Tafsir Ayat-ayat Sufistik
1
Pribadi yang Bersyukur
PRIBADI YANG BERSYUKUR
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah ...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
2
Pribadi yang Bersyukur
I. PENDAHULUAN
Sepanjang hari, nikmat dan anugrah Allah Swt. Kita perol...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
3
Pribadi yang Bersyukur
maksut dari keharusan bersyukur tersebut, maka akan terasa nikmat tiada...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
4
Pribadi yang Bersyukur
“Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi ora...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
5
Pribadi yang Bersyukur
Dengan demikian diketahui bahwa ayat yang berkenaan dengan pengertian
s...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
6
Pribadi yang Bersyukur
Ayat ini tergolong surah Makkiyah yang tidak ditemukan asbab al-Nuzul,
...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
7
Pribadi yang Bersyukur
Sementara itu Ibn Katsir memberikan arti dari kata asy-syukur adalah
be...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
8
Pribadi yang Bersyukur
dadlam ayat tersebut pada dasarnya adalah lafal yang berbunyi ( ) Menur...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
9
Pribadi yang Bersyukur
orang lain hidup dalam kesulitan. Dengan demikian akan muncul perasaan
...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
10
Pribadi yang Bersyukur
hendak dicegah dari diri kita. Karena itu, bersyukur adalah salah satu...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
11
Pribadi yang Bersyukur
Hanya orang yang mau bersyukur yang bisa melakukan upaya
memperbaiki d...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
12
Pribadi yang Bersyukur
Dapat dipahami bahwa syukur adalah bersyukur atas segala nikmat Tuhan-...
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
13
Pribadi yang Bersyukur
Tafsir Ayat-ayat Sufistik
14
Pribadi yang Bersyukur
DAFTAR PUSTAKA
Al-Dimasyqi, Abu al-Fida Ismail Ibn Katsir al-Quraisyi,...
of 14

Pribadi yang bersyukur (Makalah)

Manusia diperintahkan bersyukur kepada Allah Swt. bukanlah untuk kepentingan Allah itu sendiri, karena Allah Swt. ghaniyun ‘anil ‘alamin (tidak memerlukan apa-apa dari alam semesta), tapi justru untuk kepentingan manusia itu sendiri. Karena manusia membutuhkan aturan agar kehidupan bisa berjalan dengan baik. Karena itu, Allah Swt. yang menciptakan manusia lebih tahu peraturan seperti apa yang tepat untuk manusia.
Published on: Mar 4, 2016
Published in: Education      
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Pribadi yang bersyukur (Makalah)

  • 1. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 1 Pribadi yang Bersyukur PRIBADI YANG BERSYUKUR MAKALAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Tafsir Ayat-ayat Sufistik Dosen Pengampu : Dr. H. Hasyim Muhammad, M. Ag. Disusun Oleh : Roinal Rois Al Kalim (124411042) JURUSAN TASAWUF DAN PSIKOTERAPI FAKULTAS USHULUDDIN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2013
  • 2. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 2 Pribadi yang Bersyukur I. PENDAHULUAN Sepanjang hari, nikmat dan anugrah Allah Swt. Kita peroleh. Marilah kita lihat diri kita sendiri secara fisik. Kita diberi indra yang begitu lengkapnya yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pernapasan, danperasa. Yang memungkinkan kita mengecap segala bentuk nikmat duniawi yang enak-enak dan indah. Atau mari kita lihat sekeliling kita, sinar mentari yang hangat dan tidak pernah lelah membagicerah cayaha, air dan udara yang begitu segar, pepohonan sebagai tempat berteduh, semua itu disediakan Allah Swt. untuk kita, tanpa membayar. Itulah sebab Rasulullah Saw. Menganjurkan agar kita beribadah sebanyak mungkin, sebagai ungkapan syukur kitakepada-Nya, atas nikmat pemberian-Nya. Ibadah kita kepada-Nya semata-mata berpangkal dari kesadaran kita sendiri, yakni kesadaran tentang keharusan untuk bersyukur kepada-Nya karena telah memberi kita begitu banyak nikmat. Begitu pentingnya bersyukur, sehingga Allah Swt. memerintahkan