88
Artikel 29
“KITA YANG BERDEMOKRASI !!”
Farah Mutia
SMAN 2 Banda Aceh
Kebanyakan orang mungkin udah terbiasa sama yang n...
89
itulohh sama seperi pemilihan presiden yang lalu. Kandidat pertama terkenal sangat
tegas, disiplin, penuh dengan janji-...
of 2

Farah Mutia, SMAN 2 Banda Aceh, Pemilihan Duta Demokrasi, Sayembara Menulis Artikel Demokrasi, Dinas Pendidikan, Kemitraan, Partnership, Kedutaan Kerajaan Belanda, zainal abidin suarja, natural aceh, lembaga riset, pelatihan dan publikasi publik

Farah Mutia, SMAN 2 Banda Aceh, Pemilihan Duta Demokrasi, Sayembara Menulis Artikel Demokrasi, Dinas Pendidikan, Kemitraan, Partnership, Kedutaan Kerajaan Belanda, zainal abidin suarja, natural aceh, lembaga riset, pelatihan dan publikasi publik
Published on: Mar 3, 2016
Published in: Education      
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Farah Mutia, SMAN 2 Banda Aceh, Pemilihan Duta Demokrasi, Sayembara Menulis Artikel Demokrasi, Dinas Pendidikan, Kemitraan, Partnership, Kedutaan Kerajaan Belanda, zainal abidin suarja, natural aceh, lembaga riset, pelatihan dan publikasi publik

