAN INSTRUMEN UNTUK METODE KUANTITATIF M A K A L A H Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah " Metodologi Penelitian " Dosen Pengampu : Muhammad Abdillah Subhin, M.Pd.I Oleh : IFA DEWI MASYTA (2013471925) KHUSNUL KOTIMAH (2013471928) PAI – SMT 4/Sawo Unit Campurdarat PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH (STAIM) TULUNGAGUNG April 2015
  • 2. ii KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya yang telah memperjuangkan Agama Islam. Kemudian dari pada itu, saya sadar bahwa dalam menyusun makalah ini banyak yang membantu terhadap usaha saya, mengingat hal itu dengan segala hormat saya sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung Bapak Nurul Amin M.Ag. 2. Dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini Bapak Muhammad Abdillah Subhin, M.Pd.I. 3. Teman – teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah. Atas bimbingan, petunjuk dan dorongan tersebut saya hanya dapat berdo' a dan memohon kepada Allah SWT semoga amal dan jerih payah mereka menjadi amal soleh di mata Allah SWT. Amin. Dan dalam penyusunan makalah ini saya sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu saya mengharapkan keritikan positif, sehingga bisa diperbaiki seperlunya. Akhirnya saya tetap berharap semoga makalah ini menjadi butir-butir amalan saya dan bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi seluruh pembaca. Amin Yaa Robbal 'Alamin. (PENYUSUN)
  • 3. iii DAFTAR ISI Halaman Judul ……………………………………………….…..…..... i Kata Pengantar …………………………………………………..…...... ii Daftar Isi …………………………………………………..…..... iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .……………………………........ 1 B. Rumusan Masalah ..……………………………....…....... 2 C. Tujuan Masalah ……………………………………......... 2 BAB II PEMBAHASAN POPULASI DAN INSTRUMEN UNTUK METODE KUANTITATIF A. Populasi dan Sampel ............................................................. 3 B. Macam-macam Sampel dan Besarnya Sampel ..................... 4 C. Instrumen Penelitian .............................................................. 6 D. Macam-macam Skala Pengukuran ........................................ 12 BAB III PENUTUP Kesimpulan .....…………………………………………......... 19 DAFTAR PUSTAKA ....…………………………………………………..... 20
  • 4. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian dapat diartikan sebagai suatu proses penyelidikan secara sistematis yang ditujukan pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan masalah. Sebagai suatu kegiatan sistematis penelitian harus dilakukan dengan metode tertentu yang dikenal dengan istilah metode penelitinya, yakni suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah ini harus didasari ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Dalam melaksanakan kegiatan penelitian, keberadaan instrumen penelitian merupakan bagian yang sangat integral dan termasuk dalam komponen metodelogi penelitian karena instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah yang sedang diteliti. Suatu intrumen yang baik tentu harus memiliki validitas dan realibitas yang baik. Untuk memperoleh instrument yang baik tentu selain harus diujicobakan, dihitung validitas dan realibiltasnya juga harus dibuat sesuai kaidah- kaidah penyusunan instrument. Berkaitan dengan hal tersebut, pada pembahasan ini akan diuraikan berbagai hal terkait dengan populasi dan instrument penelitian yang pembahasannya diawali dengan pengertian populasi, sampel, instrumen dan skala pengukuran untuk metode kuantitatif.