kaum Muslimin untuk bersyukur kepada-Nya. Firman-Nya : (Al-baqarah : 152)    Manusia diperintahkan bersyukur kepada Allah Swt. bukanlah untuk kepentingan Allah itu sendiri, karena Allah Swt. ghaniyun „anil „alamin (tidak memerlukan apa-apa dari alam semesta), tapi justru untuk kepentingan manusia itu sendiri. Karena manusia membutuhkan aturan agar kehidupan bisa berjalan dengan baik. Karena itu, Allah Swt. yang menciptakan manusia lebih tahu peraturan seperti apa yang tepat untuk manusia. Dan ketika Allah Swt. memerintahkan untuk bersukur, kita harus terlebih dahulu tahu syukur yang bagaimanakah atau jika kita belum tahu apa itu syukur, kita pahami lebih lanjut kejelasan syukur yang dimaksut. Ketika kita faham apa
  • 3. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 3 Pribadi yang Bersyukur maksut dari keharusan bersyukur tersebut, maka akan terasa nikmat tiada tara dari Allah Swt. yang begitu luar biasa. Tidak ada kejelekan lagi dari Allah Swt. di mata hamba-hamba-Nya. II. RUMUSAN MASALAH A. Apa Pengertian Syukur? B. Bagaimanakah Cara Kita Mensyukuri Nikmat dan Karunia Allah? C. Apa Hikmah Bagi Orang-orang yang Mau Bersukur? D. Apa Sebab Orang Kurang Bersyukur? III. PEMBAHASAN A. Pengertian Syukur Secara etimologi (bahasa) kata syukur diambil dari kata syakara, syukuran, wa syukuran, dan wa syukuran yang berarti berterima kasih keapda- Nya.Bila disebut kata asy-syukru, maka artinya ucapan terimakasih, syukranlaka artinya berterimakasih bagimu, asy-syukru artinya berterimakasih, asy-syakir artinya yang banyak berterima kasih.1 Kata syukur bisa juga di artikan, suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala nikmat-Nya, baik diekspresikan dengan lisan, dimantapkan dengan hati maupun dilaksanakan melalui perbuatan.2 Ada tiga ayat dalam Al-Qur‟an yang dikemukakan tentang pengertian syukur ini, yaitu sebagai berikut disertai penafsirannya masing-masing. 1. Surah Al-Furqaan ayat 62 1 Ahmad Warson al-Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab – Indonesia, Surabaya: Pustaka Progesif, 1984, h. 785-786. 2 Basri Iba Asghari, Solusi Alquran – Problematika Sosial, politik, dan Budaya, Cet. I., Jakarta: Rinekea Cipta, 1994, h. 68.
  • 4. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 4 Pribadi yang Bersyukur “Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al- Furqan: 62). Ayat ini tergolong Makkiyah dan tidak ditemukan sebab turunnya (asbab al-nuzul), ayat ini ada hubungannya dengan ayat sebelumnya bahwa Allah telah membeberkan beberapa dalil tauhid dan menunjuk kepada beberapa tanda-tanda kebesaran dan bukti yang ada di dalam alam yang membuktikan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Kemudian Allah kembali menjelaskan perkataan dan perbuatan mereka yang keji. Karena, sekalipun mereka telah menyaksikan segala bukti, namun mereka tidak meninggalkan perbuatan sesatnya malah berpaling dari mengingat Tuhan, sehingga hanya kalau disembah dan tidak dapat mendatangkan azab kalau tidak disembah. Di samping itu, mereka membantu para penolong, setan dan menjauhi para penolong ar-Rahman. Jika kau heran terhadap sesuatu, maka heranlah terhadap perkara mereka, karena kejahilannya telah sampai kepada membahayakan orang yang datang untuk memberikan kabar gemberia tentang kebaikan yang meyeluruh jika mreka menaati Tuhan, dan mengingatkan mereka dari malapetaka dan kebinasaan jika mereka mengingkari-Nya. Lebih dari itu, rasul tidak mengharapkan imbalan dari dakwah itu. Allah juga memerintahkan kepada rasulnya agar tidak takut terhadap ancaman dan siksaan mereka, tetapi hendaknya beliau bertawakkal kepada Tuhan, bertasbih seraya memuji-Nya. Ayat ini ditafsirkan oleh al-Maragi sebagai berikut bahwa Allah telah menjadikan malam dan siang silih berganti, agar hal itu dijadikan pelajaran bagi orang yang hendak mengamil pelajaran dari pergantian keduanya, dan berpikir tentang ciptaan-Nya, serta mensyukuri nikmat tuhannya untuk memperoleh buah dari keduanya. Sebab, jika dia hanya memusatkan kehidupan akhirat maka dia akan kehilangan waktu untuk melakukan-Nya.
