01/01/14
Ldk Fosdik Al-Umdah Unm
Ldk Fosdik Al-Umdah Unm
42 menit yang lalu
Natalan dan Tahun Baru atau Agama Baru?
Mer...
01/01/14
https://www.facebook.com/ldkfosdik.unm?ref=notif&notif_t=friend_confirmed
Ldk Fosdik Al-Umdah Unm
2/2
of 2

Natalan dan tahun baru atau agama baru

Published on: Mar 3, 2016
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Natalan dan tahun baru atau agama baru

  • 1. 01/01/14 Ldk Fosdik Al-Umdah Unm Ldk Fosdik Al-Umdah Unm 42 menit yang lalu Natalan dan Tahun Baru atau Agama Baru? Mereka pakai topi sinterklas di hari raya mereka, itu wajar. Mereka menghias pohon cemara, itu wajar. Mereka pasang foto profil facebook dengan ucapan selamat natal, lagi-lagi itu wajar. Karena akidah mereka memang menuntut itu. Begitupun ketika mereka meniup terompet di malam tahun baru, itu wajar. Mereka menyalakan kembang api, itu wajar. Mereka saling mengucapkan selamat tahun baru, sekali lagi itu wajar. Karena itu semua bagian dari cara mereka memuliakan agamanya. Anehnya, kenapa kalian juga ikut-ikutan merayakannya. Katanya agama kalian beda, tapi kok malah ikut nimbrung di perayaan hari raya mereka. Malah nebeng di tempat peribadatan mereka. Katanya tuhan yang mereka yakini beda dengan tuhan yang kalian yakini, tapi saat mereka merayakan hari kelahiran tuhannya kalian juga ikut. Padahal masing-masing agama punya hari raya dan cara peribadatan yang berbeda. Rasulullah sejak awal sudah melarang kita merayakan hari raya ahlul kitab dan kaum musyrik. Dari Anas ra bahwa ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya (hari raya Nayruz dan Nihrajan) yang mereka rayakan, lalu beliau bersabda “Sungguh Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan Idul Fithri” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’I dengan sanad yang shahih). “Maaf, kami kan tidak merayakannya ‘Cuma’ ucapkan selamat.” Sama saja saudariku yang kucinta karena Allah, mengucapkan “selamat” berarti mengiyakan pemahaman mereka. Setiap ucapan ada konsekuensinya. Pasti kalian marah, kalau ada yang bilang tuhan yang kalian yakini dan tuhan yang mereka yakini itu sama. Atau ada yang bilang kalian termasuk dari kaum mereka, saya yakin saudariku akan tersinggung. Itu kalau masih yakin dengan kebenaran agama ini. Atau mungkin karena ikut-ikutan juga dengan pak presiden dan pak gubernur. Alhasil jadi followers sejati deh. Sana sini ngikut saja. Masih ingat kan hadist Rasulullah yang jauh-jauh hari sudah memberikan gambaran kepada kita akan kondisi kaum muslim hari ini yang mudah jadi followers orang-orang kafir. Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim) Na’udzu billah, tamparan keras harusnya untuk kita sebagai kaum muslim. Kenapa begitu bodohnya mengikut kepada mereka. Padahal ada Rasulullah SAW yang Allah SWT sudah siapkan untuk kita sebagai suri tauladan yang baik. Lalu kita mencari di tempat lain. Yang sangat jelas hanya akan mengantarkan kita kepada kediaman mereka kelak di akhirat yaitu neraka. Sungguh miris melihat kondisi umat muslim hari ini. Berada di negeri yang mayoritas muslim tapi mudah menggadaikan akidahnya dengan dalih toleransi serta kerukunan umat beragama. Mayoritas muslim memang bukalah jaminan terjaganya akidah kita. Karena hari ini agama islam tinggalah hanya sekedar symbol yang menandakan kita meyakini adanya Allah bukan lagi meyakini bahwa Allah maha pengatur. Sehingga dalam urusan akidah sekalipun kita enggan meninggalkan apa yang di larang oleh-Nya. Bahkan Rasulullah kita rela gantikan dengan rahib-rahib mereka. Sangat wajar kondisi ini kita temukan karena kita berada di masa tak ada negeri yang menerapkan hukum-hukum Allah. Tidak ada lagi institusi seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat yaitu Khilafah Islamiyah yang melindungi akidah umat ini. Ketika ada hal yang bisa membahayakan akidah umat, Daulah turun tangan mencegahnya. Tapi kini yang kita dapatkan bahkan pemimpin yang katanya beragama islam acuh tak acuh mencegah bahkan ikut melakukan penyesatan akidah umat. Sudah saatnya kita bangun dari tidur kita yang sangat panjang. Semakin gigih menjelaskan kepada umat untuk mengambil syariat islam sebagai aturan hidup baik tataran individu, masyarakat maupun Negara. Dan, menyerukan aturan tersebut diterapkan dalam naungan institusi resmi yaitu daulah Khilafah Islamiyah. Bukan demokrasi serta konco-konconya yang jelas lahir dari rahim akidah yang tidak shahih. Sekali lagi hanya dengan syariah dan khilafah akidah umat islam akan terjaga sekaligus toleransi yang hakiki dapat dirasakan oleh umat non muslim. Wallahu a’lam. https://www.facebook.com/ldkfosdik.unm?ref=notif&notif_t=friend_confirmed 1/2
  • 2. 01/01/14 https://www.facebook.com/ldkfosdik.unm?ref=notif&notif_t=friend_confirmed Ldk Fosdik Al-Umdah Unm 2/2

Related Documents