  • 5. 2 B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana penjelasan mengenai populasi dan sampel? 2. Apa saja macam-macam sampel? 3. Bagaimana penjelasan mengenai instrumen penelitian? 4. Apa saja macam-macam skala pengukuran? C. Tujuan Masalah 1. Untuk mengetahui populasi dan sampel 2. Untuk mengetahui macam-macam sampel 3. Untuk mengetahui instrumen penelitian 4. Untuk mengetahui macam-macam skala pengukuran
  • 6. 3 BAB II PEMBAHASAN A. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi, populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, Tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu. 2. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya krena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapt diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili). 3. Prinsip Populasi Dan Sampel Tujuan utama dalam sebuah penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik suatu objek yang kita teliti. Misalnya kita ingin mengetahui bagaimana sikap masyarakat terhadap lingkungan. Untuk mengetahuinya kita dapat melakukan sebuah penelitian ada dua cara yang dapat dilakukan. Cara pertama adalah mewawancarai dan mengamati seluruh perilaku masyarakat kota tersebut terhadap lingkungan. Cara kedua, kita melakukan wawancara dan observasi hanya pada sebagian warga kota. Jika kita mengambil cara yang pertama, maka berarti kita menggunakan data populasi untuk menarik kesimpulan, sedangkan jika menggunakan cara yang kedua, berarti kita menggunakan data sempel. Dengan kata lain sampel merupakan bagian dari sebuah populasi.
  • 7. 4 B. Macam-Macam Sampel dan Besarnya Sampel Sampel terbagi menjadi dua yaitu probability sampling dan non probability sampling.  Probability Sampling terdiri dari 4 (empat) macam yang akan dijelaskan sebagai berikut: a) Simple Random Sampling. Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. b) Proportionate Stratified Random Sampling. Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Contoh: Suatu perusahaan memiliki pegawai dengan pendidikan berstrata lulus (S1 = 50 orang; S2 = 30 orang; SMK = 800 orang; SMA = 400 orang; dan SD = 300 orang). Maka contoh pengambilan sampel dengan teknik ini adalah dengan asumsi 10% dari populasi masing-masing strata yang diambil. Jadi dari S1 diambil 5 orang (acak), S2 diambil 3 orang (acak), SMK diambil 80 orang (acak), SMA diambil 40 orang (acak), dan SD diambil 30 orang (acak). Maka total sampel yang diambil adalah 5+3+80+40+30 = 158 orang. c) Disproportionate Stratified Random Sampling. Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Contoh: Suatu perusahaan memiliki pegawai dengan pendidikan berstrata lulus (S1 = 50 orang; S2 = 30 orang; SMK = 800 orang; SMA = 400 orang; dan SD = 300 orang). Maka pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan secara bebas (seenaknya) yaitu S1 diambil 50 orang atau semua populasi S1 dan S2 diambil 30 orang atau semua populasi S2. Sementara kelompok strata yang lain diabaikan karena jumlah populasinya terlalu besar. Sehingga total sampel yang digunakan adalah 50 + 30 = 80 orang. d) Cluster Sampling (Area Sampling). Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan sangat luas. Contoh: Di
  • 8. 5 kota Banyuwangi terdapat 30 SMP sebagai populasi. Karena itu pengambilan sampelnya ditentukan sebesar 15 SMP saja dengan pemilihan secara random (acak). Teknik sampel ini terdiri dari 2 tahap, yaitu (1) tahap penentuan sampel daerah, dan (2) tahap penentuan orang- orang yang ada di daerah itu.  Nonprobability Sampling terdiri dari 6 (enam) macam yang akan dijabarkan sebagai berikut ini: a) Sampling Sistematis. Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya jumlah populasi 100 orang dan masing-masing diberi nomor urut 1 s/d 100. Sampelnya dapat ditentukan dengan cara memilih orang dengan nomor urut ganjil (1,3,5,7,9,…, dst) atau memilih orang dengan nomor urut genap (2,4,6,8,…,dst). b) Sampling Kuota. Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan. Misalnya ingin melakukan penelitian tentang pendapat mahasiswa terhadap layanan kampus. Jumlah sampel yang ditentukan adalah 500 mahasiswa. Kalau pengumpulan data belum mencapai kuota 500 mahasiswa, maka penelitian dipandang belum selesai. c) Sampling Insidental. Sampling Insidental adalah tekik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. d) Sampling Purposive. Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Teknik ini paling cocok digunakan untuk penelitian kualitatif yang tidak melakukan generalisasi. Misalnya penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan atau ahli gizi. e) Sampling Jenuh. Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering
  • 9. 6 digunakan untuk penelitian dengan jumlah sampel dibawah 30 orang, atau untuk penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan tingkat kesalahan yang sedikit atau kecil.Misalnya jika jumlah populasi 20 orang, maka 20 orang tersebutlah yang dijadikan sampel. f) Snowball Sampling. Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Misalnya suatu penelitian menggunakan sampel sebanyak 10 orang, tetapi karena peneliti merasa dengan 10 orang sampel ini datanya masih kurang lengkap, maka peneliti mencari orang lain yang dirasa layak dan lebih tahu tentang penelitiannya dan mampu melengkapi datanya.1 C. Instrumen Penelitian 1. Pengertian Instrumen Penelitian Menurut Suharsimi Arikunto, instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.2 Ibnu Hadjar berpendapat bahwa instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara objektif.3 Instrumen pengumpul data menurut Sumadi Suryabrata adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Atibut-atribut psikol ogis itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif . Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif , perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya adalah pernyataan.4 1 Luki Erlistina, Penelitian KuantitatifDan Kualitatif, Dalam https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/penelitian-kuantitatif-dan-kualitatif/. Di akses pada minggu 22 maret 2015 2 Suharsmi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 134 3 Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 160 4 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), hal. 52
  • 10. 7 Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variable yang sedang diteliti. Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena social maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985) Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrument penelitian. Jadi instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun social yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variable penelitian. Instrumen-instrumen dalam penelitian pendidikan memang ada yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, seperti instrument untuk mengukur motif, untuk mengukur sikap, mengukur IQ, mengukur bakat dan lain- lain. Walaupun instrumen-instrumen tersebut sudah ada tetapi sulit untuk dicari, dimana harus dicari dan apakah bisa dibeli atau tidak. Selain itu instrument- instrumen dalam bidang sosial walaupun telah teruji validitas analisis reliabilitasnya, tetapi bila digunakan untuk tempat tertentu belum tentu tepat dan mungkin tidak valid dan reliable lagi. Hal ini perlu dimklumi karena gejala social itu cepat berubah dan sulit dicari kesamaannya. Untuk itu maka peneliti-peneliti dalam bidang pendidikan instrument yang digunakan sering disusun sendiri termasuk menguji validitas dan reliabilitasnya. Jumlah instrument penelitian tergantung pada jumlah variable penelitian yang telah ditetapkan untuk diteliti. Misalnya akan meneliti tentang“pengaruh kepemimpinan dan iklim kerja lembaga terhadap produktivitas kerja pegawai”. Dalam hal ini ada tiga instrument yang perlu dibuat yaitu: 1) Instrument untuk mengukur kepemimpinan. 2) Instrument untuk mengukur iklim kerja.