  • 5. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 5 Pribadi yang Bersyukur Dengan demikian diketahui bahwa ayat yang berkenaan dengan pengertian syukur dalam ayat tersebut pada dasarnya adalah lafal yang berbunyi ( ) Jadi arti syukur menurut al-Maragi adalah mensyukuri nikmat Tuhan-Nya dan berpikir tentang cipataan-Nya dengan mengingat limpahan karunia-Nya.3 Penafsiran senada dikemukakan Jalal al-Din Muhammad Ibn Ahmad al- Mahalliy dan Jalal al-Din Abd Rahman Abi Bakr al-Suyutiy dengan menambahkan bahwa syukur adalah bersyukur atas segala nikmat Rabb yang telah dilimpahkan-Nya pada waktu itu.4 Departemen Agama RI juga memaparkan demikian, bahwa syukur adalah bersyukur atas segala nikmat Allah dengan jalan mengingat-Nya dan memikirkan tentang ciptaan-Nya.5 Jadi, dapat dipahami bahwa syukur adalah bersyukur atas segala nikmat Tuhan-Nya dengan mengingat dan berpikir tentang ciptaan-Nya. 2. Surah Saba‟ ayat 13 “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung- gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”. (QS. Saba: 13). 3 Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Jilid VII., Beirut: Dar al-Firk, t.th, h. 28. 4 Jalal al-Din Muhammad Ibn Ahmad al-Mahalliy dan Jalal al-Din Abd al-Rahman Ibn Abi Bakr al- Suyuty, Tafsir Alquran al-Azim, Libanon: Dar al-Fikr, 1991, h. 266. 5 Departemen Agama RI, Alquran dan Tafsirnya, Jakarta: Ferlia Citra Utama, 1996/1997, jilid VII, h. 39.
  • 6. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 6 Pribadi yang Bersyukur Ayat ini tergolong surah Makkiyah yang tidak ditemukan asbab al-Nuzul, ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyebut-nyebut apa yang pernah Dia anugrahkan kepada Sulaiman as,. Yaitu mereka melaksanakan perintah Sulaiman as untuk membuat istana-istana yang megah dan patung-patung yang beragam tembaga, kaca dan pualam. Juga piring-piring besar yang cukup untuk sepuluh orang dan tetap pada tempatnya, tidak berpindah tempat. Allah berkata kepada mereka “agar mensyukuri-Nya atas segala nikmat yang telah Dia limpahkan kepada kalian”. Syukur itu bisa berupa perbuatan begitu pula bisa berupa perkataan dan bisa pula berupa niat, sebagaimana dikatakan: Kemudian Dia menyebutkan tentang sebab mereka diperintahkan bersyukur yaitu dikarenakan sedikit dari hamba-hamba-Nya yang patuh sebagai rasa syukur atas nikmat Allah swt dengan menggunakan nikmat tersebut sesuai kehendak-Nya.6 Syukur itu bisa berupa perbuatan begitu pula bisa berupa perkataan dan bisa pula berupa niat, sebagaimana dikatakan:Kemudian Dia menyebutkan tentang sebab mereka diperintahkan bersyukur yaitu dikarenakan sedikit dari hamba-hamba-Nya yang patuh sebagai rasa syukur atas nikmat Allah swt dengan menggunakan nikmat tersebut sesuai kehendak-Nya. Menurut al-Maragi arti kata asy-Syukur di atas adalah orang yang berusaha untuk bersyukur. Hati dan lidahnya serta seluruh anggota tubuhnya sibuk dengan rasa syukur dalam bentuk pengakuan, keyakinan dan perbuatan.Dan ada pula yang menyatakan asy-syukur adalah orang yang melihat kelemahan dirinya sendiri untuk bersyukur.7 6 Ahmad Mustafa al-Maragi, Op.cit, Jilid VII, h. 67. 7 Ibid.
