R A T I H A R Y A N I , M . F a r m . , A p t
S T I K E S B T H T A S I K M A L A Y A
NANOPARTIKEL
Pendahuluan
 Nanopartikel merupakan partikel koloid kecil yang dibuat dari
polimer non-biodegradabel dan biodegradabel.
...
Nanopartikel
 Nanopartikel dapat mencapai target jaringan beberapa obat
(antibiotik, sitostatik, peptida, dan protein)
 ...
Nanopartikel Suspensi dan Pengendapan
 Karena ukuran nanopartikel yang kecil, maka cukup mudah untuk menjaga
partikel-par...
Nanoemulsi
 Nanoemulsi merupakan dispersi minyak dan air yang
transparan stabil (translucent) secara termodinamika yang
d...
Teknik Pembuatan Nanopartikel
Karakterisasi nanomaterial
 Karakterisasi SEM
 KarakterisasiTEM
 KarakterisasiAFM
 Karakterisasi sinar –X
 Karakteris...
Karakterisasi SEM
 SEM (Scanning Electron Microscope) merupakan salah satu
jenis mikroskop elektron yang menggunakan berk...
Penentuan distribusi ukuran partikel
 Ketika kita amati foto SEM untuk sampel partikel, tampak bahwa
ukuran partikel berv...
Penentuan distribusi ukuran partikel
 Secara umum, ukuran partikel yang kita buat hampir
dipastikan polidispersi.
 Ketik...
Karakterisasi TEM
 Transmission Elekctron Microscope (TEM) merupakan alat
yang paling teliti yang digunakan untuk menentu...
Karakterisasi AFM
 Atomic Force Microscope (AFM), termasuk mikroskop
canggih yang sederhana pengoperasiannya.
 Prisnsip ...
Karakterisasi Sinar X
 Sinar X adalah gelombang elektromagnetik dengan
panjang gelombang sekitar 1 Ao (10-10 m).
 Panjan...
Karakterisasi DMA
 Differential Mobility Analyzer (DMA) merupakan alat yang dapat
digunkan untuk menentukan distribusi uk...
Karakterisasi DMA
 Kedua gaya tersebut pada akhirnya mencapai keseimbangan dan
partikel selanjutnya bergerak dengan kecep...
Nanopartikel
Nanopartikel
Nanopartikel
Nanopartikel
Nanopartikel
Nanopartikel
Nanopartikel
Nanopartikel
Nanopartikel
of 24

Nanopartikel

materi perkuliahan
Published on: Mar 3, 2016
Published in: Education      
Source: www.slideshare.net