  • 11. 8 3) Instrument untuk mengukur produktivitas kerja pegawai.5 2. Kegunaan Instrumen Penelitian Suatu alat ukur atau instrumen dikembangkan untuk menterjemahkan variabel (peubah), konsep dan indikator yang dipergunakan dalam mengungkap data dalam suatu penelitian.Semakin suatu peubah, konsep, dan indikator penelitian diukur dengan baik, maka akansemakin baik pula instrumen penelitian tersebut dikembangkan.. Secara sederhana fungsi dari instrumen penelitian: a) Sebagai alat pencatat informasi yang disampaikan oleh responden b) Sebagai alat untuk mengorganisasi proses wawancara dan c) Sebagai alat evaluasi terhadap hasil penelitian dari staff peneliti. 6 3. Langkah-Langkah Menyusun Instrumen Iskandar mengemukakan enam langkah dalam penyusunan instrumen penelitian,7 yaitu : a) Mengidentifikasikan variabel-variabel yang diteliti. b) Menjabarkan variabel menjadi dimensi-dimensi c) Mencari indikator dari setiap dimensi. d) Mendeskripsikan kisi-kisi instrumen e) Merumuskan item-item pertanyaan atau pernyataan instrumen f) Petunjuk pengisian instrumen.8 Instrumen-instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya bidang administrasi yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat instrumen yang akan digunakan untuk penelitian. Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi 5 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, Cet. 20, 2014), hal. 102-103 6 Ristinikov, Instrumen Penelitian,dalam http://www.scribd.com/doc/37395754/INSTRUMEN-PENELITIAN#scribd, diakses pada Senin, 30 Maret 2015 pukul 11.35 7 Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif) (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), hal. 79 8 Hartanto, Instrumen Penelitian,dalam https://hartanto104.files.wordpress.com/2013/11/instrumen-penelitian.pdf, diakses pada Sabtu, 28 Maret 2015 pukul 10.02
  • 12. 9 operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrumen, maka perlu digunakan ”matrik pengembangan instrumen” atau “kisi-kisi instrumen”. Sebagai contoh misalnya variabel penelitiannya “tingkat kekayaan”. Indikator kekayaan misalnya: rumah, kendaraan, tempat belanja, pendidikan, jenis makanan yang sering dimakan, jenis olahraga yang dilakukan dan sebagainya. Untuk indicator rumah, bentuk pertanyaannya misalnya: 1) berapa jumlah rumah, 2) dimana letak rumah, 3) berapa luas masing-masing rumah, 4) bagaimana kualitas bangunan rumah dam sebagainya. Untuk bisa menetapkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti, maka perlu wawasan yang luas dan mendalam mengenai variabel yang diteliti dan teori-teori yang mendukungnya. Penggunaan teori untuk menyusun instrumen harus secermat mungkin agar diperoleh indikator yang valid. Caranya dapat dilakukan dengan membaca berbagai referensi (seperti buku, jurnal) membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya yang sejenis, dan konsultasi pada orang yang dipandang ahli.9 Contoh judul penelitian dan instrumen yang dikembangkan yaitu: “GAYA DAN SITUASI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH SERTA PENGARUHNYA TERHADAP IKLIM KERJA ORGANISASI SEKOLAH” Instrumennya yaitu: a) Instrumen untuk mengukur variabel gaya kepemimpinan b) Instrumen untuk mengukur variabel situasi kepemimpinan c) Istrumen untuk mengukur variabel iklim kerja organisasi 4. Validitas dan Realibilitas Instrumen Dalam hal ini perlu dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan instrumen yang valid dan reliabel. Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Kalau dalam obyek berwarna merah, sedangkan 9 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, Cet. 20, 2014), hal. 103-104