  • 7. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 7 Pribadi yang Bersyukur Sementara itu Ibn Katsir memberikan arti dari kata asy-syukur adalah berterima kasih atas segala pemberian dari Tuhan yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang.8 Penafsiran yang senada dikemukakan oleh Jalal al-Din Muhammad Ibn Ahmad al-Mahalliy dan Jalal al-Din Abd al-Rahman Ibn Abi Bakr al-Suyutiy dengan menambahkan bahwa rasa syukurnya itu dilakukan dengan taat menjalankan perintah-Nya.9 Jadi, dapat dipahami bahwa syukur adalah berterima kasih dengan bersyukur atas segala nikmat yang dilimpahkan-Nya dengan rasa syukur dalam bentuk pengakuan, keyakinan dan perbuatan. 3. Surah Al-Insaan ayat 9 “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (QS. Al-Insaan: 9) Ayat ini tergolong Madaniyah dan tidak ditemukan sebab turunnya (asbab al-nuzul), ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak meminta dan mengharapkan dari kalian balasan dan lain-lainnya yang mengurangi pahala, kemudian Allah memperkuat dan menjelaskan lagi bahwa Dia tidak mengharapkan balasan dari Hamba-Nya, dan tidak pula meminta agar kalian berterimakasih kepada-Ku, dengan demikian diketahui bahwa ayat yang ada kaitannya dengan arti syukur 8 Abu al-Fida Ismail Ibn Katsir al-Quraisyi al-Dimasyqi, Tafsir Alquran al-Azim, Jilid III., Kairo: Dar al- Hadis, 1414 H/1993 M, h. 507. 9 Jala al-Din Muhammad Ibn Ahma al-Mahalliy dan Jalal al-Din Abd al-Rahman Ibn Abi Bakr al- Suyutiy, Op.cit, h. 309.
  • 8. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 8 Pribadi yang Bersyukur dadlam ayat tersebut pada dasarnya adalah lafal yang berbunyi ( ) Menurut al- Maragi arti kata syukur ini adalah berterimakasih kepada Allah swt.10 ` Hal senada dikemukakan oleh Jalal al-Din Muhammad Ibn Ahmad al- Mahalliy dan Jalal al-Din „Abd ar-Rahman Abi Bakr al-Suyutiy, syukur adalah berterimakasih kepada Allah swt atas segala nikmat-Nya. Apakah mereka benar- benar mengucapkan hal yang demikian ataukah hal itu telah diketahui oleh Allah swt, kemudian Dia memuji kalian, sesungguhnya dengan masalah ini ada dua pendapat.11 Berdasarkan penafsiran keempat mufasir di atas maka dapat disimpulkan bahwa syukur adalah berterimakasih kepada Allah swt atas segala nikmat-Nya. Demikianlah uraian tentang pengertian syukur dalam Alquran dengan melihat beberapa penafsiran mufasir terhadap ayat yang telah ditentukan sebelumnya. B. Cara Mensyukuri Nikmat dan Karunia Allah Manfaat syukur akan menguntungkan pelakunya. Allah Swt. tidak akan memperoleh keuntungan atas syukur hamba-Nya dan tidak akan rugi atau berkurang keagungan-Nya apabila hamba-Nya kufur. Adapun cara mensyukuri nikmat dan karunia Allah Swt., yaitu : 1. Syukr al-Qalb (Syukur dengan Hati) Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugrah dan pemberian Allah Swt.. Keyakinan ini membuat sesorang tidak merasa keberatan betapapun kecil dan sedikit nikmat Allah yang diperolehnya. Misalnya dulu tidak punya apa-apa sekarang punya kekayaan, dulu tidak bekerja sekarang dapat pekerjaan, dulu sakit-sakitan sekarang ada dalam kesehatan, kita cukup sandang dan pangan sementara 10 Ahmad Mustafa al-Maragi, op.cit, Jilid IV, h. 455. 11 Jalal al-Din Muhammad Ibn Ahmad al-Mahalliy dan Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman Abi Bakr al- Suyutiy, op.cit, h. 423.