  • 1. 88 Artikel 29 “KITA YANG BERDEMOKRASI !!” Farah Mutia SMAN 2 Banda Aceh Kebanyakan orang mungkin udah terbiasa sama yang namanya ‘demokrasi’, eittsss tetapi faktanya ni, tidak sedikit orang yg memang sama sekali nggak tau apa itu demokrasi. Well, jangankan nggak tau ya, maksud demokrasi itu aja mereka itu belum bisa memahami. Ini ya, aku bakal jelasin ke kalian apa sih demokrasi itu. Hmmm... Well, istilah demokrasi itu berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena pada abad ke-5 SM. Demokrasi berasal dari dua kata yaitu “demos” yang berarti rakyat, dan “kratos” yang berarti pemerintahan. So bisa dibilang bahwa demokrasi sebagai pemerintah rakyat, atau yang lebih dikenalnya nih “pemerintah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Istilah diatas sama persis dengan pandangannya Abraham Lincoln , dalam artian bahwa rakyat bebas untuk melakukan segala aktifitas tanpa adanya tekanan dari pihak manapun. Gini yaa, kalo kalian masih susah ni ngecerna kata-kata diatas, aku bakal kasih sebuah contoh, baca dengan khusyukk!! . Misalnya ada belasan anak-anak yang sedang bermain di rel kereta api. Seorang anak bermain di jalur yang sudah di non-aktifkan, sedangkan belasan anak lain bermain di jalur yang masih aktif. Tiba-tiba datanglah sebuah kereta api dengan kecepatan yang sangat cepat sehinnga sulit untuk menghentikan jalannya. Nah, kalian sedang berada pas di dekat panel untuk mengarahkan kereta api tersebut. Arah tersebut hanya mengarah ke jalur yang dinon-aktifkan. Sementara jika kereta api tersebut melewati jalur yang telah di non-aktifkan, maka satu anak akan terkorbankan, dan belasan anak terselamatkan. Tetapi jika kalian tidak memindahkan panelnya, maka belasan anak tersebut akan tewas, dan pastinya hanya satu anak yang tersisa. Jadi, apa yang bakal kalian pilih?? Kalo menurut aku ya, pasti kalian bakal pilih untuk tidak memindahkan panelnya. Soalnya toh hanya satu anak yang dikorbankan. Eiitssss... tetapi, asal kalian tau aja ya, satu anak yang dikorbankan tersebut sama sekali tidak bersalah. Mengapa demikian??? Yaa soalnya dia memilih bermain di jalur yang telah di non-aktifkan, so aman dong buat dia. Tetapi kenapa harus dia yang menjadi korbannya?? Mengapa kita lebih memilih menyelamatkan orang banyak yang jelas-jelas melakukan kesalahan??. Nahh dari cerita diatas sering terjadi dikalangan masyarakat yang hanya menang dengan adanya mayoritas/minoritas. Soo, kalian semua harus lebih berhati- hati lagi dalam berdemokrasi. Jangan Cuma lihat dari ketenarannya saja, lihat juga dong dari prinsip yang ada pada diri orang tersebut. Well, aku bakal kasi kalian satu cerita lagi. Yang ini seumpama dengan kehidupan di negara kita. Indonesia tercinta. Kalian tau kan apa itu pemilu? Jelas dong. Jadi disaat pemilu diadakan, kita diharuskan untuk memilih satu pilihan diantara beberapa pilihan. So pastinya kita bakal mikir dulu ni kandidat mana yang bakal kita coblos. Misalnya terdapat 2 kandidat di dalam suatu pemilihan. Nahh
  • 2. 89 itulohh sama seperi pemilihan presiden yang lalu. Kandidat pertama terkenal sangat tegas, disiplin, penuh dengan janji-janji, pinter, dan berwibawa. Tapi apa?? Dia malah di kategorikan sebagai kandidat terburuk bagi negara. Soalnya dulunya dia adalah seorang militer yang kejam, sampai-sampai negara Amerika pun menolak bekerja sama dengan negara kita akibat ulahnya yang menentang hak asasi manusia. Nahh kalo kandidat yang kedua. Dia orangnya sihh baik, ramah, rendah hati, yaa gitu gitulahh. Dia juga dianggap orang ketiga pemimpin terbaik di dunia. Tapi.... dia sama sekali tidak tegas, wibawanya pun kurang, pengetahuannya pun tidak terlalu luas dan satu lagi , dia sangat “LOYO” . Cozz dia berasal dari kampung, jadi sifatnya merakyat. Nahh kalo kalian diwajibkan untuk memilih, maka kandidat mana yang bakal kalian pilih??. Menurut survei , masyarakat pastinya akan memilih kandidat yang kedua. Buktinyaa pak Jokowi menang kan?!. Tapi apa?? Yang ada setelah kandidat yang kedua tersebut sah menjadi pemerintah, malah banyak menimbulkan pertentangan. Yaa serupa seperti kasus biasa. Seperti kenaikan harga BBM dari Rp. 6500 menjadi Rp.8500. Justru hal ini membuat rakyat menjadi semakin terpuruk. Tujuan pemerintah untuk menaikkan harga BBM ini adalah mengalihkan subsidi ke komsumtif menjadi produktif, seperti pembangunan infrastuktur, pendidikan, dan kesehatan. Lalu.. bagaimana nasib rakyat kecil?. Tau sendiri kan bahwasannya BBM itu merupakan sumbernya. Ginilohh maksudnya kalo misalnya BBM naik, otomatis semua harga barang-barang juga bakalan naik. Terutama bahan-bahan pokok seperti beras, gula, garam, dan lainnya. Trus buat apa pajak yang ditagih dari rakyat selama ini? Buat gaji-gaji para penjabat gitu?. Nah itulah permasalahan yang ditimbulkan dari adanya demokrasi yang ujung- ujungnya rakyat deh yang kena sasarannya. Aksi demo-demo telah terjadi di berbagai daerah. Buat apa lagi coba? Tohhh dia sudah memutuskannya. Tapi bisa jadi di satu sisi dengan adanya penaikkan ini akan berdampak positif. Yaa seperti dapat melunaskan hutang negara dan lain sebagainya. Namun, dampak negatif jauh lebih banyak daripada positifnya. Lalu sekarang bagaimana? Nyesal kan? Jelas dongg. Tapi jangan salah paham dulu, Pak Presiden kita sekarang sudah mencerminkan perilaku yang baik juga. Sikap peduli terhadap rakyat kecil sudah dibuktikannya pada saat beliau menjabat sebagai gubernur. So, mulai sekarang berfikirlah yang matang, sematang-matangnya. Kalo kalian akan melakukan pemilihan, misalnya pemilihan ketua OSIS, pilihlah menurut diri kita sendiri. Menurut enaknya ajalah. Jangan ikut-ikutan sama teman. Pandangan orang itu berbeda-beda loo. So padangan kalian belum tentu sama dengan pandangan teman kalian. Truss pandangan temen kalian itu juga belum tentu benar. Jadi guys mungkin hanya ini yang dapat saya sampaikan , semoga dapat dimengerti. Juga maaf sekali jika saya menulis tidak menggunakan bahasa yang baku. Karena menurut saya bahasa yang baku terkadang sulit dipahami oleh pemuda- pemudi sekarang. Bukannya saya bertujuan untuk menenggelamkan bahasa Indonesia yang sebenarnya, tetapi ini hanya sekedar untuk penyampaian di dalam sebuah artikel dari saya.