  • 13. 10 data yang terkumpul memberikan data berwarna putih maka hasil penelitian tidak valid. Selanjutnya hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Kalau dalam obyek kemarin berwarna merah, maka sekarang dan besok tetap berwarna merah. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat dugunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Alat ukur panjang dari karet adalah contoh instrumen yang tidak reliabel/konstinten. Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrument yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel. Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, otomatis hasil (data) penelitian menjadi valid dan reliabel. Hal ini masih akan dipengaruhi oleh kondisi obyek yang diteliti, dan kemampuan orang yang menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu, peneliti harus mampu mengendalikan obyek yang diteliti dan meningkatkan kemampuan dan menggunakan instrumen untuk mengukur variabel yang diteliti. Instrumen yang reliabel belum tentu valid. Meteran yang putus dibagian ujungnya, bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama (reliabel) tetapi selalu tidak valid, khal ini disebabkan karena instrumen tersebut rusak. Penjual jamu berbicara dimana-mana kalau obatnya manjur (reliabel) tetapi selalu tidak valid, karena kenyataannya jamunya tidak manjur. Reliabilitas instrumen merupakan syarat utnuk pengujian validitas instrumen. Pada dasarnya terdapat dua macam instrumen, yaitu instrumen yang berbentuk test untuk mengukur prestasi balajar dan instrumen nontest untuk
  • 14. 11 mengukur sikap. Instrumen yang berupa test jawabannya adalah “salah atau benar”, sedangkan instrumen sikap jawabannya tidak ada yang “salah atau benar”, tetapi bersifat “positif dan negatif”. Instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Instrumen yang memiliki validitas internal atau rasional, bila kriteria yang ada dalam instrumen secara rasional (teoritis) telah mencerminkan apa yang diukur. Jadi kriterianya ada di dalam instrumen itu. Instrumen yang memiliki validitas eksternal bila kriteria di dalam instrumen disusun berdasarkan fakta-fakta empiris yang telah ada. Kalau validitas internal instrumn dikembangkan menurut teori yang relevan, maka validitas eksternal instrumen dikembangkan dari fakta empiris. Misalnya akan mengukur kinerja (performance) sekelompok pegawai, maka tolak ukur (kriteria) yang digunakan didasarkan pada tolak ukur yang telah ditetapkan di kepegawaian itu. Sedangkan validitas internal dikembangkan dari teori-teori mengenai kinerja. Untuk itu penyusunan instrumen yang baik harus memperhatikan teori dan fakta di lapangan. Penelitian yang mempunyai validitas internal, bila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan dan instrumen yang digunakan. Instrumen tentang kepemimpinan akan menghasilkan data kepemimpinan bukan motivasi. Penelitian yang mempunyai validitas eksternal bila, hasil penelitian dapat diterapkan pada sampel yang lain, atau hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan. Validitas internal instrument yang berupa test harus memenuhi construct validity (validitas konstruksi) dan content validity (validitas isi). Sedangkan untuk instrumen nontest yang digunakan untuk mengukur sikap cukup memenuhi validitas konstruksi. Sutrisno Hadi (1986) menyamakan construct validity sama dengan logical validity atau validity by definition. Instrumen yang mempunyai validitas konstruksi jika instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur gejala sesuai dengan yang didefinisikan. Misalnya akan mengukur efektivitas organisasi, maka perlu didefinisikan terlebih dulu apa itu efektivitas organisasi. Setelah itu disiapkan instrumen yang digunakan untuk mengukur efektivitas organisasi sesuai dengan definisi yang telah dirumuskan itu. Untuk melahirkan definisi, maka diperlukan teori-teori. Dalam hal ini Sutrisno Hadi menyatakan