  • 9. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 9 Pribadi yang Bersyukur orang lain hidup dalam kesulitan. Dengan demikian akan muncul perasaan hati untuk lebih bersyukur kepada pemberi ni‟mat. 2. Syukr al-Lisân (Syukur dengan lisan) Mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Allah Swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Allah Swt. Melalui ucpan Alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah Swt. 3. Syukr sâiri al-Jawârih (Syukur dengan perbuatan) Yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif. Hal ini menggunakan nikmat Allah Swt. Pada jalan dan perbuatan yang diridhai-Nya.12 Sebagai contoh, seseorang yang mendapatkan kenikmatan yang banyak berupa uang, selain kepentingan diri dan keluarganya, dana itu juga digunakan untuk kepentingan orang lain seperti membangun masjid, sarana pendidikan, perbaikan jalan, memberikan beasiswa, mengatasi kemiskinan dan berbagai kemaslahatan lainnya yang menghantarkan masyarakat pada kesejahteraan hidup. Inilah sebagian contoh bersyukur dengan perbuatan/amal baik. Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap muslim. Sikap seperti inilah yang mengingatkan untuk berterimakasih kepada pemberi nikmat (Allah Swt.) dan perantara nikmat yang diperolehnya. Dengan bersyukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah Swt. yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik. C. Hikmah Bagi Orang-orang yang Mau Bersukur Ketika Allah memerintahkan sesuatu kepada kita, pasti ada kebenaran yang akan diwujudkan, dan ketika Dia melarang, pasti ada keburukan yang 12 Abdul Halim Fathani, Ensiklopedi Hikmah (Memetik Buah Kehidupan di Kebun Hikmah), Jogjakarta: Darul Hikmah, 2008, h. 735.
  • 10. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 10 Pribadi yang Bersyukur hendak dicegah dari diri kita. Karena itu, bersyukur adalah salah satu yang diperintahkan Allah Swt. akan memberi manfaat bagi kita. Dalam firman-Nya surah Ibrahim ayat 7 ditegaskan,     Dalam ayat tersebut mengemukakan bahwa ada dua prinsip bersyukur : Pertama, bukti bagi lurusnya barometer keimanan dalam jiwa manusia. Kedua, jiwa yang bersyukur akan selalu melakukan muraaqabah (mendekatkan diri kepada Allah Swt.) dalam mendayagunakan nikmat yang diberikannya itu.13 Seperti prinsip bersyukur di atas bisa memberikan empat manfaat yang penting bagi kehidupan seorang muslim, yaitu: a. Menyucikan Jiwa Bersyukur akan membuat seorang muslim dapat menjaga kesucian jiwanya. b. Mendorong Jiwa untuk Beramal Saleh Bersyukur yang harus ditunjukkan dengan amal saleh membuat seorang muslim selalu terdorong untuk memanfaatkan apa yang diperolehnya untuk berbagai kebaikan. c. Menjadikan Orang Lain Ridha Dengan bersyukur apa yang diperolehnya akan berguna bagi orang lain dan membuat orang lain ridha kepada-Nya. d. Memperbaiki dan Memperlancar Interaksi Sosial 13 Drs. H. Ahmad Yani, Be Excellent: Menjadi Pribadi Terpuji, Cet. 1., Jakarta: Al Qalam, 2007, h. 251.
  • 11. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 11 Pribadi yang Bersyukur Hanya orang yang mau bersyukur yang bisa melakukan upaya memperbaiki dan memperlancar hubungan sosial, karena dia tidak ingin menikmati sendiri apa yang telah diperolehnya.14 Dari uraian di atas tampak bahwa bersyukur merupakan hal yang paling penting bagi kita dalam kehidupan di dunia ini yang berdampak positif dalam kehidupan di akhirat nanti. D. Sebab Orang Kurang Bersyukur Syukur pada hakikatnya merupakan konsekuensi logis bagi manusia sebagai makhluk kepada Allah Swt. Sebagai Tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai nikmat. Namun, kerap kali manusia terlupa dan tidak bersukur atas karunia-Nya. Karena itu, ketidak syukuran manusia itu disebabkan oleh tiga hal. 1. Salah melakukan ukuran /menilai Selalu mengukur suatu nikmat dari Allah Swt. Itu dengan ukuran keinginannya.15 Jika keinginannya dipenuhi, ia akan mudah untuk bersyukur. Sebaliknya, jika belum dikabulkan, ia akan enggan untuk bersyukur. 2. Selalu melihat kepada orang lain yang diberikan lebih banyak nikmat Perilaku ini hanya menyuburkan iri, hasad, dan dengki kepada orang lain.16 Sedangkan perilaku bagi orang yang beriman haruslah melihat kepada orang yang kurang beruntung. 3. Menganggap apa yang didapati dari nikmat Allah Swt. Adalah hasil usahanya Perilaku ini menumbuhkan sifat kikir dan melupakan Allah Swt. Sebagai pemberi nikmat tersebut.17 Padahal tidak ada satu nikmat pun yang datang sendirinya, melainkan Allah Swt. yang telah mengatur semuanya. IV. KESIMPULAN 14 Ibid., h. 251-252. 15 Abdul Halim Fathani, op.cit, h. 732. 16 Ibid., h. 733 17 Ibid.