Transcripts - Nanopartikel

  • 1. R A T I H A R Y A N I , M . F a r m . , A p t S T I K E S B T H T A S I K M A L A Y A NANOPARTIKEL
  • 2. Pendahuluan  Nanopartikel merupakan partikel koloid kecil yang dibuat dari polimer non-biodegradabel dan biodegradabel.  Diameternya umumnya sekitar 200 nm.  Secara umum nanopartikel dapat dibedakan menjadi dua tipe:  nanospheres, yang merupakan sistem matriks  nanocapsules, yang merupakan sistem reservoir terdiri dari membran polimer yang mengelilingi suatu inti berminyak atau berair
  • 3. Nanopartikel  Nanopartikel dapat mencapai target jaringan beberapa obat (antibiotik, sitostatik, peptida, dan protein)  Selain itu, nanopartikel dapat melindungi obat terhadap degradaasi kimia dan enzimatik, serta dapat menurunkan efek samping beberapa obat.  Nanopartikel dapat menunjukkan sifat adhesi yang kuat karena meningkatnya daerah kontak untuk gaya van derWaals  Jumlah molekul yang ada pada permukaan partikel meningkat seiring menurunnya ukuran partikel
  • 4. Nanopartikel Suspensi dan Pengendapan  Karena ukuran nanopartikel yang kecil, maka cukup mudah untuk menjaga partikel-partikel tersebut tersuspensi dalam cairan  Mikropartikel akan lebih mudah mengendap karena gaya gravitasi, dimana gaya gravitasi karena gaya gravitasi, dimana gaya gravitasi lebih kecil ditemukan pada suatu nanopartikel  Untuk nanopartikel, gaya gravitasinya tidak sekuat gerakan randomnya. Oleh karena itu, suspensi nanopartikel tidak mengendap, yang akan memberikan waktu tinggal lama  a microparticle suspension cannot be used for injection
  • 5. Nanoemulsi  Nanoemulsi merupakan dispersi minyak dan air yang transparan stabil (translucent) secara termodinamika yang distabilkan oleh suatu lapisan antarpermukaan molekul surfaktan dan kosurfaktan yang mempunyai ukuran droplet kosurfaktan yang mempunyai ukuran droplet kurang dari 100 nm.  Beberapa studi menunjukkan bahwa formulasi nanoemulsi memperbaiki kemampuan in vitro penghantaran transdermal dan dermal, sama baiknya dengan in vivo jika dibandingkan dengan formulasi topikal konvensional seperti emulsi.
  • 6. Teknik Pembuatan Nanopartikel
  • 7. Karakterisasi nanomaterial  Karakterisasi SEM  KarakterisasiTEM  KarakterisasiAFM  Karakterisasi sinar –X  Karakterisasi DMA
  • 8. Karakterisasi SEM  SEM (Scanning Electron Microscope) merupakan salah satu jenis mikroskop elektron yang menggunakan berkas elektron untuk menggambar profil permukaan benda.  Prinsip kerja SEM adalah menembakkan permukaan benda dengan berkas elektron berenergi tinggi. Permukaan benda yang dikenai berkas elektron akan akan memantulkan kembali berkas tersebut atau menghasilkan elektron skunder ke segala arah.  Tetapi ada satu arah di mana berkas dipantulkan dengan intensitas tertinggi.
  • 9. Penentuan distribusi ukuran partikel  Ketika kita amati foto SEM untuk sampel partikel, tampak bahwa ukuran partikel bervariasi dari yang sangat kecil hingga yang cukup besar.  Hampir tidak mungkin membuat partikel dengan ukuran seragam (monodispersi)  Ketika para ahli mengatakan berhasil membuat partikel monodispersi, yang mereka buat sebenarnya adalah partikel polidispersi tetapi sebaran ukuran partikelnya sangat sempit.
  • 10. Penentuan distribusi ukuran partikel  Secara umum, ukuran partikel yang kita buat hampir dipastikan polidispersi.  Ketika berhadapan dengan partikel demikian, pertanyaan menarik selanjutnya adalah bagaimana distribusi ukuran, berapa ukuran rata-rata, berapa deviasi standarnya, berapa % partikel yang ukurannya antara satu nilai diamter ke nilai diameter lainnya.  Informasi-informasi ini sangat penting karena ketika ukuran berada dalam orde nanometer, sifat partikel sangat ditentukan oleh ukuran dan distribusi ukuran.  Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah menggunakan foto SEM dari partikel-partikel tersebut.
  • 11. Karakterisasi TEM  Transmission Elekctron Microscope (TEM) merupakan alat yang paling teliti yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel karena resolusinya yang sangat tinggi.  Partikel dengan ukuran beberapa nanometer dapat diamati dengan jelas menggunakan TEM. Bahkan dengan high resolution TEM (HR-TEM) kita dapat mengamati posisi atom-atom dalam partikel.  Dalam pengoperasian TEM, salah satu tahap yang paling sulit dilakukan adalah mempersiapkan sampel. Sampel harus setipis mungkin sehingga dapat ditembus elektron.
  • 12. Karakterisasi AFM  Atomic Force Microscope (AFM), termasuk mikroskop canggih yang sederhana pengoperasiannya.  Prisnsip kerja AFM sangat sederhana dan dapat dipahami hanya dengan konsep fisika dasar.  AFM tidak memerlukan sistem vakum, tegangan tinggi, maupun fasilitas pendingin (cryogenic) seperti pada SEM dan TEM
  • 13. Karakterisasi Sinar X  Sinar X adalah gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang sekitar 1 Ao (10-10 m).  Panjang gelombang ini kira-kira = jarak antara atom dalam kristal.  Oleh karena itu sinar X dapat didifraksikan oleh atom- atom dalam material berbentuk kristal.  Dengan mengamati pola difraksi sinar X yang dihasilkan suatu material maka struktur kristal material tersebut dapat ditentukan.
  • 14. Karakterisasi DMA  Differential Mobility Analyzer (DMA) merupakan alat yang dapat digunkan untuk menentukan distribusi ukuran partikel aerosol (partikel udara).  DMA dapat digunkana untuk mengukur distribusi partikel dari ukuran sekitar 2 mm hingga ratusan nanometer.  Prinsip kerja DMA adalah memberi muatan pada partikel aerosol kemudian memasukan ke dalam ruang yang mengandung medan listrik. Partikel kemudian mendapat gaya listrik akibat adanya muatan.  Gaya tersebut menimbulkan kecepatan dalam arah sejajar medan yang berimplikasi pada munculnya gaya gesekan oleh udara (gaya stokes) akibat adanya viskositas udara.
  • 15. Karakterisasi DMA  Kedua gaya tersebut pada akhirnya mencapai keseimbangan dan partikel selanjutnya bergerak dengan kecepatan konstan (terminal) dalam arah sejajar medan.  Besar kecepatan terminal partikel bergantung pada mobilitas partikel tersebut.  DMA membedakan partikel berdasarlan mobilitasnya.  Jika semua partikel memiliki muatan yang sama, maka mobilitas menentukan ukuran partikel. Dengan demikian, pada akhirnya DMA dapat digunkan untuk menentukan distribusi ukuran partikel aerosol.