  • 15. 12 bahwa “bila bangunan teorinya sudah benar, maka hasil pengukuran dengan alat ukur (instrumen) yang berbasis pada teori itu sudah daipandang sebagai hasil yang valid.10 D. Macam-macam Skala Pengukuran Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut jika digunakan akan menghasilkan data kuantitatif. Contohnya timbangan emas sebagai instrument untuk mengukur berat emas. Macam-macam skala pengukuran dapat berupa: skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala ratio. 1. Skala Nominal Skala nominal adalah sekala yang paling sederhana, disusun menurut jenis (kategorinya) atau fungsi bilangan hanya sebagai symbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik yang lainnya. Skala nominal adalah skala yang hanya mendasarkan pada pengelompokkan atau pengkategorian peristiwa atau fakta dan apabila menggunakan notasi angka hal itu sama sekali tidak menunjukkan perbedaan kuantitatif tetapi hanya menunjukkan perbedaan kualitatif (Uhar suharsaputra, 2012:72). Adapun ciri-ciri dari skala nominal adalah: a) Kategori data bersifat mutually exclusive (saling memisah). b) Kategori data tidak mempunyai aturan yang logis (bisa sembarang). Hasil perhitungan dan tidak ditemui bilangan pecahan. Angka yang tertera hanya lebel semata. Tidak mempunyai ukuran baru. Dan tidak mempunyai nol mutlak. 2. Skala Ordinal Skala ini adalah pengukuran yang mana skala yang digunakan disusun secara runtut dari yang rendah sampai yang tinggi. Skala ordinal sekala yang diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai skala yang terendah atau sebaliknya. 10 Sugiyono, Metode Penelitian KuantitatifKualitatifdan R&D (Bandung: Alfabeta, Cet. 20, 2014), hal. 121-123
  • 16. 13 Adapun ciri-ciri dari skala ordinal antara lain : kategori data saling memisah, kategori data memiliki aturan yang logis, kategori data ditentukan skala berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang dimilikinya. 3. Skala Interval Skala interval adalah skala yang menunjukkan jarak satu data dengan data yang lain dengan bobot nilai yang sama, sementara menurut (Uhar) dalam bukunya, metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan,menjelaskan bahwa skala interval adalah skala pengukuran yang mana jarak satu tingkat dengan yang lain sama. Ciri-ciri dari skala ini menurut Uhara ada lima : a) Kategori data bersifat saling memisah. b) Kategori data memiliki aturan yang logis. c) Kategori data ditentukan sekalanya berdasarkan jumlah karaaktristik khusus yang dimilikinya. d) Perbedaan karakteristik yang sama tergambar dalam perbedaan yang sama dalam jumlah yang dikenakan pada kategori. e) Angka nol hanya menggambarkan satu titik dalam sekala (tidak punya nilai nol absolut). 4. Skala Rasio. Skala ini adalah skala interval yang benar-benar memiliki nilai nol mutlak. Dengan demikian skala rasio menunjukkan jenis pengukuran yang sangat jelas dan akurat. Skala rasio dijumpai lebih sering dalam ilmu-ilmu kealaman daripada ilmu-ilmu perilaku. Karena skala rasio memiliki nilai nol yang sesungguhnya, yakni suatu titik pada skala yang mencerminkan ketiadaan mutlak dari karakteristik-karakteristik yang diukur, rasio dapat diperbandingkan pada titik- titik yang berbeda pada skala. Jadi, 9 ohm menandakan tiga kali penolakan 3 ohm, sementara posisi 6 ohm sama dengan rasio 2 ohm. Pada sisi lain, karena skala IQ menilai inteligensi menurut skala interval, seseorang dengan IQ 120 lebih dapat diperbandingkan dengan seseorang yang memiliki IQ 100 (mereka berbeda 20 poin) daripada seseorang dengan IQ 144 dengan seseorang dengan IQ 120 (mereka berbeda 24 poin). Interval ini menandakan suatu perbedaan lebih besar
  • 17. 14 dalam kasus yang kedua, walaupun rasio antara dua perangkat skor sama (120:100 = 144:120 = 6:5). Hasil ini terjadi karena skala IQ, sebagai sebuah skala interval, tidak memilikititik nol sebenarnya; interval dari ukuran yang sama mengindikasikan perbedaan yang sama tanpa memedulikan di mana skala itu terjadi. Apakah skala IQ merupakan skala rasio atau bukan, dua pasang skor dapat diperbandingkan, karena masing-masing pasang memiliki rasio 6:5. Namun, para peneliti pendidikan jarang menggunakan skala rasio, kecuali untuk mengukur waktu.11  Skala sikap Skala ini hanya digunakan untuk mengukur sikap, perkembangan ilmu sosiologi dan pisikologi yang banyak menggunakan ini untuk khusus mengukur sikap. Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan sosial antara lain : 1. Skala Likert Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan presepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena social. Dalam penelitian, fenomena social ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variable penelitian. Dengan skala likert, maka variable yang akan diukur dijabarkan menjadi indicator variable. Kemudian indicator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrument yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain: a) Sangat Setuju, b) Setuju, c) Ragu-ragu, d) Tidak setuju, 11Aries Musnandar, Skala Pengukuran dalam Metode Kuantitatif, dalam http://old.uin- malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=4387:skala-pengukuran-dalam- metode-kuantitatif&catid=35:artikel&Itemid=210, diakses pada Sabtu, 28 Maret 2015 pukul 10.04
  • 18. 15 e) Sangat tidak setuju. Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, sebagai berikut: Jawaban Skor a. Sangat setuju 5 b. Setuju 4 c. Ragu-ragu 3 d. Tidak Setuju 2 e. Sangat Tidak Setuju 1 Instrument penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist () ataupun pilihan ganda.12 2. Skala Guttman Skala guttman menggunakan dua jawaban yang tegas dan konsisten, yaitu ya-tidak, postif-negatif, tinggi-rendah, yakin-tidak yakin, setuju-tidak setuju, dll. Skala pengukuran dengan skala ini, akan didapat jawaban yang tegas, yaitu (Ya – Tidak), (Benar – Salah), (Pernah – Tidak Pernah), (Positif – Negatif), dan lain-lain. Skala Guttman ini identik dengan dikotomi (dua alternatif). Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, sebagai berikut: Dalam skala Guttman jawaban setuju diberi skor 1 dan tidak setuju diberi skor 0. Analisanya dilakukan seperti pada skala Likert Contoh: 1. Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjadi atasan anda..?? a. Setuju b. Tidak Setuju 12 Sugiyono, Metode Penelitian KuantitatifKualitatifdan R&D (Bandung: Alfabeta, Cet. 20, 2014), hal. 93
  • 19. 16 2. Pernahkah atasan anda telat masuk kantor..?? a. Tidak Penah b. Pernah 3. Semantic Defentrial. Skala differensial digunakan untuk mengatur sikap perbedaan simantik, responden untuk menjawab pernyataan dalam satu garis kontinum yang bertentangan yaitu positif negative. Data yang diperoleh biasanya data interval yang digunakan untuk mengukur sikap seseorang atau kelompok (Iskandar, 2009:84) . Skala pengukuran yang berbentuk semantic defferensial dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist () seperti yang digunakan pada skala Likert dan skala Guttman. Semantic defferensial jawabannya tersusun dalam satu garis kontinum yang jawabannya “sangat positif” terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang “sangat negatif” terletak dibagian kiri garis, atau bisa juga sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh seseorang. Contoh: Jawaban Skor a. Setuju 1 b. Tidak Setuju 0 Jawaban Skor a. Tidak Pernah 1 b. Pernah 0
  • 20. 17 Contoh: Mohon diberi nilai gaya kepemimpinan atasan anda Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak Bersahabat Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mencela Mempercayai 5 4 3 2 1 Mendominasi Responden memberi penilaian, pada rentang jawaban yang sangat positif sampai dengan sangat negatif. Berikut interpretasi dari nilai-nilai yang diisi oleh responden: Sangat Positif = 5 Positif = 4 Netral = 3 Negatif = 2 Sangat Negatif = 1 4. Rating Scale Berdasarkan ketiga skala semua data yang diproleh adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Sedangkan rating scale adalah data mentah yang didapat berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam model rating scale responden tidak akan menjawab dari data kualitatif yang sudah tersedia, tapi menjawab dari jawaban kuantitatif, dengan demikian raing scale lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja.13 Rating scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan, dan lain-lain. Contoh: Seberapa baik ruang kantor di perusahaan ini..?? 13 Diny Sabila, Skala Pengukuran dan Instrumen Penelitian, dalam https://dinysabila.wordpress.com/2014/01/16/skala-pengukuran-dan-instrumen-penelitian/, diakses pada Sabtu, 28 Maret 2015 pukul 10.02