  • 12. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 12 Pribadi yang Bersyukur Dapat dipahami bahwa syukur adalah bersyukur atas segala nikmat Tuhan- Nya dengan mengingat dan berpikir tentang ciptaan-Nya. Atau berterima kasih dengan bersyukur atas segala nikmat yang dilimpahkan-Nya dengan rasa syukur dalam bentuk pengakuan, keyakinan dan perbuatan. Adapun cara mensyukuri nikmat dan karunia Allah Swt., yaitu :  Syukur dengan Hati  Syukur dengan lisan  Syukur dengan perbuatan Dan adapun hikmah atau manfaat yang dapat diambil untuk kebutuhan kita sendiri antara lain :  Dapat Menyucikan Jiwa  Dapat Mendorong Jiwa untuk Beramal Saleh  Dapat Menjadikan Orang Lain Ridha  Dapat Memperbaiki dan Memperlancar Interaksi Sosial Namun, ada faktor yang mempengaruhi yang menjadikan ketidaksyukuran tersebut, yaitu :  Salah melakukan ukuran /menilai  Selalu melihat kepada orang lain yang diberikan lebih banyak nikmat  Menganggap apa yang didapati dari nikmat Allah Swt. Adalah hasil usahanya Jadi, seluruh kebaikan yang dilakukan atas dasar karena Allâh itu adalah syukur. V. PENUTUP Demikianlah, makalah yang saya paparkan serta masih jauh dari kata baik.Oleh sebab itu, masukan dari berbagai pihak sangatlah saya harapkan, untuk memperkaya materi dan memperdalam pemahaman.Tak lupa ucapan ma‟af dan terima kasih saya haturkan dengan sepenuh hati kepada semua pihak atas kerjasama di dalam pembuatan maupun penyampaian materi ini. Ihdina al- Shirathal Mustaqim..Wallahu A‟lamu Bi al-Shawab.
  • 13. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 13 Pribadi yang Bersyukur
  • 14. Tafsir Ayat-ayat Sufistik 14 Pribadi yang Bersyukur DAFTAR PUSTAKA Al-Dimasyqi, Abu al-Fida Ismail Ibn Katsir al-Quraisyi, Tafsir Alquran al-Azim, Jilid III., Kairo: Dar al-Hadis, 1414 H/1993 M. Al-Mahalliy, Jalal al-Din Muhammad Ibn Ahmad dan Al-Suyuty, Jalal al-Din Abd al-Rahman Ibn Abi Bakr, Tafsir Alquran al-Azim, Libanon: Dar al- Fikr, 1991. Al-Maragi, Ahmad Mustafa, Tafsir al-Maragi, Jilid IV., Beirut: Dar al-Firk, t.th. Al-Maragi, Ahmad Mustafa, Tafsir al-Maragi, Jilid VII., Beirut: Dar al-Firk, t.th. Al-Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir Arab – Indonesia, Surabaya: Pustaka Progesif, 1984. Asghari, Basri Iba, Solusi Alquran – Problematika Sosial, politik, dan Budaya, Cet. I., Jakarta: Rinekea Cipta, 1994. Departemen Agama RI, Alquran dan Tafsirnya, Jakarta, Ferlia Citra Utama, 1996/1997. Fathani, Abdul Halim, Ensiklopedi Hikmah (Memetik Buah Kehidupan di Kebun Hikmah), Jogjakarta: Darul Hikmah, 2008. Yani, Ahmad, Be Excellent: Menjadi Pribadi Terpuji, Cet. 1., Jakarta: Al Qalam, 2007.