  • 21. 18 Berilah jawaban dengan angka: 4 bila tata ruang sangat baik 3 bila tata ruang cukup baik 2 bila tata ruang kurang baik 1 bila tata ruang sangat tidak baik Jawablah dengan melingkari nomor jawaban yang tersedia sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.14 No Item Pertanyaan tentang tata ruang kantor Interval Jawaban 1 Penataan meja dengan atasan sehingga komunikasi lancar 4 3 2 1 2 Pencahayaan alam tiap ruangan 4 3 2 1 3 Pencahayaan listrik tiap ruang sesuai dengan kebutuhan 4 3 2 1 4 Kaca yang tidak menimbulkan pantulan cahaya 4 3 2 1 5 Sirkulasi udara setiap ruangan 4 3 2 1 6 Keserasian warna perabot dengan ruangan 4 3 2 1 7 Penempatan lemari buku 4 3 2 1 8 Penempatan ruangan atasan 4 3 2 1 9 Kebersihan ruangan 4 3 2 1 10 Tempat sampah yang tersedia 4 3 2 1 14Eko Hertanto, Skala Pengukuran Dan Instrumen Untuk Penelitian Kuantitatif, dalam https://www.academia.edu/9535604/SKALA_PENGUKURAN_DAN_INSTRUMEN_UNTUK_P ENELITIAN_KUANTITATIF, diakses pada Sabtu, 28 Maret 2015 pukul 10.02
  • 22. 19 BAB III PENUTUP KESIMPULAN 1. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut 2. Sampel terbagi menjadi dua yaitu probability sampling (yang terdiri 4 macam: Simple Random Sampling; Proportionate Stratified Random Sampling; Disproportionate Stratified Random Sampling; Cluster Sampling). Dan non probability sampling (yang terdiri dari 6 macam: Sampling Sistematis; Sampling Kuota; Sampling Insidental.; Sampling Purposive; Sampling Jenuh; Snowball Sampling). 3. Instrumen Penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variable yang sedang diteliti. Fungsi dari instrumen penelitian:  Sebagai alat pencatat informasi yang disampaikan oleh responden  Sebagai alat untuk mengorganisasi proses wawancara dan  Sebagai alat evaluasi terhadap hasil penelitian dari staff peneliti 4. Macam-macam skala pengukuran dapat berupa: Skala Nominal, Skala Ordinal, Skala Interval, Dan Skala Ratio. Sedangkan jika dilihat dari Skala Sikap, skala pengukuran dapat berupa: Skala Likert ; Skala guttman ; Skala differensial (Semantic Defentrial); Rating Scale.
  • 23. 20 DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsmi. 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Hadjar, Ibnu. 1996. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hartanto, Instrumen Penelitian, dalam https://hartanto104.files.wordpress.com/2013/11/instrumen-penelitian.pdf, diakses pada Sabtu, 28 Maret 2015 pukul 10.02 Hertanto, Eko. Skala Pengukuran Dan Instrumen Untuk Penelitian Kuantitatif, dalam https://www.academia.edu/9535604/SKALA_PENGUKURAN_DAN_IN STRUMEN_UNTUK_PENELITIAN_KUANTITATIF, diakses pada Sabtu, 28 Maret 2015 pukul 10.02 Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Press. Luki Erlistina, Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif, Dalam https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/penelitian-kuantitatif- dan-kualitatif/. Di akses pada minggu 22 maret 2015 Musnandar, Aries. Skala Pengukuran dalam Metode Kuantitatif, dalam http://old.uin- malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=4387:skal a-pengukuran-dalam-metode-kuantitatif&catid=35:artikel&Itemid=210, diakses pada Sabtu, 28 Maret 2015 pukul 10.04 Ristinikov, Instrumen Penelitian, dalam http://www.scribd.com/doc/37395754/INSTRUMEN- PENELITIAN#scribd, diakses pada Senin, 30 Maret 2015 pukul 11.35 Sabila, Diny. Skala Pengukuran dan Instrumen Penelitian, dalam https://dinysabila.wordpress.com/2014/01/16/skala-pengukuran-dan- instrumen-penelitian/, diakses pada Sabtu, 28 Maret 2015 pukul 10.02 Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, Cet. 20. Suryabrata, Sumadi. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: RajaGrafindo Persada.